VIDEO: Dipaksa Berhubungan Badan, Begini Kronologi Terapis Pijat Go-Massage Layani Pelanggan di Kos

Kronologi dan detik-detik terapis pijat Go-Massage dipaksa berhubungan intim oleh pelanggan di Bandung dijelaskan oleh penyidik Polrestabes Bandung.

VIDEO: Dipaksa Berhubungan Badan, Begini Kronologi Terapis Pijat Go-Massage Layani Pelanggan di Kos
Tribunjakarta.com
Ilustrasi: pijat kaki 

Sebut saja pijat 'plus-plus' yang mengarah pada praktek prostitusi. Untuk menepis asumsi tersebut, Go-Massage melakukan beberapa upaya.

"Setiap mitra Go-Massage telah menandatangani kontrak di atas materai. Kemitraan berjalan hingga salah satu mengakhiri kontrak tersebut," kata Dara dalam acara Go-Massage Gathering di Taman Mini Indonesia Indah, Rabu, 17 Februari 2016, seperti dilansir Surya.co.id dari Tempo.co.

Baca: Sindiran Keras Gustika Jusuf Hatta ke Prabowo, Ga mau ngejar mertua lo sekalian ke alam barzah?

Baca: Inilah Sosok Nurman Anthoni, Kepala Kantor BPN Muarojambi yang Tolak Mutasi Promosi Jabatan ke Riau

Baca: Rp 1 Miliar Bagi Yang Menangkap Penghina Kopassus Yang Gugur Saat Berperang Lawan KKB Papua

Dara menyebutkan, Go-Massage membagi dua jenis pelanggaran dalam perjanjian tersebut yaitu pelanggaran terhadap aturan perusahaan dan pelanggaran terhadap hukum yang berlaku.

Kalau terjadi pelanggaran aturan perusahaan, maka akan diberikan sanksi terminasi.

Sementara untuk pelanggaran hukum, Dara melihatnya pada dua konsentrasi yakni tindakan asusila atau prostitusi.

Dara mengatakan apabila tawaran datang dari terapis namun konsumen menolak atau terganggu, maka akan diberi sanksi terminasi atau pemutusan hubungan mitra. 

Hak itu masuk dalam kategori tindakan asusila karena tidak ada uang yang bermain di sana.

Begitu juga jika tawaran 'pijat plus-plus' yang datang dari konsumen, maka pihak Go-Massage memastikan konsumen tersebut akan berurusan dengan hukum.

Berbeda kasus jika kedua belah pihak menawarkan dan menerima tawaran 'pijat plus-plus' tersebut.

Dara melihat hal tersebut sudah masuk ranah prostitusi dan bertentangan dengan hukum karena ada transaksi uang di dalamnya.

"Kami menjunjung hukum dan undang-undang, sehingga jika ada perbuatan yang melanggar moral akan diberi sanksi tegas," tutur Dara.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, Go-Massage melakukan upaya, yaitu mitigasi dan resolusi.

Tindakan mitigasi dilakukan dengan cara mendeteksi orang yang berniat lain selain dipijat.

Tindakan tersebut akan disaring dari aplikasi.

"Segala kata-kata yang mengandung makna negatif akan diblok," kata dia.

Sementara itu, jika tiba-tiba konsumen melakukan tindakan asusila maka akan dilakukan tindakan langsung oleh satuan tugas yang dikoordinasikan oleh Go-Massage.

Dara memastikan hal-hal yang dapat membahayakan terapis akan ditindak.

Satgas akan bereaksi jika ada panggilan darurat.

Baca: Rp 1 Miliar Bagi Yang Menangkap Penghina Kopassus Yang Gugur Saat Berperang Lawan KKB Papua

Baca: Kejanggalan Jabatan Sekjen di Kementerian ATR/BPN Diungkap Kepala BPN Muarojambi yang Menolak Mutasi

Baca: Viral Foto Akrab Gisella Anastasia & Wijaya Saputra, Agnez Mo Bereaksi dan Unggah Ini

1 dari 20 Mitra Go-Massage Adalah Penyandang Disabilitas

Go-Life, sebagai penyedia layanan kebutuhan sehari-hari masyarakat membuka lebar kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk bergabung sebagai mitra.

VP Marketing Go-Life Yuanita Agata mengatakan, mereka ingin agar penyandang disabilitas diberi kesempatan yang sama untuk bekerja sebagaimana lainnya.

Tanpa menyebut detil angkanya, Yuanita mengatakan bahwa mitra disabilitas yang tergabung dalam Go-Life, khususnya untuk layanan Go-Auto dan Go-Massage termasuk besar.

"Perbandingannya 1 dari 20 mitra Go-Massage dan Go-Auto merupakan penyandang disabilitas," ujar Yuanita di Jakarta, Kamis (18/10/2018).

Layanan dalam fitur Go-Life yang mempekerjakan mitra disabilitas tak hanya dua itu.

Ada pula Go-Glam, Go-Laundry, Go-Clean, dan Go-Daily untuk belanja kebutuhan harian. Namun, jumlahnya tak sebanyak di layanan Go-Massage dan Go-Auto.

Yuanita mengatakan, disabilitas yang bergabung menjadi mitra, khususnya tunanetra dan tunarungu, lebih banyak bergabung ke ruangan itu.

Penyandang tunanetra lebih banyak bekerja di Go-Massage karena memiliki keahlian sebelumnya.

"Rata-rata yang tunanetra mengikuti pelatihan dulu di Dinas Sosial dan sudah punya setrifikat memijat," kata Yuanita.

Sementara untuk Go-Auto, mitra tunarungu bisa bergabung karena pekerjaannya tak menuntut berinteraksi banyak dengan pelanggan.

Mitra hanya perlu fokus pada kendaraan yang dibersihkan atau diperbaiki.

Biasanya, kata Yuanita, hasilnya bisa lebih bersih dan memuaskan.

"Karena tidak bisa mendengar jadi bisa lebih fokus dengan pekerjaannya," kata dia.

Namun, sayangnya masih ada segelintir masyarakat yang memandang mitra disabilitas sebelah mata.

Padahal, pekerjaan mereka sama apiknya dengan mitra lainnya. Hal ini menggugah Go-Jek untuk menggerakkan kampanye #HilangkanBatasan.

Kampanye ini tak hanya mendobrak batas bagi kaum disabilitas untuk mendapat kesetaraan, tapi juga mengubah mindset masyarakat untuk menerima mereka dalam kehidupan.

Baca: MotoGP Indonesia Digelar 2021, Jokowi Tunggangi Honda RC213V-S Hitam, Lihat Spesifikasinya

Baca: Video - Ini Identitas WNI yang Jadi Korban Ethiopian Airlines

Yuanita mengatakan, disabilitas patut diberi kesempatan yang sama untuk bekerja.

"Dari sisi kualitas layanan, lebih dari 90 persen pengguna Go-Life menyatakan puas atas pelayanan yang diberikan mitra penyandang disabiitas. Ini membuktikan disabilitas bukan pantangan untuk berkarya," kata Yuanita.

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul VIDEO Kronologi & Detik-detik Terapis Pijat Go-Massage Dipaksa Hubungan Intim Pelanggan, Viral di WA, http://surabaya.tribunnews.com/2019/03/12/video-kronologi-detik-detik-terapis-pijat-go-massage-dipaksa-hubungan-intim-pelanggan-viral-di-wa?page=all.

Editor: Tri Mulyono

Editor: Leonardus Yoga Wijanarko
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved