Pesona Wastra Banjar, Kain Tradisional yang Dipakai Putri dan Ratu Banjar Ratusan Tahun Lalu

Koleksi Museum Lambung Mangkurat dari Kalimantan Selatan menjadi satu bagian wastra khas tanah Borneo yang dipamerkan di Museum Siginjei Jambi.

Pesona Wastra Banjar, Kain Tradisional yang Dipakai Putri dan Ratu Banjar Ratusan Tahun Lalu
Tribunjambi/Nurlailis
Koleksi Museum Lambung Mangkurat dari Kalimantan Selatan pada event Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara di Museum Siginjei Jambi. 

Pesona Wastra Banjar, Kain Tradisional yang Dipakai Putri dan Ratu Banjar Ratusan Tahun Lalu

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Koleksi Museum Lambung Mangkurat dari Kalimantan Selatan menjadi satu bagian wastra khas tanah Borneo yang dipamerkan pada even Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara di Museum Siginjei Jambi.

Ada cerita menarik dibalik kain yang dipamerkan oleh Museum Lambung Mangkurat. Konon, beberapa kain yang dipamerkan merupakan kain yang hanya dipakai oleh putri atau ratu kerajaan Banjar ratusan tahun lalu.

Wastra merupakan kain tradisional Indonesia yang memiliki makna dan simbol tersendiri dengan matra tradisional setempat yang mengacu kepada dimensi seperti warna, ukuran panjang atau lebar. Kata Wastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti selembar kain atau sandangan.

Dwi Putro Sulaksono, Pamong Budaya Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan menceritakan langsung pesona wastra koleksi Museum Lambung Mangkurat. Satu di antara kekayaan wastra yang dimiliki Kalimantan Selatan yakni Kain Sarigading.

Baca: Sendu di Gedung KPK, Apakah KPK Akan Mati atau Makin Ramai oleh Koruptor?

Baca: Jawaban Elza Syarief Saat Tahu Dipolisikan Nikita Mirzani, Bantah Keras Ramalan Roy Kiyoshi

Baca: Live Streaming China Open 2019 Hari Ini, Siaran Langsung TVRI, ada Anthony Ginting dan Ahsan/Hendra

Baca: (Bag 2) Perwira Menengah Nganggur di Polri, Jokowi Beri Lampu Hijau untuk Pak Polisi?

Kain sarigading sendiri memiliki corak hampir seperti kain lurik, tetapi kain sarigading memiliki motif tersendiri. Sarigading sendiri kain tenun khas Banjar yang ditenun dengan tehnik tenun sederhana dan kain tenun ini sudah ada sejak berdirinya Kerajaan Negara Daha, negara tertua di Kalimantan Selatan periode abad ke 13 sampai abad ke 14.

"Dimulai dari Kerajaan Negara Dipa kemudian Kerajaan Negara Daha, pada waktu Kerajaan Negara Daha inilah mulai dikenal wastra tenun Kalimantan Selatan," ujarnya.

Menurut cerita Dwi Putro Sulaksono, pada saat Raden Galuh Ciptasari alias Puteri Ratna Janggala Kediri gelar anumerta Puteri Junjung Buih atau Puteri Tunjung Buih (sebagai perwujudan puteri buih/puteri bunga air menurut mitos Melayu) memerintah Kerajaan Negara Daha dia ingin dicarikan suami dari Kerajaan Demak, yakni Pangeran Suryanata, anak dari Sultan Trenggono.

"Pada saat itu jika ingin Putri Junjung Buih bisa turun ke darat dengan syarat harus diberikan selembar kain, sehingganya pangeran memerintahkan 40 wanita untuk menenun kain sarigading ini dalam satu hari, karena kain ini merupakan permintaan dari Putri Junjung Buih maka kain sarigading juga sering disebut Kain Pamintan yang artinya kain permintaan," ujarnya.

Sejak itulah masyarakat Banjar mulai mengenal cara tenun kain, yang dibuat dengan teknik tenun sederhana dengan alat tenun gadok dengan motif Balang.

"Ada balang ba kampat, ada balang bapa maca, motif balang itu motif segi empat tetapi lebih besar sedangkan motif segi empat kecil kecil disebut bapa maca," jelasnya.

Baca: Jadwal Bola Hari Ini, Ada Liga Champions, Liga 1 2019 Kualifikasi AFC U-16, PSG vs Real Madrid Besok

Baca: TERUNGKAP Penyebab Pembunuhan Keji Bocah 10 Tahun Saat Belajar Kelompok, Kepala Ditebas Hingga Putus

Baca: Blak-blakan Muzdalifah Baru Dinikahi Brondong 5 Bulan, Jual Rumah Mewah Peninggalan Mantan Suami

Baca: Telusuri Titik Panas, Dapati Gubuk di Tengah Hutan, Tim Satgas Karhutla Temukan Senjata Api Rakitan

Sedangkan untuk tenun ikat dan tenun songket di daerah Banjar, diperkenalkan oleh pendatang dari Suku Bugis dengan dialek Wajo.

"Saat ada pemberontakan Arung Palaka, orang bugis dengan dialek Wajo migrasi ke daerah Pagatan dan dia menghasilkan tenun Pagatan hingga saat ini," pungkasnya.

Penulis: fitri
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved