Desa-desa di Kumpeh Gelap Tertutup Kabut Asap, Warga Takut Keluar Rumah

Tribunjambi/Dedy Nurdin
Perkebunan sawit milik PT Bara Ekaprima terbakar. Hal ini mengakibatkan banyak desa di sekitarnya menjadi gelap tertutup kabut asap. 

Desa-desa di Kumpeh Gelap Tertutup Kabut Asap, Warga Takut Keluar Rumah 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejumlah foto dan video kepulan asap disertai abu sisa pembakaran menutupi langit di beberapa desa di Kecamatan Kumpeh dan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi, viral di dunia maya.

Kondisi siang hari yang berubah menjadi gelap seperti malam hari dengan warna langit kemerahan berseliweran yang menyebutkan kejadian berlokasi di Kumpeh.

Kondisi ini dikarenakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang kian tak terkendali dalam satu minggu terakhir. Puncaknya suasana langit Kumpeh menjadi gelap pada Sabtu (21/9/2019).

Hasil pantauan Tribunjambi.com, suasana kabut tebal mulai terlihat saat perjalanan memasuki Desa Pemunduruan, Kumpeh Ilir.

Baca: VIDEO: Mencekam Tengah Hari Macam Malam, Langit di Jambi Berubah Oranye Akibat Kebakaran Lahan

Baca: Dilanda Kabut Asap Parah, Peserta Festival Batanghari Tetap Semangat

Baca: Di Tengah Kabut Asap, 150 Crosser Bertarung di Kota Jambi

Baca: Begini Cara Pintar Mendidik Anak Saat Kabut Asap

Baca: Pemkot Jambi Siapkan Rp 8,4 Miliar untuk Pembebasan Lahan

Namun kondisi kabut pekat kian terlihat saat memasuki Desa Arang-Arang, Sipin Teluk Duren. Sekitar pukul 16.00 WIB, saat Tribunjambi.com memasuki Kecamatan Kumpeh, di beberapa desa seperti Puding, Teluk Raya, Pulau Mentaro hingga Pematang Raman masih tampak gelap.

Kabut pekat yang terlihat tak sama dengan kabut di daerah pegunungan yang membawa hawa sejuk. Namun kabut asap di Kumpeh disertai partikel abu dan terasa kering disertai hawa panas saat terbawa hembusan angin.

Lampu penerang jalan di beberapa titik tampak menyala, lampu LED putih juga terlihat di depan toko-toko kelontong hingga rumah warga. Mulai dari Sipin Teluk Duren hingga Desa Pulau Mentaro.

Menurut warga yang dikonfirmasi mengatakan, kondisi tersebut sudah sedikit lebih cerah dibandingkan pada siang hari sekitar pukul 11.00-13.00 WIB Sabtu siang.

"Ini sudah agak terang, siang tadi yang gelap nian antara jam 11.00 WIB sampai jam satu siang," ujar Ulil, salah seorang perangkat desa di Pulau Mentaro saat dibincangi di rumahnya.

Ia mengatakan, kondisi gelap langit yang tertutupi kabut asap dan partikel abu sisa pembakaran kian pekat dalam empat hari terakhir. Banyak warga Desa Pulau Mentaro kini urung ke kebun karena khawatir kondisi kabut asap yang sangat pekat.

"Sebagian memilih di rumah, kalau anak-anak sekolah sudah sering diliburkan kalau pekat. Seperti hari ini, hampir setiap hari kondisinya begini lah gelap kadang, baru jam 11.00 siang sudah terasa seperti malam," ujarnya.

Baca: VIDEO: PENTING, 3 Posisi Tidur yang Aman Bagi Ibu Hamil Mulai dari Trimester Pertama

Baca: WIKI JAMBI - Ayam Geprek Ngondek, Lebih Besar dan Pedasnya Nyata di Suapan Pertama

Baca: Cabuli Penumpang Angkot, Andi Terancam 15 Tahun Penjara, Kini Mendekam di Polresta Jambi

Baca: Bimbing Remaja ke Arah Positif, Kampanyekan Seks Bebas di Instagram

Ia mengatakan, kabut asap dan partikel debu sudah dirasakan warga sejak hampir tiga bulan lalu. Udara tak sehat itu memiliki konsentrasi kepekatan yang tinggi terutama di sore, malam hingga pagi hari.

Terkadang juga berkurang, namun saat hembusan angin cukup kencang cuaca bisa berubah sektika, "Tapi pekat sampai siang pun gelap baru satu minggu ini terasa. Hampir satu minggu ini kondisinya seperti ini, siang pun kami ngidupin lampu," ujarnya.

Akibatnya banyak warga yang mulai mengeluh sesak napas, tenggorokan kering hingga mata iritasi karena partikel abu dari kebakaran gambut yang terjadi.

Apa lagi lokasi yang terbakar hanya berjarak sekitar dua kilometer dari perkampungan warga," seberang sungai ini, dua kilo meter di situ lokasinya yang terbakat itu lahan perusahaan," ujar Ulil.

Ia menambahkan sejak kawasan hutan gambut dibuka untuk ditanami sawit oleh perusahaan, sejak saat itu lah kebakaran sering menghantui warga Desa Pulau Mentaro.

"Sebenarnya ini mengulang tahun 2015 dulu, yang terbakar juga lahan perusahaan. Kami tidak bisa ngapa-ngapain," ujarnya.

"Kalau sudah seperti ini di rumah lah ngurangi aktivitas, rajin nyapu rumah kalau tidak debunya numpuk. Sehari bisa tiga kali kami nyapu," ujarnya. (Dedy Nurdin)