Kebakaran Lahan

KKI WARSI Sebut Ada 41 Perusahaan Sawit di Jambi, yang Lahannya Terbakar di Tahun 2019

KKI WARSI Sebut Ada 41 Perusahaan Sawit di Jambi, yang Lahannya Terbakar di Tahun 2019

KKI WARSI Sebut Ada 41 Perusahaan Sawit di Jambi, yang Lahannya Terbakar di Tahun 2019
Tribunjambi/Dedy Nurdin
TNI dan warga yang berada di lokasi kebakaran lahan memadamkan api 

KKI WARSI Sebut Ada 41 Perusahaan Sawit di Jambi, yang Lahannya Terbakar di Tahun 2019

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI mencatat sebanyak 41 perusahaan perkebunan kelapa sawit di Jambi, kawasan konsesinya terbakar di tahun 2019 ini. 

Data ini berdasarkan analisis tim GIS KKI WARSI melalui citra satelit lansat TM 8 dan Sentinel 2 pada perekaman tanggal 2 Oktober 2019. Data ini kemudian dioverlay dengan peta perizinan. 

Jika merujuk data WARSI, untuk perusahaan sawit luas yang terbakar mencapai 20.983 hektar, luasan ini dibawah areal konsesi HPH yang terbakar yang kencapai 32.805 hektar. 

Dari 41 perkebunan sawit yang mengalami kebakaran. Kebakaran terluas dialami perkebunan sawit di areal gambut. 

KKI WARSI : 2 Perusahaan di Jambi Ini yang Konsesinya Paling Luas Terbakar

BREAKING NEWS Dua Pendaki Asal Jambi Hilang di Puncak Gunung Dempo, sudah 7 Hari Tak Muncul

Selama 1 Bulan, 126 Ribu Hektare Lahan di Jambi Terbakar, Kawasan Berizin yang Banyak Terbakar

Buah Bungur Diracik Jadi Kopi dan Teh, Ternyata Ini Khasiatnya, Produk Unggulan Warga Legok, Jambi

"Diantara PT CIN, MAS, SNP, RKK dan BEP. Pun demikian dengan HTI," kata Rudi Syaf, direktur KKI WARSI dalam rilisnya pada Selasa (22/10/2019). 

Sementara untuk pemegang HTI terdapat 19 perusahaan yang wilayah konsesinya juga terbakar. Terutama yang arealnya berada di lahan gambut, diantaranya eks Diera dan WKS. 

Dari analisis yang dilakukan juga terlihat bahwa kebakaran hutan dan lahan juga menyasar kawasan-kawasan yang sejatinya bukan ditujukan untuk perkebunan dan pertanian. 

Seperti hutan lindung, kawasan restorasi, taman nasional dan taman hutan raya. 

“Kawasan ini terbakar diindikasikan adanya upaya untuk mengambil alih kawasan secara illegal untuk dijadikan  sebagai areal perkebunan oleh kelompok masyarakat kelas menengah, dan ini harus segara ditindaklanjuti dengan hukuman pidana dan perdata sampai kepada pemilik modalnya, tidak hanya sampai pada opeartor di lapangan,” kata Rudi, Selasa (22/10/2019). 

Terkait dengan makin luasnya kebakaran hutan dan lahan, KKI Warsi menyerukan untuk memperkuat pengelolaan gambut, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2016 tentang gambut.  

“Sudah seharusnya PP ini dijalankan dengan baik oleh para pemegang izin diareal gambut, bagi para pemegang izin yang melanggar ketentuan PP tersebut sudah selayaknya diberikan sanksi tegas,” ujar Rudi. 

Rudi Syaf juga mengatakan, sangat penting untuk mengembalikan fitrah gambut, khususnya kedalaman lebih dari 3 meter  dikembalikan untuk fungsi lindung. 

“Jika langkah ini tidak diambil maka Jambi akan mengalami masalah serius dengan lingkungan. Pada musim kemarau akan kebakaran berulang dan menghabiskan anggaran negara yang tidak sedikit untuk melakukan pemadaman, sekaligus ancaman kekeringan di tahun-tahun ke depan akibat rusaknya tata hidrologi,” jelas Rudi Syaf.

KKI WARSI Sebut Ada 41 Perusahaan Sawit di Jambi, yang Lahannya Terbakar di Tahun 2019 (Dedy Nurdin/Tribunjambi.com)

Penulis: Dedy Nurdin
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved