Terancam Punah, 10 Kebudayaan Jambi Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Tahun 2019 ini Provinsi Jambi kembali meraih serifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Terancam Punah, 10 Kebudayaan Jambi Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Tribunjambi/Mareza
Tradisi Lisan Dideng, asal Rantau Pandan, Bungo ditetapkan sebagai warisan tak benda. 

Terancam Punah, 10 Kebudayaan Jambi Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Tahun 2019 ini Provinsi Jambi kembali meraih serifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dari sepuluh yang diajukan tahun ini, semuanya dinyatakan memenuhi persyaratan oleh Kementerian.

Dibandingkan prolehan Provinsi lain, Jambi tergolong lebih banyak. Jumlahnya Juga meningkat dari tahun 2018 yang meraih sembilan sertifikat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ujang Hariyadi melalui Sekretaris Dinas Dr. Ema mengatakan raihan ini setelah kesepuluh WBTB ini melalui pendataan dan proses penjurian.

“Prosesnya pendataan, dokumentasi video dan poto, kajian akademis (analisis), peresentasi kepada 15 tim ahli cagar budaya,” sebutnya ketika dikonfirmasi.

Baca: Anggaran Belanja Daerah 2020 Rp 1,3 Triliun, Pemerintah Sarolangun Devisit Miliaran

Baca: Api Kembali Menyala di Sarolangun, Banyak Lahan Warga Habis Terbakar

Baca: Reshuffle Pejabat Muaro Jambi, Bupati Masnah Tunggu Hasil Review Keuangan

Kesepuluh penerima sertifikat itu sebut Ema ada pada tujuh wilayah Kabupaten di Provinsi Jambi. Seperti Betauh (upacara adat istiadat) dari Perentak Sarolangun, kemudian adapula Sungku (kerajinan tradisional). Ketiga adapula tarian ayam biring dari Desa Mandiangin, Sarolangun.

Keempat ada tarian nekpung dari Desa Sungai Keruh, Tebo, kelima sastra lisan dideng dari Desa Rantau Pandang, Bungo. Kemudian adalagi lubuk larangan dari Desa Lubuk Beringin, Bungo. Sastra lisan tapah melenggang dari Kabupaten Batanghari, Zikir berdah dan nekut domainnya kearifan lokal dari Muaro Jambi dan malam tari inai (upacara adat istiadat) dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

“Untuk WBTB ini terancam punah, maksudnya agar dihidupkan lagi,” jelasnya.

Untuk pengakuan WBTB ini kata dia yang paling penting adalah tindak lanjut sesudah warisan itu ditetapkan. “ Tindak lanjutnya di kabupaten dan kota nantinya, artinya bukan karena sudah ditetapkan negara saja, tindak lanjut seperti apakah sudah bangga atau belum, karena penting setelah ini dilakukan revitalisasi, workshop, pelatihan guru sejarah dan untuk ini sudah beberapa kita kerjakan,” terangnya.

Sementara untuk daerah Provinsi Jambi yang belum mendapatkan WBTB Ema menyebut ada di Kabupaten Tanjabtim. Padahal sebelumnya sempat hendak diajukan salah satu kebudayaan namun tidak jadi diajukan tahun 2019 ini.

”Untuk Tanjabtim kita tarik kembali sebelum diajukan, dan rencana kita ajukan di tahun depan,” sampainya.

Sedangkan jika direkap untuk Provinsi Jambi dari tahun 2014 sudah ada 46 WBTB. “Untuk penghargaan kita itu berdasarkan DAK yang diberikan pusat, yakni untuk tahun ini ada pada DAK non fisik yang diberikan untuk kegiatan di museum, jadi jika tak urus WBTB ini bisa diputus pengharagaan DAK ini,” pungkasnya.

Penulis: Zulkifli
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved