Hasil Real Count KPU di Bengkulu Beda dengan Quick Count, Lembaga Survei Ramai-ramai Komentar

Para lembaga survei ramai-ramai buka suara terkait adanya perbedaan hasil quick count dengan real count Pilpres 2019

Hasil Real Count KPU di Bengkulu Beda dengan Quick Count, Lembaga Survei Ramai-ramai Komentar
(pemilu2019.kpu.go.id)
Tangkapan Layar real count KPU Pilpres 2019 di Provinsi Bengkulu dimana data sudah 100 persen, Jumat (26/4/2019). 

Ramai-ramai Lembaga Survei Komentari Hasil Real Count KPU di Bengkulu, Kok 02 yang Menang?

TRIBUNJAMBI.COM-Para lembaga survei ramai-ramai buka suara terkait adanya perbedaan hasil quick count dengan real count Pilpres 2019 untuk Provinsi Bengkulu versi Situng KPU.

Diketahui, data hasil real count Pilpres 2019 dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Bengkulu pada sistem informasi penghitungan suara (situng) KPU, sudah mencapai 100 persen.

 

Hasilnya, paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno unggul tipis dari paslon nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin.

Prabowo-Sandi mendapatkan suara sebanyak 585.521 (50,13 persen), sedangkan Jokowi-Ma'ruf memperoleh 582.564 (49,87 persen).

BACA JUGA:

Real Count KPU Data Masuk Sudah 41% Lebih, Posisi Suara Untuk Jokowi-Maruf Belum Goyah

Ini Hasil Perolehan Kursi DPRD Provinsi Jambi Untuk Tiga Dapil, Golkar dan PDIP Bersaing Ketat

Guru dan Dosen di Jambi Pilih Belajar Bersama, Yuk Intip Kunci Keberhasilan Mengajar

Oknum PNS di Jambi Ini, Ngaku Pakai Sabu karena Bisa Beli dengan Cara Utang

Selisih suara antara keduanya pun 'hanya' 2.957 suara dari jumlah 6.165 TPS di Bengkulu (0,26 persen).


Hasil real count Pilpres 2019 di Bengkulu pada Situng KPU sudah mencapai 100 persen.
Hasil real count Pilpres 2019 di Bengkulu pada Situng KPU sudah mencapai 100 persen. (tangkap layar pemilu2019.kpu.go.id)

Dari hasil real count KPU tersebut, rupanya berbeda dengan beberapa lembaga survei yang merilis hasil quick count Pilpres 2019.

Poltracking, misalnya yang memperkirakan Jokowi-Ma'ruf akan menang dengan perolehan sebanyak 58,78 persen, sedangkan Prabowo-Sandi sebesar 41,22 persen.

Sementara Indo Barometer memperkirakan Jokowi-Ma'ruf mendapat 51,40 persen dan Prabowo-Sandi 48,60 persen.

Indikator juga mencatat hasil survei mereka, Jokowi-Ma'ruf akan menang dengan perolehan 52,61 persen, sedangkan Prabowo-Sandi, sebesar 47,39 persen.

Sementara dari hasil quick count Litbang Kompas, Jokowi akan mendapatkan di sebagian Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu.

Prabowo sendiri, menurut hasil quick count Litbang Kompas menang telak di Sumatera Barat serta Kepulauan Riau dan Jambi, untuk wilayah Sumatera bagian tengah.

Meski demikian, ada beberapa lembaga survei yang hasil quick count-nya sama atau mirip dengan hasil real count di Situng KPU.

Di antaranya CSIS & Cyrus, SMRC, dan Charta Politika.

CSIS & Cyrus menempatkan Prabowo-Sandi unggul dengan perolehan 53,38 persen, sedangkan Jokowi-Ma'ruf 46,62 persen.

Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) juga memperkirakan Prabowo-Sandi menang dengan perolehan 52,97 persen, sedangkan Jokowi-Ma'ruf: 47,03 persen.

Charta Politika juga ikut memprediksi Prabowo-Sandi mendapatkan suara sebanyak 52,72 persen dan Jokowi-Ma'ruf 47,28 persen.

Lantas, apa kata para lembaga survei terkait perbedaan hasil quick count dengan real count Pilpres 2019 untuk Provinsi Bengkulu versi Situng KPU?

Berikut Tribunnews.com merangkum penjelasan dan komentar lembaga survei terkait perbedaan hasil quick count dengan real count Pilpres 2019, dari cuitan mereka di akun Twitter.

1. Burhanuddin Muhtadi

Direktur Eksekutif INDIKATOR Burhanuddin Muhtadi sedang menjelaskan hasil survey di Kantor Indikator Politik Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (03/04/2019).
Direktur Eksekutif INDIKATOR Burhanuddin Muhtadi sedang menjelaskan hasil survey di Kantor Indikator Politik Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (03/04/2019). (Tribunnews/MUHAMMAD FADHLULLAH)

Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, perbedaan hasil quick count dan real count karena margin of error (MoE) di Bengkulu yang cukup besar yakni 7,32 persen.

Hal ini karena sampel yang dipakai Indikator sedikit.

"Media seharusnya memberitakan secara lengkap. @indikatorcoid melaporkan margin of error per provinsi."

"Di Bengkulu misalnya, karena sampel sedikit, MoE +- 7,32%."

"Dgn prediksi 01 sekitar 52% vs 47% buat 02, jelas kami sebut di situ bahwa selisih antara keduanya tidak signifikan," tulisnya.

Sementara untuk Poltraking dan Indobarometer, Burhanuddin Muhtadi menduga, MoE yang dipatok sebesar 1 persen itu hanya untuk tingkat nasional.

Jika di level provinsi, margin error-nya lebih besar seperti yang ditetapkan Indikator yakni 7,32 persen.

"Dugaan saya, MoE +-1% yg dipatok Poltracking dan Indobarometer itu MoE di tingkat nasional."

"Ketika dibreakdown per provinsi, seharusnya MoE lebih besar dari 1%. @indikatorcoid misalnya menetapkan MoE +-7,32% di Bengkulu karena sampelnya sedikit," tulis dia.

Lebih lanjut Burhanuddin Muhtadi menjelaskan, estimasi MoE tergantung pada variance.

Sebab, bila perbandingan semakin dekat ke 50:50, maka variance semakin besar.

Ia pun lantas membandingkan apa yang terjadi di Bengkulu dan Kepulauan Riau.

"Estimasi MoE itu tergantung variance. Semakin dekat ke 50:50, variance semakin besar."

"Secara umum Bengkulu & Kepri seolah mirip mendekati fifty2, tapi MoE Bengkulu lebih besar."

"Artinya antar 01 vs 02 relatif lebih mendekati fifty2 di seluruh sampel di Bengkulu dibanding di Kepri," lanjutnya.

"Dengan kata lain, terlepas bahwa secara total potensi perolehan suara di Kepri juga mendekati 50:50, tapi di tiap TPS sampel di Kepri angkanya lebih banyak yg jauh dari fifty2 ketimbang yg kami temukan di seluruh sampel TPS di Bengkulu."

"Itu yg sebabkan Moe di Kepri lebih kecil."

2. Yunarto Wijaya

Sekjen Persepi sekaligus Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya sedang memberikan pernyataan dalam acara Expose Data Hasil Quick Count Pemilu 2019 Oleh Anggota Persepi di Hotel Morrissey, Jakarta, Sabtu (20/04/2019).
Sekjen Persepi sekaligus Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya sedang memberikan pernyataan dalam acara Expose Data Hasil Quick Count Pemilu 2019 Oleh Anggota Persepi di Hotel Morrissey, Jakarta, Sabtu (20/04/2019). (Tribunnews/MUHAMMAD FADHLULLAH)

Sementara itu, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya ikut mengomentari cuitan Hidayat Nur Wahid yang mempertanyakan soal perbedaan ini.

"Kemenangan Prabowo-Sandi versi Real Count KPU di Bengkulu."

"Capres 02 : 50,12%,dan capres 01 : 49.88%)."

"Itu Berbeda Prinsip&Angka Yg Jauh dengan Perolehan Quick Count olh Lembaga2Survei : Capres 01 menang dg 58,78%, capres 02 hanya diberi : 41,22%."

"Jadi?" tulis Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Cuitan tersebut langsung dibalas oleh Yunarto yang menyebut andai Hidayat Nur Wahid membaca penjelasan soal Margin of Error, maka dirinya tidak akan mengambil kesimpulan seperti ini.

"Kalo baca lengkap penjelasan margin of error per provinsi disertai tingkat signifikansi harusnya gak akan ambil kesimpulan kaya gini," tulis Yunarto.

3. Agung Baskoro

Dalam cuitannya, Analis Politik Poltracking Institute, Agung Baskoro menulis, ketika ditelusuri hasil quick count nasional yang dilakukan pihaknya sampai ke provinsi, maka margin of error-nya pun berbeda.

Terlebih untuk provinsi yang populasinya kecil.

Seperti Bengkulu yang TPS-nya hanya 0,76 persen dari jumlah TPS secara nasional.

"Quick count nasional ktika ditelusuri ke provinsi sdh beda margin of error nya."

"terutama utk provinsi2 populasi kecil."

"Jmlah TPS bengkulu 0.76% dr Jumlah TPS scr nasional, dg MoE 9.65%."

"QC nasional, MoE 1 % sila diuji dg RC KPU. Thanks tweps cc @hantayuda," tulis Agung Baskoro.

https://twitter.com/AgungBaskoro/status/1121820594540961792

Sementara itu, dalam lampiran laporan hasil quick count Indikator menyebutkan, Bengkulu termasuk dalam daerah yang kemungkinan besar posisi hasil quick count bisa berubah.

Sehingga belum bisa ditentukan paslon pemenang.

4. Saiful Mujani

Pendiri SMRC, Saiful Mujani mengatakan, pada dasarnya quick count merupakan prediksi hasil nasional.

Bila dilihat dari provinsi, maka tergantung jumlah pemilih di provinsi tersebut.

Menurutnya, Bengkulu merupakan provinsi dengan jumlah pemilih yang relatif kecil sehingga kuota sampelnya juga kecil.

BACA JUGA:

Real Count KPU Data Masuk Sudah 41% Lebih, Posisi Suara Untuk Jokowi-Maruf Belum Goyah

Ini Hasil Perolehan Kursi DPRD Provinsi Jambi Untuk Tiga Dapil, Golkar dan PDIP Bersaing Ketat

Guru dan Dosen di Jambi Pilih Belajar Bersama, Yuk Intip Kunci Keberhasilan Mengajar

Oknum PNS di Jambi Ini, Ngaku Pakai Sabu karena Bisa Beli dengan Cara Utang

"qc dasarnya untuk prediksi hasil nasional."

"kl dilihat nasional itu per provinsi maka tergantung jumlah pemilih di provinsi itu. benguku adalah provinsi dg jumlah pemilih relatif kecil sehingga kuota sampelnya juga kecil."

"tidak bisa dibaca siapa menang bila selisihnya tipis."

Namun, karena SMRC menggunakan sampel yang lebih besar dari lembaga lain, maka hasil quick count SMRC cukup mirip dengan hasil real count di Situng KPU.

"Namun, sampel qc smrc lebih besar dari teman2 lain sehingga kuota untuk bengkuku sampelnya kebih besar sehingga hasilnya cukup sepola dengan hasil 100 persen kpu di bengkulu," tulisnya.


TONTON VIDEO: Viral di IG Detik-detik Anggota TNI Bantu Persalinan Darurat di Papua

IKUTI INSTAGRAM KAMI: TER-UPDATE TENTANG JAMBI

(Tribunnews.com/Sri Juliati)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Komentar Lembaga Survei Soal Perbedaan Hasil Quick Count vs Real Count KPU Pilpres 2019 di Bengkulu

Editor: nani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved