Dua Kawasan Restorasi BRG di Jambi Terbakar

Dua lokasi kawasan restorasi yang dilakukan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) di Jambi ikut terbakar pada musim kemarau tahun 2019 ini.

Dua Kawasan Restorasi BRG di Jambi Terbakar
ist
Kebakaran lahan di Tanjab Timur. 

Dua Kawasan Restorasi BRG di Jambi Terbakar

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Dua lokasi kawasan restorasi yang dilakukan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) di Jambi ikut terbakar pada musim kemarau tahun 2019 ini.

Kedua kawasan restorasi itu berada di Hutan Lindung Gambut Desa Londrang, dan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Orang Kayo Hitam (OKH) Kabupaten Muarojambi.

Kedua lokasi Restorasi tersebut merupakan kawasan kubah gambut degan kedalaman lebih tiga meter yang saat ini masuk dalam kawasan restorasi oleh BRG di Jambi yang juga pernah terbakar ditahun 2015 lalu.

Terkait hal ini, Soesilo Indrarto Kedeputian 2 BRG dikonfirmasi saat mengikuti Talkshow yang di gelar KKI Warsi mengiyakan kejadian itu.

Namun kebakaran yang terjadi merupakan daerah restorasi yang dilakukan kemitraan pihak NGO. Kebakaran terjadi karna adanya kebocoran kubah gambut di sekitar lokasi restorasi gambut.

Baca: Perda Kelola Gambut di Jambi Tak Jalan, Karhutla Kembali Berulang

Baca: KKI Warsi Temukan Fakta Kebakaran 2019 Mengulang Kejadian 2015

Baca: Anak Sekolah di Tanjab Barat Diliburkan, Dinas Pendidikan Keluarkan Surat Imbauan

Baca: Lahan Gambut Dalam Disodet, Perusahaan Jadi Penyebab Kebakaran di Jambi Berulang

Baca: KKI Warsi: Luas Kebakaran Hutan dan Lahan di Jambi 18.584 Hektar

Kebocoran terjadi karena masih ada kanal di sekitar lokasi retorasi yang tidak ditutup sehingga menyebabkan kawasan yang selama ini direstorasi mengalami kebocoran dan ikut kering.

Untuk restorasi sendiri kata Soesilo bukanlah hal mudah, karena harus ada kesepakatan bersama semua pihak yang masuk di dalam kawasan Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG).

"Sebetulnya kita harus melihat ini sebagai KHG dan ini luas, harus melibatkan semua pihak. Di kawasan itu ada lahan perusahaan, ada masyatakat. Meskipun kita sudah melakukan sekat kanal tapi kebocoran di sekitarnya terjadi, itu yang menyebabkan kekeringan dan mudah terbakar," ujarnya.

"Tapi karena kita sudah membangun sekat kanal yang terbakar hanya di atas permukaan," sambungnya.

Ia menambahkan untuk kegiatan restorasi bukan lah hal mudah dan butuh waktu yang panjang. Selain restorasi, perlu adanya peningkatan kesadaran dan kapasitas perekonomian bagi masyarakat sekitar.

Soesilo juga mengatakan Seluruh KHG harus diintervensi untuk tujuan restorasi lewat pendekatan masyarakat. Mengingat di kawasan KHG ada masyarakat yang perlu terus dilakukan penyadaran lewat sosialisasi.

Namun terkait luas kawasan restorasi BRG yang terbakar, pihaknya belum melakukan penghitungan, "Belum kita belum melakukan penghitungan, itu wewenangnya tim satgas," pungkasnya. (Dedy Nurdin)

Penulis: Dedy Nurdin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved