PRAJURIT Kopassus 5 Hari Bertahan di Tumpukan Mayat Rekan yang Membusuk, Tiba-tiba Lewat Sosok Ini

TRIBUNJAMBI.COM - Pada 7 Desember 1975 silam, TNI menggelar operasi lintas udara terbesar untuk

Editor: ridwan
Kolase/Tribun Jambi
Agus Hernoto Legenda Kopassus 

Para prajurit sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan keluarga yang sudah ditinggalkan empat bulan lamanya.

Kapten Bambang menceritakan, saat tiba di asrama Kopasandha, Cijantung, terlihat ibu-ibu, anak-anak, dan masyarakat berdiri berbaris di sepanjang jalan.

Mereka melambai-lambaikan tangannya menyambut para pahlawan yang telah kembali dari medan perang.

Baca: Baru Kenal Setahun dari Facebook, Gadis 16 Tahun Asal Lampung Dicabuli Berkali-kali

Pada saat truk berhenti, berhamburanlah mereka mencari suami, ayah, keluarga atau teman mereka.

"Ada satu hal yang membuat saya menitikkan air mata ketika menyaksikan putra almarhum Koptu Samaun berlari kian kemari mencari ayahnya yang sudah gugur dan dikebumikan di Timor Timur," kenang Kapten Bambang sedih.

Rupanya sang ibu tak berani menceritakan pada anaknya bahwa sang ayah sudah gugur.

 Karena itulah bocah malang itu masih berlari-lari ingin mencari ayahnya yang telah meninggal

Kopral Satu Samaun gugur pada tanggal 7 Desember 1975 di tengah pertempuran merebut Kota Dili.

Baca: Terbongkar Trik SBY Bebaskan Meutya Hafid yang Pernah Disandera di Irak, Info Dini Hari Jadi Kunci

Dia mendapat kenaikan pangkat anumerta menjadi sersan dua

 Prajurit Kopassus Bertahan 5 Hari di Antara Mayat Rekannya

Misi berat juga pernah dialami prajurit Kopassus (saat itu bernama RPKAD) saat menjalankan misi Tri Komando Rakyat (Trikora) di Papua

Dilansir dari buku '52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat' terbitan tahun 2014, seorang prajurit Kopassus dikisahkan pernah bertahan diantara mayat rekan-rekannya usai disergap pasukan Belanda

Saat itu, TNI melakukan infiltrasi militer ke Papua melalui Operasi Banteng I.

Baca: 4 Artis yang Meninggal saat Produksi Film sedang Berlangsung, No 3 Sinetronnya Lagi Disukai Penonton

Operasi itu melibatkan personel Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang saat ini bernama Paskhas, dan RPKAD yang sekarang bernama Kopassus

Gabungan Kopassus dan Paskhas itu diterjunkan di tengah hutan belantara di Irian Barat. Mereka masuk wilayah pertahanan Belanda dan mengacaukan konsentrasi pasukan musuh.

Sejumlah personel Kopassus menampilkan atraksi menangani ular. Hewan melata itu kemudian direntangkan, digigit sampai putus, dan darahnya disemprotkan ke mulut satu sama lain.
Sejumlah personel Kopassus menampilkan atraksi menangani ular. Hewan melata itu kemudian direntangkan, digigit sampai putus, dan darahnya disemprotkan ke mulut satu sama lain. (AFP/Getty Images)
Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved