Siapa Sebenarnya Jenderal Polisi Idham Azis? Ini Jejak Karier dari SD hingga Jadi Kapolri
Keesokan harinya, Idham terbang dari Surabaya menuju Palu dan tiba di Poso pada sore harinya untuk langsung bergabung dengan Tito Karnavian ...
Siapa Sebenarnya Jenderal Polisi Idham Azis? Ini Jejak Karier dari SD hingga Jadi Kapolri
TRIBUNJAMBI.COM - Selama delapan belas bulan, Idham Azis menjabat Kapolda Metro Jaya (Juli 1997-Januari 2019).
Selama itu juga, secara diam-diam sang jenderal mengamati perilaku dan adab dari Iriana Joko Widodo yang sederhana.
Kapolri mengaku belajar banyak dan ingin menularkan teladan itu kepada para pejabat utama polisi pada semua level di Indonesia.

Jenderal Polisi Idham Azis (55) ingin menularkan teladan itu kepada para pejabat utama polisi pada semua level di Indonesia.
• Postingan Foto IG Polresta Jambi Mengagetkan, Pria Bintang 4 Pakai Sandal Jepit Santap Penganan
• Ingat PAW Mulan Jameela hingga? Dinilai HampirSerupa dengan PAW Harun Masiku, Ini Analisisnya
• Polda Jatim Berencana Periksa Mulan Jameela, Dugaan Investasi Bodong Memiles Beromzet Ratusan Miliar
Pria kelahiran Sulawesi Selatan ini 'menyentil' istri kapolda dan kapolres.
Dalam sebuah kata sambutan, Idham Aziz membagikan kesederhanaan sosok istri presiden.
Menelusuri jejak karier Idham Azis sangat menarik.
Melansir wikipedia, perjalanan hidupnya saat masuk AKABRI Kepolisian (sekarang Akpol) cukup unik, karena perlu beberapa kali tes untuk masuk. Berikut ini perjalanan karier Jenderal Polisi Idham Azis.
Siapa sebenarnya Idham Azis?
Idham Azi lahir di Kendari, Sulawesi Tenggara, 30 Januari 1963.
Sejak 1 November 2019 dia menjadi Kapolri, menggantikan Jenderal Polisi Tito Karnavian yang diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri.
Idham berpengalaman dalam bidang reserse. Sebelum menjadi Kapolri, dia menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri.
Jejak masa kecil Idham cukup unik.

Lahir dari pasangan Abdul Azis Halik dan Tuti Pertiwi, Idham menempuh pendidikan dasar di SD Kampung Salo pada 1976.
Dia melanjutkan ke pendidikan di SMP 2 Kendari pada 1979, dan menyelesaikannya di SMA 1 Kendari pada 1982.
Kisah menarik Idham Azis dimulai setelah lulus SMA.
Saat itu dia mencoba mengikuti tes masuk AKABRI Kepolisian (sekarang Akpol), tetapi dirinya tidak lolos.
Sembari menunggu tes yang akan digelar tahun berikutnya, Idham masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo.
Pada kesempatan berikutnya, dia kembali mencoba tetapi gagal lagi.
Baru pada 1988, Idham akhirnya diterima masuk dan menjadi bagian dari AKABRI Kepolisian A angkatan 1988 (Akpol 1988 A).
Bertemu pacar
Idham kemudian bertemu dengan Fitri Handari yang merupakan alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia angkatan 1993.
Kemudian mereka menikah dan memiliki empat orang anak, yaitu Ilham Urane Azis, Irfan Urane Azis, Firda Athira Azis dan Pandu Urane Azis.
Apa itu urane?
Istilah "urane" merupakan kata dalam bahasa Bugis yang berarti anak.
Putranya, Irfan, tercatat telah meraih sejumlah prestasi dalam bidang pendidikan.
Karier Idham Azis
Masih dari wikipedia, dituliskan bahwa Idham termasuk polisi yang mendapat kenaikan pangkat cukup cepat saat tergabung dalam tim Bareskrim.
Dia berhasil melumpuhkan teroris Dr. Azahari dan kelompoknya di Batu, Jawa Timur, pada 9 November 2005.
Ia mendapat penghargaan dari Kapolri saat itu, Jenderal Sutanto, bersama dengan para kompatriotnya, Tito Karnavian, Petrus Reinhard Golose, Rycko Amelza Dahniel, dan kawan-kawan.
Kisah di Poso
Pada malam 10 November 2005, Brigjen Pol Surya Dharma memanggil dan memerintahkan Idham untuk berangkat ke Poso.
Keesokan harinya, Idham terbang dari Surabaya menuju Palu dan tiba di Poso pada sore harinya untuk langsung bergabung dengan Tito Karnavian yang sudah berada di sana.
Tito memintanya untuk menjadi wakilnya dalam kasus investigasi mutilasi tiga gadis SMA Kristen yang terjadi di Poso.
Per 12 November 2005, Idham resmi menjadi Wakil Ketua Satgas Bareskrim Poso, mendampingi Tito Karnavian.
Idham menggantikan Brigjen Pol Ari Dono Sukmanto sebagai Kapolda Sulawesi Tengah sejak tanggal 3 Oktober 2014.
Jabatan tersebut diembannya hingga 1 Maret 2016, ketika dirinya digantikan oleh Brigjen Pol Rudy Sufahriadi.
Idham kemudian dimutasi menjadi Inspektur Wilayah II Inspektorat Pengawasan Umum Polri.
Pada 23 September 2016, Idham dilantik menjadi Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri (Kadiv Propam), menggantikan Irjen Pol Mochamad Iriawan.
Idham dipilih karena pernah bertugas di daerah konflik, khususnya Poso.
Idham kembali menggantikan posisi Iriawan sebagai Kapolda Metro Jaya pada 26 Juli 2017.
Idham ditunjuk sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim) menggantikan Komjen Pol Arief Sulistyanto.

Posisinya sebagai Kapolda Metro Jaya dilanjutkan oleh Irjen Pol Gatot Eddy Pramono.
Idham dilantik sebagai Kabareskrim pada 28 Januari 2019.
Pada 23 Oktober, Presiden Joko Widodo mengusulkan nama Idham sebagai calon tunggal Kapolri untuk menggantikan Tito Karnavian yang diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri.
Pada 30 Oktober, Komisi III DPR-RI yang dipimpin oleh Herman Hery menggelar uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap Idham. Rapat pleno Komisi III memutuskan bahwa mereka menyetujui pencalonan Idham secara aklamasi.
Keputusan ini disahkan oleh Puan Maharani selaku Ketua DPR-RI dalam sidang paripurna yang digelar sehari setelahnya.
Presiden Jokowi resmi melantik Idham sebagai Kapolri pada tanggal 1 November 2019.
Biodata Jenderal Polisi Idham Azis
Lahir: Kendari, Sulawesi Tenggara, 30 Januari 1963
Pasangan: Fitri Handari
Anak: Ilham Urane Azis, Irfan Urane Azis, Firda Athira Azis, Pandu Urane Azis
Orang tua: Abdul Azis Halik (ayah), Tuti Pertiwi (ibu)
Almamater: Akademi Kepolisian (1988)
Dinas: Kepolisian Negara Republik Indonesia
Masa dinas: 1988-sekarang
Satuan: Reserse
Pertempuran/perang: Operasi Tinombala
• Siapa Sebenarnya Totok Santosa Hadiningrat? Punya 450 Anggota, Jadi Raja di Kerajaan Baru yang Viral
• Asal Usul Jangka Jayabaya atau Ramalan Jayabaya dan Kemunculan Kerajaan Agung Sejagat 1518
• Heboh Kerajaan Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Janji 500 Tahun Runtuhnya Majapahit pada 1518
• Misteri Pendiri Keraton Agung Purworejo, Tahun 2016 Totok Santosa Pernah Pikat 10 Ribu Orang