Berita Nasional
Peneliti Militer Tak Sependapat dengan Eks Danjen Kopassus soal 3 TNI Dicopot Pada Kasus Wiranto
Peneliti Militer Tak Sependapat dengan Eks Danjen Kopassus soal 3 TNI Dicopot Pada Kasus Wiranto
Peneliti Militer Tak Sependapat dengan Eks Danjen Kopassus soal 3 TNI Dicopot Pada Kasus Wiranto
TRIBUNJAMBI.COM - Beda pendapat dengan mantan Danjen Kopassus Agum Gumelar, peneliti Imparsial bidang militer Anton Aliabbas tak setuju atas pencopotan 3 anggota TNI karena ulah istri
Anton menilai, hukuman yang dijatuhkan kepada mantan Dandim Kendari Kolonel HS, Sersan Z, dan Bintara Penyidik Satpomau Peltu YNS, tidak bijak.
Seperti dilansir dari Warta Kota dalam artikel 'Pengamat Nilai Tak Bijak Anggota TNI Dihukum karena Istri Nyinyir di Medsos Soal Penikaman Wiranto'

Menurut Anton, tiga anggota TNI yang dicopot dari jabatannya tersebut cukup diberi teguran atau peringatan.
Itu karena bukan ketiga anggota TNI tersebut yang melakukan pelanggaran langsung, melainkan istri mereka.
"Jadi, kalau dilihat lebih lanjut, pemberian sanksi copot jabatan dan hukuman badan kepada prajurit TNI akibat perbuatan istri, adalah langkah yang tidak bijak."
"Semestinya, kalaupun jika pimpinan TNI ingin memberikan sanksi kepada prajurit TNI, cukup hanya teguran ataupun peringatan saja."
"Itu sudah cukup karena catatan tersebut akan menjadi bagian dalam rekam jejak karier," kata Anton, Minggu (13/10/2019).
Anton mengatakan, Undang-undang Nomor 25 Tahun 2014 tentang Disiplin Militer hanya mengatur tentang anggota TNI, dan tidak termasuk istri dan anggota keluarganya.
Ia pun menilai, undang-undang tersebut tidak mengatur rinci terkait ekspresi politik anggota keluarga TNI, melainkan hanya secara umum.
Anton juga mengatakan tidak ada satupun aturan dalam undang-undang tersebut yang mengatur tentang perilaku istri atau keluarga anggota TNI dalam bermedia sosial.
Meski begitu, Anton membenarkan di lingkungan TNI, imbauan terkait etika bermedia sosial sering diberikan kepada istri anggota TNI.
"Meski demikian, edaran atau imbauan itu bukan berarti menjadi celah untuk memberikan sanksi keras bagi prajurit TNI atas perbuatan istri," tutur Anton.
Anton menilai, peristiwa dicopotnya tiga anggota TNI karena unggahan istrinya di media sosial tersebut, baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah TNI.
"Sejauh pengamatan saya, ini adalah kejadian pertama, bahwa ada yang kehilangan jabatan sebagai dampak dari dugaan pelanggaran etika dalam bermedsos," papar Anton.
Di sisi lain, mantan Danjen Kopassus, Agum Gumelar juga sempat memberikan komentarnya terkait pencopotan jabatan 3 anggota TNI
Dilansir dari Kompas TV, Sabtu (12/10/2019), menanggapi kasus tersebut, Agum Gumelar mengatakan seorang anggota TNI harus menjadi contoh dan teladan dalam menjalani kehidupan di era yang demokratis ini.
Apalagi sebagai patriot penjaga NKRI, selain menjaga Sapta Marga juga harus mampu membina keluarganya dengan baik.
"Karena jiwa Sapta Marga dan ini jadi pegangan termasuk di keluarga.
Mungkin ada gap komunikasi antara suami dengan istri atau suaminya pun terpapar, ini mungkin ya," kata Agum Gumelar dalam wawancara dengan Kompas TV, Sabtu (12/10/2019).

Untuk itu Agum Gumelar mengaku mendukung langkah dan sikap tegas Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa.
"Kami tidak ingin TNI terpecah belah dan menyimpang sebagai pemegang sumpah prajruit.
Untuk mereka yang menyimpang ayo kembali ke Sapta Marga. Itu mutlak dan harus dipegang teguh," kata Agum Gumelar.
Agum Gumelar menjelaskan, selain menjaga kedaulatan negara, prajurit TNI juga memilik peran mengamankan teritorial, rakyat dan pemerintah.
"Jadi kami harus jadi unsur yang bisa mengamankan semuanya, ini berlaku untuk TNI AD, TNI AU, TNI AL.
Jadi ini tugas suami sang istri harus mengerti betul," ujar Agum Gumelar.
Dirinya mengaku hal ini memang tidak mudah.
Untuk itu istri seorang prajurit TNI harus paham betapa berat tugas suaminya.
Agum Gumelar mengaku tak habis pikir jika ada yang menuding kasus Wiranto cuma rekayasa
Mantan Komandan Jenderal Kopassus ini menyayangkan adanya tudingan seperti itu.
"Rekayasa gimana? Aduh yang bilang rekayasa betul-betul back mindnya benci sama pemerintah, sama tentara.
Gimana ya masih ada orang seperti itu, saya heran," kata Agum Gumelar.
Pria yang pernah menjabat sebagai Menko Polkam dalam Kabinet Persatuan Nasional pada 2001 di bawah kepemimpinan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ini mengaku tak habis pikir.
"Orang mengalami musibah dikatakan rekayasa. Saya lihat sendiri Pak Wiranto ini karib saya, satu angkatan dengan saya.
Beliau dioperasi selama 4 jam, dari peristiwa ditusuk sampai dibawa ke rumah sakit pendarahan sampai 3 liter kok masih dibilang rekayasa. Kebangetan!" kata Agum Gumelar.
Dirinya menilai, orang yang selalu tertanam kebencian akan dibalas dengan kebencian.
Menurutnya hal ini tidak elok jika diwariskan kepada anak dan cucu di masa depan.
Lebih lanjut Agum Gumelar minta aparat penegak hukum mengusut tuntas jaringan dari dua orang pelaku yang melukai Wiranto.
"Begini penyidik punya modal apa, 2 orang.
Ini pelaku hidup, kami harapkan bisa terungkap jaringnya jangan sampai terputus," kata Agum Gumelar.
Berikut video selengkapnya:
• Target Suaidi Asyari Usai Dilantik Menjadi Rektor UIN STS Jambi
• Ada Kura-kura Lucu yang Bikin Penasaran pada Pawai Pembangunan HUT ke 20 Muarojambi
• TERUNGKAP, Ada kesepakatan Potong Uang Ketok Palu untuk Pengobatan Zoerman Manap
• Kisah Motif Mengalir Darah di Seragam Kopassus, Pernah Jadi Motif di Seragam Korps Marinir AS
• Peluang Bisnis Eco Racing, Reward Miliaran Tanpa Hutang Riba
Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Beda Pendapat dengan Eks Danjen Kopassus, Peneliti Militer Tak Sepakat 3 TNI Dicopot, ini Alasannya
IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:
NONTON VIDEO TERBARU KAMI DI YOUTUBE:
IKUTI FANPAGE TRIBUN JAMBI DI FACEBOOK: