Ratusan Keping Kayu Tak Berdokumen, Edi dan Ishak Rugikan Negara Puluhan Juta

Akibat kayu tak berdokumen yang didakwakan pada Edi Gunawan dan Ishak negara rugi Rp 70 juta.

Ratusan Keping Kayu Tak Berdokumen, Edi dan Ishak Rugikan Negara Puluhan Juta
Tribunjambi/Jaka HB
JPU hadirkan Eka selaku ahli kayu dari Dinas Kehutanan Jambi, pada Selasa (8/10). 

Ratusan Keping Kayu Tak Berdokumen, Edi dan Ishak Rugikan Negara Puluhan Juta

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Akibat kayu tak berdokumen yang didakwakan pada Edi Gunawan dan Ishak negara rugi Rp 70 juta.

Hal ini disebutkan Yusmawati selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Jambi, pada Selasa (8/10). Angka kerugian negara dari hasil pemeriksaan ahli yang dibacakan Yusmawati.

Kerugian negara dari 46,6 kubik kayu yang didakwa pasa Edi Gunawan senilai Rp 62,4 juta.

Jenis kayu yang dibawa Edi adalah kayu gergajian 46,6 meter kubik. Rinciannya kayu meranti 7,6 meter kubik. Selain itu kelompok rimba campuran yang berjenis ramin, balam, punak, mampisah, rengas dan tembaga sebanyak 660 keping.

Edi dijerat pasal 83 ayat (2) huruf b Jo pasal 12 huruf e UU RI nomor 18 rahun 2013 tentang pencegahan pemberantasan hutan.

Baca: Terancam Punah, 10 Kebudayaan Jambi Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Baca: Anggaran Belanja Daerah 2020 Rp 1,3 Triliun, Pemerintah Sarolangun Devisit Miliaran

Baca: Api Kembali Menyala di Sarolangun, Banyak Lahan Warga Habis Terbakar

Meski pun begitu dalam perjalanan sidang Edi mengaku tak tahu kayu tersebut. "Awalnya mobil saya dipinjam sulis yang memang sering pakai mobil saya untuk angkut kayu atau sawit," kata Edi.

Edi mengatakan kayu yang biasanya diangkutnya punya dokumen, sedangkan kayu yang menurut pengakuannya tidak diketahui milik siapa tidak punya dokumen.

Sedangkan kerugian negara yang didakwa pada Ishak dengan barang bukti 71 keping kayu meranti dan 69 keping campuran senilai 8,5 juta rupiah.

Eka Wahyuni Sari dari Dinas Kehutanan Jambi mengatakan kayu gergajian diperiksa perbedaannya dari strukturnya. Namun, tidak memeriksa sampai ke kerugian negara.

Arfan Yani selaku ketua majelis hakim menunda sisang dengan agenda selanjutanya tuntutan. "Ditunda sampai 15 Oktober 2019, terdakwa tetap ditahan, katanya kemudian mengetukkan palu.(Jaka HB)

Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved