Pengakuan Mengerikan Backpacker di Australia, Wanita Ditiduri, Tak Mau Diancam Diperkosa

Berselang beberapa minggu setelah Frances tiba, perilaku seksual pemilik hostel semakin menjadi-jadi.

Editor: Nani Rachmaini
kompas.com
Ilustrasi pelecehan seksual 

Misalnya dia harus tidur dan mandi bersama binatang, dengan toilet yang juga dijadikan kandang ayam.

Seorang backpacker lainnya, Emily, mendukung perlunya perubahan sistem visa liburan kerja ini.

Dia menjalani program ini di Queensland utara, tinggal di rumah milik petani berusia 40 tahun bersama enam backpacker wanita muda lainnya.

Setelah beberapa minggu si petani mulai ruang gerak mereka, kata Emily.

"Dia mulai sangat mengendalikan. Sampai memasang kamera di rumah. Mengunci gerbang sehingga kami tak bisa keluar," katanya.

Menurut dia, sistem visa 417 ini memungkinkan petani seperti ini melakukan hal-hal seperti itu. Sebab, "Semua orang menginginkan jenis pekerjaan ini," kata Emily.

Ibu yang anaknya terbunuh

Sejak putrinya Mia terbunuh di asrama backpacker di Queensland tahun 2016, Rosie Ayliffe telah mengabdikan hidupnya menjaga keselamatan para backpacker muda lainnya.

Brunette woman Rosie Ayliffe looking ahead wearing a pink cardigan Photo: Warga Inggris Rosie Ayliffe mendapat kabar kematian anaknya di Australia dari polisi pada suatu sore di tahun 2016. (ABC News: Roscoe Whalan)

Mia sebenarnya baru beberapa hari menjalani penempatan tiga bulan di pedalaman ketika ditikam sampai mati bersama sesama backpacker Tom Jackson, yang bermaksud menolongnya.

Tahun lalu, pengadilan memutuskan terdakwa Smail Ayad sebagai "tidak waras" saat terjadinya serangan itu. Pria ini telah dimasukkan ke rumahsakit jiwa.

Rosie Ayliffe melalui akun medsosnya sangat aktif memberikan saran dan dukungan bagi ribuan orang yang ingin bekerja di pedalaman Australia.

Dia mengatakan kisah eksploitasi dan serangan seksual sudah terlalu jamak. "Dulu selalu membuatku menangis," katanya.

"Setiap kali mendengar cerita seperti itu, rasanya seperti mengalami kematian Mia kembali," tambahnya.

Menurut Rosie, perpanjangan durasi Visa 417 akan meningkatkan jumlah backpacker yang terpapar pada situasi mengerikan.

"Sistem visa ini sebenarnya memerlukan regulasi. Tapi bukannya regulasi, mereka malah memperpanjangnya," katanya.

Dia menuding Pemerintah Australia bertanggungjawab karena melaksanakan program ini.

"Mereka harus memastikan bahwa setiap asrama dan tempat kerja yang didatangi anak-anak muda kita itu bisa diakses, mematuhi aturan, dan aman," tambahnya.

Mia Ayliffe Chung sitting at a table smiling while holding a cup of tea Photo: Mia Ayliffe Chung baru delapan bulan tinggal di Australia saat dia dibunuh. (Supplied)

Seorang agen migrasi Mark Glazbrook sependapat dengan Rosie Ayliffe. Dia menyebut eksploitasi yang dilaporkan ke polisi hanyalah puncak gunung es.

"Kami melihat sejumlah besar kasus eksploitasi dalam program visa liburan kerja saat ini terjadi di bawah permukaan," kata Glazbrook.

"Begitu programnya diperpanjang, maka hal itu akan meningkatkan kesempatan bagi pengusaha mengeksploitasi lebih banyak orang," tambahnya.

Badan pengawas hubungan industrial Australia, Fair Work Ombudsman, tahun lalu menyelesaikan 719 kasus yang melibatkan pemegang visa 417.

Pihak Departemen Dalam Negeri yang dihubungi ABC menjelaskan pihaknya telah menerapkan sejumlah perubahan aturan untuk mengatasi eksploitasi dari pengusaha tidak bermoral.

Termasuk pembentukan Satgas Buruh Migran dan tambahan anggaran untuk Ombudsman.

"Pekerja WHV yang bekerja di mana saja di Australia berhak atas hak dan perlindungan dasar yang sama dengan warga negara dan penduduk tetap Australia," kata juru bicara Depdagri.

"Tuduhan atau informasi yang diterima sehubungan dengan eksploitasi kerja atau seksual serta pelecehan pemegang visa, termasuk menahan paspor mereka, telah dirujuk ke pihak berwenang untuk ditindaki," katanya.

Depdagri menyatakan komitmennya untuk memastikan para pekerja pendatang itu dilindungi dari eksploitasi atau pelecehan, terlepas dari kewarganegaraan mereka.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News di sini.


Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved