Ombudsman Temukan Belasan Kamar Rusak, Dirut RSUD Raden Mattaher Jadikan Ini Sebagai Alasan

Dari 28 kamar rawat inap kelas dua di RSUD Raden Mattaher hanya 14 kamar yang bisa digunakan.

Ombudsman Temukan Belasan Kamar Rusak, Dirut RSUD Raden Mattaher Jadikan Ini Sebagai Alasan
Tribunjambi/Zulkifli
RSUD Raden Mattaher Jambi. 

Ombudsman Temukan Belasan Kamar Rusak, Dirut RSUD Raden Mattaher Jadikan Ini Sebagai Alasan

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBIOmbudsman Republik Indonesia Perwakilan Jambi, telah melakukan tinjauan lapangan dalam bentuk Penerimaan dan Verifikasi Laporan (PVL) on the spot di Rumas Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher Jambi 22 hingga 23 September lalu. Hasilnya, dari tinjauan pada 28 kamar rawat inap kelas dua hanya 14 kamar yang bisa digunakan.

Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Jambi Jafar Ahmad mengatakan, dari tinjaun Tim PVL on the spot Ombudsman mengunjungi kamar rawat inap kelas dua dan tiga serta ruang cuci darah. Hasilnya ditemukan beberapa permasalahan seperti banyaknya kamar rawat inap yang rusak. Padahal untuk ketersediaan kamar menurut Tim Ombudsman sangat kontras dengan banyaknya masyarakat mengantri untuk mendapatkan kamar rawat inap.

Baca: Alasan Efisiensi, 59 Anggota SMB Masih Ditahan di Polda Jambi

Baca: Gagal Selundupkan 154 Ribu Benih Lobster, Warga Jakarta Ditangkap Polda Jambi

Baca: Foto Mesra Oknum Pejabat Kerinci Beredar di Facebook, JA Akui Telah Cerai

Baca: Fachrori Kunjungi Pasien ISPA Dampak Karhutla di Tanjab Barat

Baca: Sejumlah Daerah di Jambi Kehabisan Blanko e-KTP, Pemerintah Keluarkan Suket

“Seperti terdapat 28 kamar rawat inap kelas II, namun hanya 14 kamar atau sebanyak 42 tempat tidur yang bisa digunakan. Sisanya rusak seperti toilet mampet, masalah air bersih, plafon bocor dan 3 lainnya dialih fungsikan untuk penyimpanan alat-alat kesehatan hingga belum memiliki fasilitas tempat tidur,” terangnya.

Selain itu ternyata juga ada temuan lainnya yakni terdapat kurangnya kursi untuk keluarga pendamping pasien di ruang pelayanan cuci darah RSUD Raden Mattaher. “Padahal untuk pelayanan cuci darah membutuhkan waktu 5 jam untuk satu orang pasien,” tambahnya.

Atas temuan ini Jafar mengatakan Ombudsman akan memanggil Dirut RSUD Raden Mattaher dan mengagendakan pertemuan untuk menyampaikan temuan. Ombudsman berharap perhatian lebih dari Pemerintah Provinsi Jambi dan pihak terkait mengingat pelayanan RSUD Raden Mattaher merupakan bentuk pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat Provinsi Jambi.

“Kami akan mendengar upaya apa yang sudah dan akan dilakukan untuk perbaikan pelayanan kepada masayarakat. Pemprov juga harus memberikan perhatian terhadap akar masalah dan mendasar di rumah sakit ini,” katanya.

Sementara itu, Plt Dirut RSUD Raden Mattaher Jambi drg. Iwan Hendrawan mengatakan pihaknya belum menerima hasil temuan tersebut. Dan pihaknya juga sebenarnya mempunyai jawaban atas temuan itu. Seperti untuk kamar yang tidak bisa digunakan dikarenakan memang sesuai rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup dan DLH terkait AMDAL yang tidak memperbolehkan penggunaan kamar dan tempat tidur yang dibangun baru.

“Dari awal bahwa RSUD Raden Mattaher kapasitas tempat tidur sesuai AMDAL yang boleh beroperasional 321 tempat tidur, bahkan pembangunan dan penambahan tempat tidur yang sudah mencapai 500 tempat tidur lebih,” ujarnya.

Baca: Aksi di Depan DPRD Bungo, Mahasiswa Desak Semua Anggota Dewan Tandatangani Tuntutan

Baca: Arkeologi Candi Muaro Jambi Dipamerkan di Lippo Plaza Jambi, Lihat Apa Saja Isinya

Baca: Rawan Banjir, Drainase di Kota Jambi Ditumbuhi Pohon Pisang

Baca: Waspada! Kualitas Udara di Kota Jambi Malam Hari Kembali Memburuk, Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Namun karena kendala IMB dan pengurusan AMDAL yang baru diselesaikan pada tahun 2018 pihak kementerian hanya merekomendasikan penggunaan jumlah kamar tempat tidur yang lama saja.

“Karena jika penambahan tempat tidur tanpa pengurusan AMDAL adalah merupakan pelanggaran hukum dan kami juga telah diperiksa Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi dan bahkan Kementrian Lingkungan Hidup dimana rekomendasinya RSUD Raden Mattaher kembali jumlah 321 tempat tidur sesuai AMDAL yang lama,” jelasnya.

Kemudian terkait temuan lain seperti plafon bocor Iwan menjelaskan persoalan karena pihaknya fokus untuk pembangunan atap RSUD. Karena setiap musim hujan kebocoran sampai ke ruang-ruang pasien karena bagian plafon tak dilapisi atap. Bahkan 2015 dikeluarkan biaya perbaikan yang tidak sedikit oleh pemerintah untuk perbaikan plafon. Sehingga pada 2017 setelah hearing dengan DPRD Provinsi Jambi sepakat menganggarkan rehap pemasangan atap seluruh gedung rawat inap.

“Alhamdulillah pekerjaan penutupan atap di gedung rawat inap hampir seratus persen dan keluhan atas bocor teratasi, dan tahun depan kita baru dianggarkan perbaikan plafon dan bagian yang rusak jika disetujui oleh anggota DPRD,” jelasnya.

Selain itu terkait temuan kurangnya kursi diruang tunggu cuci darah Iwan mengakui memang belum memadai dikarenakan keterbatasan anggaran APBD. “Saya sangat memahami bahwa pelayanan, sarana prasarana di RSUD Raden Mattaher masih perlu dibenahi dan penambahan, hal ini semua tidak terlepas dari anggaran yang tersedia untuk RSUD Raden Mattaher, selain itu juga kita perlu bahu membahu untuk membangun RSUD ini,” tandasnya.

Penulis: Zulkifli
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved