Dua Pejabat Desa Napal Sisik Jadi Tersangka Korupsi Dana Desa

Satreskrim Polres Batanghari menetapkan dua orang tersangka dalam kasus korupsi Dana Desa (DD) Napal Sisik.

Dua Pejabat Desa Napal Sisik Jadi Tersangka Korupsi Dana Desa
Tribunjambi/Rian Aidilfi
Kasat Reskrim Polres Batanghari, Iptu Orivan Irnanda. 

Dua Pejabat Desa Napal Sisik Jadi Tersangka Korupsi Dana Desa

TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN - Satreskrim Polres Batanghari menetapkan dua orang tersangka dalam kasus korupsi Dana Desa (DD) Napal Sisik, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari tahun anggaran 2018.

Dua orang yang terseret dalam kasus penyelewengan DD ini yaitu Sargawi (45) selaku Pjs Kepala Desa Napal Sisik periode 2017-2018. Sargawi juga merupakan PNS di SD 31. Kemudian Bambang Heri Jasmani (30) selaku Kasi Pemerintahan Desa Napal Sisik/Mantan Ketua TPK tahun 2018.

Hal ini disampaikan oleh Kasat Reskrim Polres Batanghari, Iptu Orivan Irnanda. Ia mengatakan, dua orang tersebut ditetapkan sebagai tersangka pada 2 September 2019.

"Penetapan status tersangka pada dua pejabat Desa Napal Sisik ini berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap para saksi," ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (10/9).

Baca: Festival Batanghari Kembali Digelar September, Ini Tanggal dan Rangkaian Acaranya

Baca: Bong dan Sabu Ditemukan di Dalam Sel, 10 Tahanan Kejari Jambi Diperiksa

Baca: Ini Luas Lahan Gambut yang Terbakar di Jambi Menurut Data KKI Warsi

Baca: Bersihkan Lahan untuk Tanam Kopi, Petani di Jambi Diperiksa Gara-gara Kebakaran Lahan

Baca: KKI Warsi: Luas Kebakaran Hutan dan Lahan di Jambi 18.584 Hektar

Orivan melanjutkan, berdasarkan penghitungan oleh Inspektorat Kabupaten Batanghari, dana yang diselewengkan berjumlah Rp 154 juta lebih.

Lebih lanjut dijelaskannya bahwa pada 2018 lalu, Desa Napal Sisik ini mendapat anggaran DD yang bersumber dari APBN sejumlah Rp 732 juta.

Lalu dalam penggunaan anggaran tersebut terdapat sejumlah kegiatan, yaitu pemeliharaan gedung PAUD, Posyandu, gedung serba guna dan pengadaan sarana/prasarana olahraga.

"Dari 4 kegiatan itu ditemukan kerugian dari dua kegiatan yaitu kegiatan pemeliharaan gedung serba guna sekira Rp 51 juta serta pengadaan sarana/prasarana olahraga dengan kerugian Rp103 juta," sebut Orivan.

Saat ini, kedua tersangka belum dilakukan penahanan. Lantaran masih dalam proses penyidikan lebih lanjut.

"Keduanya secepatnya akan kita lakukan penahanan. Dan tidak menutup kemungkinan ada tersangka tambahan yang terseret dalam kasus ini dari pengembangan selanjutnya," jelasnya.

Kedua tersangka disangkakan pasal 2 ayat (1) UU RI Nomor 31 tahun 1999 jo UU RI no 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUH Pidana atau persangkaan Subsider pasal 3 UU RI Nomor 31 tahun 1999 jo UU RI no 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHPidana.

"Ancaman hukuman minimal 4 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara," pungkasnya. (*)

Penulis: Rian Aidilfi Afriandi
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved