KKI Warsi Temukan Fakta Kebakaran 2019 Mengulang Kejadian 2015

Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi mencatat dari 8.168 hektar kawasan gambut yang terbakar pada 2019 sebagian besar pernah terbakar pada 2015.

KKI Warsi Temukan Fakta Kebakaran 2019 Mengulang Kejadian 2015
ist
Kebakaran lahan di Tanjab Timur. 

KKI Warsi Temukan Fakta Kebakaran 2019 Mengulang Kejadian 2015

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi mencatat dari 8.168 hektar kawasan gambut yang terbakar pada 2019 sebagian besar pernah terbakar pada 2015.

Sementara untuk kawasan gambut yang terbakar menurut KKI Warsi, justru terjadi di daerah yang ditanami sawit. Baik oleh pemegang izin konsesi perusahaan maupun lahan masyarakat.

Bahkan hasil ground checking di lapangan di beberapa sampel untuk lahan gambut yang terbakar justru terjadi di daerah yang pernah terbakar di tahun 2015.

"Ground check di Londrang cukup luas terbakar tahun 2015 saat ini terbakar juga. Itu salah satu sampling kami ambil, termasuk di beberapa daerah di Kumpeh yang dulu pernah terbakar saat ini kembali terbakar," ujarnya, Selasa (10/9/2019).

Baca: Ini Luas Lahan Gambut yang Terbakar di Jambi Menurut Data KKI Warsi

Baca: BREAKING NEWS, Kabut Asap, Sekolah di Seluruh Muarojambi Diliburkan Tiga Hari

Baca: Bong dan Sabu Ditemukan di Dalam Sel, 10 Tahanan Kejari Jambi Diperiksa

Baca: KKI Warsi: Luas Kebakaran Hutan dan Lahan di Jambi 18.584 Hektar

"Perkebunan kelapa sawit temuan kami di 2015 lokasi sama terbakar kembali," pungkasnya.

Secara keseluruhan, dari total luas lahan yang terbakar di Jambi, 4.359 hektar lahan yang terbakar merupakan areal kelapa sawit.

Data ini berdasarkan analisis KKI Warsi melalui Citra Lansat, satelit LAPAN, NASA dan NOAA setelah melakukan overlay pada izin perkebunan dan RTRW di wilayah Provinsi Jambi.

Tingginya angka kebakaran hutan dan lahan di perkebunan sawit terutama di kawasan gambut karena masih adanya ketidak patuhan pihak perusahaan untuk melakukan sekat kanal.

Sekat kanal sendiri dimaksudkan untuk menjaga ketingian muka air 40 cm di bawah permukaan untuk menjaga kelembaban kawasan gambut.

"Tapikan kenapa ini tidak dilaksanakan karna kalau dibasahi, akar sawit ini akan busuk," ujarnya.

"Solusinya harus kembali pada peraturan presiden tahun 2016, harus dibasahi untuk daerah gambut, kalau tidak dia akan lebih mudah kering ketika kemarau akan mudah terbakar," sambung Rudi Syaf, Direktur KKI Warsi. (Dedy Nurdin)

Penulis: Dedy Nurdin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved