Minggu, 3 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Cerita Pengrajin Batik di Bungo, Kain Selembar Dijual Rp 600 Ribu

Berawal dari usaha butik yang digelutinya, Titin Ariani akhirnya tertarik untuk membuka gerai batik Bungo.

Tayang:
Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Mareza
Titin Ariani akhirnya tertarik untuk membuka gerai batik Bungo. 

Cerita Pengrajin Batik di Bungo, Kain Selembar Dijual Rp 600 Ribu

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO - Berawal dari usaha butik yang digelutinya, Titin Ariani akhirnya tertarik untuk membuka gerai batik Bungo. Didukung suaminya, Edi Kari, usaha itu mulai berjalan sekitar 1,5 tahun terakhir.

Tribunjambi.com sempat berkunjung ke Katrin Boutique miliknya. Beberapa kain lembar batik tampak dibentangkan di meja batik. Ada juga yang tengah dijemur, atau hendak diberi lilin.

Kata Titin, pemilik sekaligus pengrajin di sentra batik Katrin, ada sekitar 100 orang yang ikut membantu usaha batiknya. Dari jumlah segitu, hanya 30 saja yang bekerja di tempat usaha batiknya itu.

"Mereka rata-rata mengerjakannya di rumah. Nanti, hasilnya baru dibawa ke sini," kata Titin, Rabu (2/10/2019).

Titin bilang, karyawannya berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Bungo. Dan mereka, kata Titin, boleh mengkreasikan motif batik sesuai dengan tempat mereka berasal.

Baca: Kualitas Udara di Kota Jambi Berbahaya, DLH Imbau Warga Pakai Masker

Baca: Jambi Festival Fashion 2019, 75 Peserta Bersaing Jadi Desainer Handal

Baca: Disokong Core i7 Terbaru, Asus A409FJ Lebih Tipis Cocok untuk Pekerja Kantoran

Contohnya saja, motif bedaro yang membentuk daun bidara, dan motif lainnya.

Dalam sehari, sekitar 100 lembar kain batik mereka produksi. Artinya, ada sekitar 3000 lembar batik yang mereka produksi setiap bulannya. Mereka menerima upah sesuai dengan pekerjaannya.

Misalnya, untuk batik cap, pengrajin yang bertugas mengecap batik memperoleh upah Rp 20 ribu per lembar. Lain lagi dengan yang bekerja di bagian tulis batik yang bisa memperoleh upah Rp 40 ribu per lembar.

"Untuk biaya produksi, sekitar Rp 90-100 ribu untuk satu lembar kain batik," katanya.

Kain-kain batik itu kemudian dijual dengan harga bervariasi. Untuk batik cap, bisa dibanderol dengan harga Rp 100-200 ribu. Sedangkan batik tulis, harganya lebih tinggi, bisa mencapai sekitar Rp 600 ribu.

Titin menyebutkan, penjualan mereka kadang juga tergantung musim acara atau kegiatan. Jika mendekati acara besar, biasanya orang-orang ramai memesan produk batik tersebut.

"Kayak sekarang, dekat MTQ. Kami dapat pesanan itu sampai ribuan," ujarnya.

Kalau tidak sedang ada kegiatan, biasanya penjualan mereka juga dibantu Disnakertrans dan Disperindagkop Kabupaten Bungo. Titin tak menampik adanya dukungan pemerintah daerah dalam usahanya.

Tribunjambi.com sempat menanyai beberapa karyawan yang tengah membuat batik tersebut. Dari penjelasan mereka, lama proses pembuatan batik Bungo bisa dua sampai tiga hari, lho!

Baca: Dilantik Jadi Anggota DPRD Jambi, Politisi PKS Temui Pendukung di Tanjab Barat, Berikan Ini

Baca: Disokong Core i7 Terbaru, Asus A409FJ Lebih Tipis Cocok untuk Pekerja Kantoran

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved