Aliran Diduga Sesat Dibongkar Polisi, Pemimpin Mengaku Sebagai Nabi, Simbol Salib Diganti Segitiga

Kelompok diduga aliran sesat yang menggunakan kitab suci Katolik diamankan di Mimika, Papua. Pemimpin Kelompok Doa Hati Kudus Allah Kerahiman Ilahi

Aliran Diduga Sesat Dibongkar Polisi, Pemimpin Mengaku Sebagai Nabi, Simbol Salib Diganti Segitiga
KOMPASTV/IRSUL PANCA ADITRA
Tersangka saat dihadirkan polisi dalam konfrensi pers, kasus dugaan penodaan agama, Sabtu (3/8/2019) 

Sebelum menetapkan pengikut kelompok ini sebagai tersangka, polisi telah meminta keterangan saksi ahli dari Kasi Urusan Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Mimika.
Termasuk melakukan klarifikasi dengan Pastor Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan Lambertus Nita, OFM.

Pastor Gereja Katolik Santo Stevanus Sempan Lambertus Nita menegaskan bahwa kelompok tersebut telah menyimpang dari ajaran Katolik.

"Kelompok ini memang sangat menyimpang dari Agama Katolik sehingga kami menyesal, sehingga saya menyerukan dari mimbar untuk mengamankan," kata Pastor Lambertus.

Polisi telah menetapkan tiga orang ditetapkan sebagai tersangka terkait aliran sesat di Timika.

Mereka adalah Salvator Kemeubun yang merupakan pemimpin kelompok, Johanis Kasamol (65), dan David Kanangopme (45).

Para tersangka dikenakan Pasal 156a KUHP juncto Pasal 55 ayat (1), tentang penodaan agama dengan ancaman pidana penjara maksimal 5 tahun.

Kelompok ini diamankan pada Minggu (28/7/2019) di tempat peribadatan mereka di Jalan Petrosea, Irigasi, Distrik Mimika Baru, setelah kepolisian mendapat laporan masyarakat.

Di tempat tersebut diamankan 1 meja kayu berbentuk segitiga warna cokelat, 2 spanduk bergambar cakra bertuliskan putra api dan roh, 1 spanduk bertuliskan cakra delapan.

Ada juga 2 bingkai bergambar hati malaikat bumi bertuliskan putra api, dan 4 bingkai pedoman petunjuk arah hidup.

Diamankan juga 5 kain selendang warna kuning biru dan keemasan, 1 meja papan terbungkus kain warna biru, 2 tempat untuk bakar kemenyan, 1 bantal dan 1 tikar.

Halaman
123
Editor: suang
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved