Advetorial
Bank Indonesia Ikut Lestarikan Budaya Jambi Lewat Seni Batik
Batik Jambi, satu di antara banyak kekayaan budaya Jambi yang saat ini hangat untuk diperbincangkan.
Penulis: Fitri Amalia | Editor: Teguh Suprayitno
Bank Indonesia Ikut Lestarikan Budaya Jambi Lewat Seni Batik
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Batik Jambi, satu di antara banyak kekayaan budaya Jambi yang saat ini hangat untuk diperbincangkan. Warisan budaya leluhur ini berpotensi menjadi salah satu daya tarik pariwisata dan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.
Potensi tersebut yang dilihat oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi, untuk mengembangkan Klaster Batik yang juga merupakan komoditi unggulan Provinsi Jambi. Kantor Perwakilan BI Provinsi Jambi dan Pemerintah Kota Jambi bersinergi mengembangkan Klaster Batik Jambi di Kota Jambi, yang ditandai dengan penandatanganan MoU pada tahun 2016 lalu.
"Kami memilih batik Jambi karena batik Jambi merupakan warisan budaya leluhur dan berpotensi untuk mendukung sektor pariwisata. Dan harapan kita dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Jambi. Kemudian atas rekomendasi Disperindag Kota Jambi dan sesuai hasil survei, maka ditetapkanlah 15 perajin untuk dibina," ujar Bayu Martanto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, Senin (23/9).
Baca: Mobil Pintar di Tanjab Barat Bertambah, SKK Migas-PetroChina Dorong Literasi Anak-anak
Baca: Tolak RUU Pertanahan, Seribu Mahasiswa Jambi Turun Kuasai Ruas Jalan Kantor Gubernur
Baca: Terungkap Isi Hoaks Ujaran Rasial yang Picu Kerusuhan di Papua, 21 Orang Tewas di Lokasi
Baca: Muara Bungo Kembali Diguyur Hujan Lebat, Kabut Asap Sedikit Mereda
Sebanyak 15 perajin Batik Jambi terpilih untuk dibina oleh KPwBI Provinsi Jambi dan Pemerintah Kota Jambi. Perajin batik yang terpilih, yakni Batik Dua Putri, Batik Mawar, Batik Masriah, Batik Siti Hajir, dan Batik Humairoh yang berlokasi di Kelurahan Jelmu. Berikutnya, Batik Zhorif, Batik Rezeki, dan Batik Diana yang berlokasi di Kelurahan Ulu Gedong. Batik Aan dan Batik Hj Nurma di Kelurahan Tanjung Raden. Batik Rifandi dan Batik Nadia di Kelurahan Tengah, Batik Annisa di Kelurahan Olak Kemang, Batik Al-Fath di Kelurahan Tanjung Pinang dan Batik Ning di Kelurahan Wijaya Pura.
Banyak fasilitasi yang diberikan KPwBI Provinsi Jambi untuk mendorong pengembangan klaster Batik Jambi, diantaranya sertifikasi profesi batik, studi banding, pelatihan peningkatan kualitas batik produksi batik minim limbah, pewarnaan alam dan pembukuan usaha. Selain itu, perajin batik juga dilibatkan di berbagai ajang tingkat provinsi dan nasional.
"Bentuk perhatian KPwBI Provinsi Jambi terhadap pengolahan limbah batik, yaitu melalui bantuan Program Sosial Bank Indonesia, berupa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) batik komunal yang nantinya akan ditempatkan di Kecamatan Jelmu dengan penerima manfaat sekitar 10 perajin batik," kata Bayu.
Setelah empat tahun menjalani pembinaan, dua orang anggota Klaster Batik Jambi binaan KPwBI Provinsi Jambi dan Pemerintah Kota Jambi, yaitu Batik Jambi Al-Fath dan Batik Jambi Siti Hajir telah mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Dikatakan Antoni Budiman, pengelola dan owner Batik Jambi Al-Fath mengatakan pembinan klaster batik ini sangat besar pengaruhnya untuk usahanya. Peningkatan omset hingga 200 persen dan kegiatan usaha lebih tertata. Batik Jambi Al Fath juga berani berinovasi dengan mengeluarkan motif motif baru.
Baca: Siapa Sebenarnya Budiman Sudjatmiko? Di Jogja Dikejar-kejar Intel, Dipenjara 13 Tahun, Terbongkar
Baca: Harga Emas Antam di Angka Rp 765.000/gram, Buyback Rp 688 Ribu
Baca: Rakor Karhutla, Begini Arahan Kepala BNPB untuk Pemerintah Jambi
Baca: Ningsih Curiga Iron Sering Nongkrong Sendiri Tengah Malam, Penyamaran Densus 88 Ketahuan
Dari segi pewarnaan, saat ini Budi bereksperimen dengan pewarna alami dari ekstrak cangkang kopi. Budi juga tengah mendirikan IPAL secara mandiri untuk mendukung pengembangan usahanya.
"Dari sisi mindset dan produksi sudah lebih siap untuk memasuki industri 4.0 ini. Apalagi hasil dari kolaborasi dengan perancang busana memang membawa semangat baru, membawa penyegaran untuk Batik Jambi yang dibuat lebih modern dan mewah. Harapan kami perajin, BI masih berkenan membina kami. Apa yang selama ini telah diberikan membawa kemajuan pesat untuk perajin, terutama di bagian produksi yang semakin kuat, begitu pula manajemen usaha dan pembukuan," ujarnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Kemas Junaidi, pengelola dan pemilik Batik Jambi Siti Hajir yang merasakan peningkatan pada usaha batiknya. Melihat kain batiknya ditampilkan saat fashion show Jumat lalu (21/9), Kemas Junaidi sangat kagum.
"Kami sangat takjub dan melihat Batik Jambi jika sudah diolah oleh orang yang bertangan dingin, nilainya makin bertambah, dan Batik Jambi tidak kalah dengan batik batik luar lainnya," ujarnya.
Peningkatan hasil usaha juga dia rasakan, baik dari sisi kapasitas dan kualitas batik yang dihasilkan. Sebelumnya, Junaidi hanya mampu memproduksi 20 potong batik per bulan. Setelah menjadi binaan BI, ia dapat memproduksi hingga 70 potong batik per bulan sehingga dapat mendorong peningkatan omset.
"Mutu kita meningkat, ketahanan warna dan kombinasi warna makin banyak. Makin banyak juga motif baru, apa lagi saat ini motif yang lagi ngetrend adalah motif kopi, pas dengan momen Hari Kopi Internasional.
Baca: Live Streaming Arema FC vs PSS Sleman di Liga 1 2019 Hari Ini Siaran Langsung Indosiar Hari Ini
Baca: Foto-foto Kerusakan Usai Demo di Wamena, 21 Sipil Meninggal, Korban Terjebak di Ruangan Terbakar
Baca: BREAKING NEWS Sesuai Prediksi BMKG, Hari Ini Kota Jambi Diguyur Hujan Lebat
Baca: 4 Ton Garam NaCl Ditebar di Langit, Kepala BNPB Sebut Hujan di Jambi Hasil Modifikasi Cuaca
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/jokowi-membeli-batik-jambi.jpg)