Kopi Pagi
Waspada Sumatera Darurat Asap (Karhutla), Jawa Darurat Listrik (PLN)
Dua bencana ini, sebenarnya sangatlah terduga dan terprediksi. Namun demikian, seringkali kita memang gagal untuk menanggulanginya.
Penulis: Dodi Sarjana | Editor: Duanto AS
SUMATERA Darurat Asap (Karhutla), Jawa Darurat Listrik (PLN). Dua tragedi tengah menimpa kita.
Pertama, polusi asap kembali menerpa sebagian wilayah Sumatera. Dan yang kedua, byar pet listrik menimpa Jawa dan Bali. Maka lengkaplah penderitaan kita.
Dua bencana ini, sebenarnya sangatlah terduga dan terprediksi. Namun demikian, seringkali kita memang gagal untuk menanggulanginya.
Di musim kemarau, kekeringan seringkali berimbas kepada ketiadaan air yang lalu juga berdampak kepada pasokan listrik (PLTA; tenaga air). Kemarau pula, biasanya menjadi tertuduh untuk biang kebakaran lahan dan hutan.
Celakanya, kekeringan atau musim kemaru tahun ini diprediksi lebih galak dari tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kemenko PMK, Dody Usodo Hargo Suseno, mengatakan puncak musim kemarau diprediksi bakal terjadi pada Agustus 2019.
Baca Juga
Awas 14 Penyakit yang Muncul Akibat Udara Kotor! Siapa Bilang Kabut Asap Tak Bahaya
Siapa Sebenarnya Gus Yasin? Anak dari KH Maimun Zubair Orang Nomor Dua di Jawa Tengah
Dua Rahasia KH Maimoen Zubair Dibuka Gus Dur setelah Tinggalkan Tausiah, Anda gak akan kuat`
Total Utang BUMN Mencapai Rp 2.394 Triliun? Akhirnya Terungkap Digunakan untuk Apa Saja
Posisi Kaki Irish Bella Memang Selalu Beda, Mengapa? Foto-foto Masa Kecil Diungkap Johan de Beule
"Disampaikan dari BMKG, kekeringan dimulai dari bulan Juli sampai Oktober nanti, kemudian puncaknya akan terjadi di bulan Agustus," ujar Dody dalam jumpa pers di kantor Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (30/7/2019).
Nah tentunya, kalau terjadi kering kerontang berkelanjutan, dampaknya tidak saja terkait asap dan listrik, tapi soal ketersediaan pangan juga akan terganggu.
Tapi itu tidak kita obrolkan dulu ya, kita ngerumpi soal asap dan listrik saja.
Dikutip dari kompas.com, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( KLHK) menyatakan, berdasarkan data yang dihimpun sepanjang Januari hingga Mei 2019, terdapat 42.740 hektar hutan dan lahan terbakar.
Jumlah luas hutan dan lahan yang terbakar itu diketahui berdasarkan pengamatan citra Landsat 8 Operational Land Imager dan pemantauan lapangan. "Kemudian juga terverifikasi dan cek lapangan, sampai bulan Mei ini kami hitung 42.740 hektar," kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Raffles B Panjaitan di Gedung KLHK, Jakarta, Kamis (1/8/2019).
Raffles mengatakan total lahan yang terbakar itu paling banyak mengenai lahan gambut. Sisanya, yang terbakar adalah lahan tanah mineral.
"Nah yang memang banyak itu di gambut 27.538 hektare, yang di mineral 15.202 hektare," ujarnya.
Provinsi Riau menjadi lokasi yang mengalami kebakaran hutan dan lahan terluas, yakni 27.683 hektare. Berikutnya diikuti tiga provinsi lain, yaitu Kalimantan Timur, Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.