Berita Bungo

Dideng, Seni Sastra Lisan dari Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, yang Kian Punah

Dideng, Seni Sastra Lisan dari Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, yang Kian Punah

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Deni Satria Budi
Tribunjambi/Mareza
Dideng, Seni Sastra Lisan dari Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, yang Kian Punah 

Adalah Nenek Jariah, perempuan berusia 87 tahun yang masih setia merawat kelestarian Dideng.

Dialah yang mendapat gelar maestro Dideng dari Kemendikbud pada 2014 lalu. Nenek Jariah mempelajari langsung Dideng itu dari orang-orang tuanya.

Dialah yang paling berperan melestarikan seni Dideng itu, di Dusun Rantau Pandan. Nenek Jariah mulai kembali mengajarkan seni tutur Dideng pada kawula muda.

Dengan suaranya yang agak parau, Nenek Jariah coba mencapai nada yang tinggi. Diiringi alunan biola, suara Nenek Jariah masih sampai untuk melengkingkan Dideng.

Penampilan itu juga diselingi pewara. Gadis, pewara dalam penampilan itu menceritakan sinopsis singkat menjelang Nenek Jariah melengkingkan suaranya.

Dideng menceritakan tentang Puti Dayang Ayu. Konon, ada dua kakak beradik hidup berdua sejak orang tuanya meninggal. Seiring waktu, mereka berpisah.

Baca: Masih Keponakan Mahfud MD, Pencipta Robot Pemantau Sistem IT KPU Bersaksi untuk Prabowo-Sandi di MK

Baca: Misteri Gelar Profesor Limbad, Nama Perguruan Tinggi Tak Bisa Ditemukan

Baca: Fakta Lengkap Jelang Persebaya Vs Madura United: Deretan Pemain Absen dan Pencetak Hattrick Pertama

Namun sebelum berpisah, keduanya sepakat akan menjodohkan anak nanti. Kakak menikah dengan keturunan raja dan memiliki anak tampan bernama Dang Bujang, dan adik menikah dengan rakyat biasa dan memiliki anak bernama Puti Dayang Ayu.

Dang Bujang dan Puti Dayang Ayu menikah kemudian, dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun, Puti Dayang Ayu jatuh sakit dan kemudian meninggal.

Dia menjelma menjadi elang. Maka, jika ada elang berbunyi siang hari, konin itu jelmaan Puti Dayang Ayu. Berdasarkan informasi yang Tribunjambi.com peroleh, tradisi Dideng telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Baca: Pengakuan Mengejutkan, Saksi Tim Prabowo-Sandi Pernah Mendapat Ancaman Akan Dibunuh

Baca: Buka 2.381 Lowongan Kerja Jambi di Expo dan Job Fair, Segera ke Pelataran Parkir Transmart Jambi

Baca: Pengakuan Mengejutkan Ade Rai Soal Agung Hercules Idap Kanker Otak Stadium 4, Masih Lakukan Hal Ini

Alunan Dideng biasanya dilantunkan orang-orang tua untuk menemani anak-anak menganyam pandan, bercerita, hingga bermain. Selain itu, Dideng juga sebagai sarana menyampaikan pesan-pesan moral dan nasihat pad anak-anak mereka.

Sebagai seni sastra lisan, kidung yang terkandung dalam Dideng memuat pikiran, perasaan, perilaku masyarakat Melayu Jambi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi hingga saat ini.

Kini, seni sastra lisan Dideng hampir punah, dan Nenek Jariah masih memperjuangkan kelestarian seni itu di usianya yang kian renta.

Dideng, Seni Sastra Lisan dari Rantau Pandan, Kabupataen Bungo, yang Kian Punah (Mareza Sutan A J/ Tribun Jambi)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved