Berita Jambi

Sepakat, OJK dan Bareskrim Polri Siap Berantas Fintech Peer To Peer Lending Ilegal&Investasi; Ilegal

Sepakat, OJK dan Bareskrim Polri Siap Berantas Fintech Peer To Peer Lending Ilegal &Investasi; Ilegal

Sepakat, OJK dan Bareskrim Polri Siap Berantas Fintech Peer To Peer Lending Ilegal&Investasi; Ilegal
Kontan/Baihaki
16022015_OJK. Sepakat, OJK dan Bareskrim Polri Siap Berantas Fintech Peer To Peer Lending Ilegal &Investasi; Ilegal 

OJK dan Bareskrim Polri Sepakat Berantas Fintech Peer To Peer Lending Ilegal dan Investasi Ilegal

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia (Bareskrim Polri) yang tergabung dalam Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan Investasi atau Satgas Waspada Investasi (SWI) sepakat untuk menindak tegas pelaku investasi ilegal dan Fintech Ilegal untuk melindungi kepentingan masyarakat.

“Satgas Waspada Investasi dalam hal ini OJK dan Bareskrim Polri berkomitmen untuk meningkatkan koordinasi mempercepat penindakan terhadap perusahaan investasi ilegal dan Fintech Ilegal yang telah ditangani oleh Satgas Waspada Investasi namun masih beroperasi,” kata Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing dalam jumpa pers bersama Bareskrim Polri di Mabes Polri Jakarta, baru baru ini.

Baca: Bahas Layanan Jasa Keuangan, OJK Gelar Rapat Pleno Bersama TPAKD Provinsi Jambi

Baca: Daftar 20 Entitas Investasi Ilegal, Satgas Waspada Investasi Bilang Janjikan Untung Tak Masuk Akal

Baca: Siapa Sebenarnya Gus Yasin? Anak dari KH Maimun Zubair Orang Nomor Dua di Jawa Tengah

Sesuai data SWI, sampai saat ini, jumlah Fintech Peer-To-Peer Lending tidak terdaftar atau memiliki izin usaha dari OJK sesuai POJK Nomor 77/POJK.01/2016 yang berpotensi merugikan masyarakat pada tahun 2018 sebanyak 404 entitas sedangkan pada tahun 2019 sebanyak 826 entitas sehingga secara total sejak 2018 yang telah ditangani sebanyak 1230 entitas.

Data ini termasuk tambahan penanganan yang dilakukan SWI pada 16 Juli 2019 sebanyak 143 Fintech Peer-To-Peer Lending Ilegal.

Berdasarkan hasil penelusuran terhadap lokasi server entitas tersebut, sebanyak 42 persen entitas tidak diketahui asalnya, diikuti dengan 22 persen dari Indonesia, 15 persen dari Amerika Serikat, dan sisanya dari berbagai negara lain.

Namun, hal tersebut tidak menunjukkan identitas sesungguhnya dari pelaku di balik entitas tersebut.

“Walaupun Satgas Waspada Investasi sudah banyak menutup kegiatan Fintech Peer-To-Peer Lending tanpa izin OJK, tetap saja banyak aplikasi baru yang muncul pada website dan Google Playstore atau link unduh aplikasi yang diblokir tersebut," ujarnya.

"Masih banyak yang dapat diakses melalui media lain, sehingga masyarakat diminta untuk tidak mengakses atau menggunakan aplikasi Fintech Peer-To-Peer Lending tanpa izin OJK. Apabila ingin meminjam secara online, maka masyarakat agar melihat daftar aplikasi Fintech Peer-To-Peer Lending yang telah terdaftar di OJK pada website www.ojk.go.id,” kata Tongam.

Baca: Pemerintah akan Koordinasi dengan Pengawas, Soal Stok Gas 3 Kg Jelang Idul Adha 1440 H

Baca: Masuk Daftar Nominasi 100 Wanita Tercantik Indonesia 2019, Luna Maya vs Syahrini Mana Akan Menang?

Baca: Lowongan CPNS 2019 Pasti Dibuka, Perhatikan Ini Alur Pendaftaran yang Benar Jangan Sampai Salah

Perlu diketahui juga bahwa Fintech Peer-To-Peer Lending Ilegal bukan merupakan ranah kewenangan OJK karena tidak ada tanda terdaftar dan izin dari OJK sedangkan yang menjadi ranah kewenangan OJK adalah Fintech Peer-To-Peer Lending yang terdaftar dan berizin di OJK.

Halaman
123
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved