Editorial
Orang Bayaran Bernama Buzzer
Di sisi lain, muncul fenomena buzzer media sosial yang kerap dianggap penyebar berita bohong (hoaks) atau berita palsu (fake news).
Namun, terkadang kemampuan mengakses itu tidak seiring dengan pengetahuan dan kedewasaan etika penggunaan.
Momen jelang pemilu seperti ini, ada yang mudah terprovokasi, lalu ikut menyebarkan hoaks di media sosial. Ada juga yang sengaja membuat keruh, namun ada juga yang sudah dengan 'dewasa' bermedia sosial.
Kepolisian pun memiliki tim siber yang memantau media sosial.
Tim ini akan merespon cepat akun-akun pembuat onar menjelang Pemilu 2019. Pemerintah juga musti membuat imbauan supaya masyarakat bermedia sosial dengan cara sehat, terutama menjelang pesta demokrasi.
Namun pada akhirnya, kuncinya pada masing-masing pengguna.
Mengutip tulisan Haryatmoko, dalam Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi, kekerasan dalam komunikasi seperti ini satu di antara penyebabnya karena ketidakpedulian.
Baca: Ditaklukan TNI AL, Ini Sepak Terjang Kapal Pencuri Ikan Andrey Goldov yang 10 Tahun Buat Geger Dunia
Baca: Kronologi TNI AL Tangkap Andrey Dolgov, Kapal Pencuri Ikan Paling Dicari Dunia, Diburu Selama 72 Jam
Baca: Tangkap Andrey Dolgov Rampok Ikan, Menteri Susi Banjir Pujian & Dukungan Tenggelamkan Kapal
Dan yang menjadi korban adalah yang defisit pengetahuan.
Maka ada baiknya, setiap pengguna medsos berhati-hati menerima informasi, peduli dan mau mengingatkan kanan-kiri tentang cara mencari informasi yang benar.
Informasi yang kita belum yakini kebenarannya jangan sampai disebarkan. Lebih baik diam daripada jadi penyebar hoax. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20190222_buzzer_media-sosial.jpg)