Campus Zone

Penelitian dan Memanfaatkan Emas yang Tergantung, Unja Buat Sunacreen dari Buah Jernang

Penelitian dan Memanfaatkan Emas yang Tergantung, Unja Buat Sunacreen dari Buah Jernang

Penelitian dan Memanfaatkan Emas yang Tergantung, Unja Buat Sunacreen dari Buah Jernang
Tribunjambi/Nurlailis
Penelitian dan Memanfaatkan Emas yang Tergantung, Unja Buat Sunacreen dari Buah Jernang

Penelitian dan Memanfaatkan Emas yang Tergantung, Unja Buat Sunacreen dari Buah Jernang

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Dosen Universitas Jambi (Unja) membuat sunscreen atau tabir surya dari jernang. Diketahui jernang merupakan tanaman langka yang hanya ada di Sumatera dan Kalimantan. Jernang di Jambi, termasuk kualitas yang sangat bagus.

Ada tiga inventor dalam sunscreen jernang ini yaitu Dr. Revis Asra, S.Si, M. Si , Dr. Yusnelti, M.Si dan Uce Lestari, M.Farm, Apr. Dan CEO Novia Wahyu Widya Ningrum.

Revis Asra yang juga sebagai wakil dekan bidang umum, perencanaan dan keuangan Fakultas Sains dan Teknologi Unja mengatakan, dalam membuat sunscreen ini berawal dari disertasi penelitian pada 2009.

Dosen Unja membuat Sunacreen dari Buah Jernang
Dosen Unja membuat Sunacreen dari Buah Jernang (Tribunjambi/Nurlailis)

Selanjutnya ia mendapat hibah pengabdian dan penelitian dari Kemenristek Dikti.

"Hibah pengabdian kita budidayakan jernang ini. kita mempercepat berkecambah dari yang awalnya 8 bulan hingga 1 tahun. Sekarang bisa kurang dari satu bulan," ungkapnya.

Diketahui jernang bermanfaat untuk jadi obat dan kosmetik. Dari segi kosmetik, berdasarkan hasil penelitiannya jernang memiliki kandungan spv pada konsentrasi 1-3 persen masuk kategori ekstra dan ultra yang lebih cocok tahan di negara timur tengah.

Baca: Canting Elektrik, Ciptaan Dosen Unja untuk Permudah Pembatik, Disambut Baik Pembatik di Ulu Gedong

Baca: Lomba Karya Ilmiah Tingkat Provinsi Jambi, Mahasiwa Unja Raih Juara I

Baca: Penyakit DBD Mawabah di Kerinci, Ada yang Dirujuk ke Rumah Sakit di Padang

Adapun keunggulan dari sunscreen jernang spf 15 ini adalah untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari yang menyebabkan kulit menjadi lebih gelap, bersisik, kering dan kusam.

Juga mencegah timbulnya bintik-bintik hitam dan mempercepat pemudaran flek coklat pada wajah akibat pemakaian kosmetik yang tidak cocok.

Selama ini jernang hanya di ekspor ke Cina, Singapura dan Taiwan. Sehingga ia terpikir untuk memanfaatkannya untuk menambah nilai bagi petani di Desa Talang Mamak, Suku Anak Dalam, dan petani yang sudah mengintegrasi jernang di kebun karetnya.

Baca: Prakiraan Cuaca BMKG Senin (30/9) Esok, Jambi dan Pontianak Diguyur Hujan Lebat!

Baca: Kesulitan Akses Saat Karhutla, Pemkab Muarojambi Bangun 3 Jembatan Gantung di 2020, Ini Lokasinya

Baca: IMBAS Kerusuhan Wamena Papua, Politisi Gerindra Minta Presiden Jokowi Mundur Atau

"Di luar negeri mereka memanfaatkan jernang sebagai pewarna rambut dan kosmetik, obat untuk menghentikan pendarahan, anti diare, anti mikroba.
Kalau di Jambi untuk menghentikan luka, getah nya. Bagi ibu hamil ditempel dikepala untuk pilis," ungkapnya.

Suncreen ini baru launching pada Juli 2019 dan budidaya sudah berjalan sejak 2014. Untuk jadi sunscreen dibutuhkan waktu 15 hari.

Kemungkinan lanjutan ada di pasta gigi karena dalam jernang ada anti mikroba yang menghilangkan bau mulut dan karang gigi. Bahkan saat ini juga sedang dalam proses pembuatan lipstik.

Harga dari sunscreen ini yaitu Rp 70 ribu. Jika buah aslinya perkilo dijual 250-300 ribu. Resin yang sudah diekstrak dari buah bisa 4 juta perkilo. Mereka di desa menyebutnya emas tergantung.

Penelitian dan Memanfaatkan Emas yang Tergantung, Unja Buat Sunacreen dari Buah Jernang (Nurlailis/Tribunjambi.com)

Penulis: Nurlailis
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved