Berita Muarojambi

BREAKING NEWS: ISPU Muaro Jambi Status Awas, Udara Terpapar Asap, Masyarakat Diimbau Kenakan Masker

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kabupaten Muarojambi sudah di kategorikan sebagai awas.

Penulis: Samsul Bahri | Editor: bandot
IST
Satgas Karhutla berupaya memadamkan api di Kabupaten Muarojambi. 

BREAKING NEWS: ISPU di Muaro Jambi Status Awas, Udara Terpapar Asap, Masyarakat Diimbau Kenakan Masker

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI- Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kabupaten Muarojambi sudah di kategorikan sebagai awas.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muarojambi, Firman, Kamis (8/8).

Ia menyebutkan bahwa Parameter pencemaran udara di Kabupaten Muarojambi berkisar 67-75.

Untuk itu disampaikan oleh Firman bahwa pihaknya menyarankan agar masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.

"ISPU kita sekarang ini sekitar 67 sampai 75 jadi posisinya itu sudah kuninglah bahasanya itu. Kalo di bawah 50 itu masih aman, kalo di atas 50 sampai 100 itu awas, kalo diatas 100 beresiko dan berbahaya,"terangnya

Lebih lanjut, Firman juga menyarankan untuk masyarakat jika memang harus melakukan aktivitas di luar ruangan maka di haruskan untuk memakai masker.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muarojambi, Firman
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muarojambi, Firman (TRIBUNJAMBI/SAMSUL BAHRI)

Terhadap ISPU ini juga, Firman pada hari ini akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Muarojambi.

Baca: VIDEO: Bus Jurusan Jakarta-Padang, Tabrakan dengan Truk di Bungo, 2 Orang Meninggal Ditempat

Baca: VIDEO: Debu Batu Bara Sampai ke Komplek Percandian Muarojambi, Sudah di Ambil Sampel untuk di Cek

 

"Hari ini akan kita laporkan terhadap ISPU ke dinas Kesehatan Kabupaten Muarojambi. Untuk anak sekolah juga kita sarankan untuk tidak melakukan kegiatan di luar ruangan kelas, kemudian banyak minum air putih, untuk menghindari ISPA dan lain-lain," pungkasnya.

11 Hari Lahan Gambut Terbakar

Suasana kabut pekat terasa mengeringkan kelopak mata, meski masker dikenakan aroma pekat asap pembakaran dari tanah gambut begitu menyengat dan mengganggu indra penciuman. Terutama saat angin bertiup dari arah muka.

Terpaan asap disertai udara hangat seketika membuat gerah. Sejumlah orang yang baru tiba pun seketika bergegas memasang masker.

Sementara diseberang kanal, beberapa orang warga yang tergabung dalam MPA (Masyarakat Peduli Api) Desa Arang-Arang bersama petugas lainnya sibuk mengarahkan nozel selang pemadam api ke sekitarnya.

Beberapa orang berjaga diseberang kanal, mengotrol mesin robin yang bekerja menyedot air dari kanal yang airnya keruh.

Proses pemadaman yang dilakukan petugas dan MPA Desa Arang-arang
Proses pemadaman yang dilakukan petugas dan MPA Desa Arang-arang (Tribunjambi/Dedy Nurdin)

Menurut informasi warga yang melakukan pemadaman bersama petugas, sudah 11 hari sejak terbakar.

Tak ada juga tanda akan padam, meski disiram secara terus menerus, namun sebentar saja ditinggal akan kembali memancarkan asap dari dalam tanah itu.

Sekitar 50 hektar lebih lahan gambut yang berada di perbatasan desa Arang-Arang dan Desa Sipin Teluk Duren, Kecamatan Kumpeh Ulu itu terbakar selama 11 hari kemarin.

Sementara lokasi yang terbakar itu menurut warga merupakan lahan perkebunan warga dan tanah kosong. Lokasi yang terbakar kini hanya terpisah kanal dengan areal perusahaan perkebunan sawit PT SNP.

 

Zulkarnain, anggota MPA Arang-arang yang juga merupakan tim pemadam kebakaran dari PT SNP mengatakan sekitar 60 warga ikut terlibat melakukan pemadaman api. Namun, untuk memadamkan api bukan lah muda.

"Kami ada 60 orang yang ikut memadamkan, sebagian memang kami warga Arang-Arang yang kerja di PT SNP, jadi tugas kami juga mencegah agar api tidak menjalar ke lahan perusahaan, makanya kami siram terus sambil juga memadamkan api," ujarnya.

Baca: Konser KOTAK di Sarolangun, Dikenai Denda Adat, Ini Kesalahan dan Denda yang Harus Dibayar Panitia

Baca: BREAKING NEWS: Kejari Bungo Tahan 2 Tersangka Dugaan Korupsi Alkes Puskesmas, Sidang di Jambi

Bahkan selain warga, sejumlah personel TNI dan Polri bersama gabungan BPBD dan manggala agni juga melakukan pemadaman di titik berbeda dilokasi itu. Namun, kebakaran tak juga bisa diatasi dengan mudah.

"Malah beberapa hari ini ada water bombing dari helikopter, tetap juga karna api di dalam bukan di atas tanah. Makanya padam di atas di bawah tetap nyala seperti dalam sekam," jelasnya. 

Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead Saat mencoba proses pemadaman api di lokasi kebakaran lahan gambut di desa Sipin Teluk Duren yang berbatasan dengan desa Arang-Arang, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi pada Rabu (7/8/2019)
Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead Saat mencoba proses pemadaman api di lokasi kebakaran lahan gambut di desa Sipin Teluk Duren yang berbatasan dengan desa Arang-Arang, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi pada Rabu (7/8/2019) (Tribunjambi/Dedy Nurdin)

Dalam waktu 11 hari kebakaran, saat ini warga di desa Arang-Arang dan Sipin Teluk Duren pun mulai merasakan dampaknya.

asap pun dalam beberapa hari terakhir mulai merambah pemukiman warga, terutama dimalam hari. Asap pekat tak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga pernafasan warga.

"Dia terasanya malam, jam 9 malam keatas asapnya turun pekat, jadi bernafas itu terasa kering terus hidung dan tenggokan," kata Zulkarnain.

 

Namun sampai sejauh ini Zulkarnai mengatakan belum ada dampak langsung yang terasa akibat paparan kabut asap di desanya.

"Sekarang belum yang mengeluh seperti apa yang jelas kami rasakan kalau malam sampai di dalam kamarpun asapnya masuk. Dan bernafas terganggu rasanya," katanya.

Sarkim (54) yang juga rekan kerja Zulkarnain diperusahaan dan MPA mengatakan lokasi kebakaran gambut saat ini juga pernah terbakar di tahun 2015 lalu.

Bahkan upaya pemadaman juga sulit, menurutnya salah satu cara yang bisa meredam meluasnya lokasi kebakaran dengan menggunakan nozel air yang bisa disuntikkan langsung ke dalam tanah.

"Kita alatnya tidak ada, kalau ada mungkin lebih efektif. Tahun 2015 saya ikut juga memadamkan dan itu pun sulitnya sama seperti sekarang," ujarnya.

Ia mengatakan sudah 11 hari terakhir jarang pulang ke rumah. Sepanjang hari ia bekerja memadamkan kebakaran, ia berharap agar kebakaran tahun 2015 lalu dan dampaknya tar terulang lagi.

"Bahaya ngeri soalnya, ini aja jarang pulag rumah. Setiap hari pake masker dan banyak minum air putih, kalau ndak bisa sesak nafas di sini. Kalau ngingat tahun 2015 lalu wah itu ngeri lah," ujarnya.

Sudah 11 Hari Lahan Gambut di Desa Arang-arang Terbakar, Masayarakat Desa Mulai Terpapar Asap  (Dedy Nurdin/Tribun Jambi)

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved