Editorial
Orang Bayaran Bernama Buzzer
Di sisi lain, muncul fenomena buzzer media sosial yang kerap dianggap penyebar berita bohong (hoaks) atau berita palsu (fake news).
Di sisi lain, muncul fenomena buzzer media sosial yang kerap dianggap penyebar berita bohong (hoaks) atau berita palsu (fake news).
DUA bulan menjelang Pemilihan Umum 2019, atmosfer politik Tanah Air semakin menghangat.
Persaingan bukan hanya terjadi saat kampanye dan debat kandidat, pendukung di dunia maya pun bergerak memainkan perannya.
Terjadi perubahan besar, kampanye bukan hanya dilakukan dalam bentuk konvensional, tatap muka, aksi massa dan kemasan kegiatan lain.
Atmosfer politik semakin hangat dengan kehadiran 'pasukan dunia maya' yang bergerak di media sosial.
Di sisi lain, muncul fenomena buzzer media sosial yang kerap dianggap penyebar berita bohong (hoaks) atau berita palsu (fake news).
Ini mengingatkan akan pertarungan pada pemilu beberapa tahun terakhir, kabar yang belum tentu kebenarannya berseliweran di dunia maya, lalu viral.
Perlu diketahui, dari penelusuran Tribun, buzzer itu merupakan orang bayaran.
Mereka menerima imbalan dalam jumlah besar, untuk menyebar konten secara sistematik, tanpa memedulikan konten itu hoaks atau tidak.
baca juga:
Baca: Buzzer Dibayar Mahal Oleh Tim Pemenang Capres, Utamakan Facebook Untuk Sebarkan Konten
Baca: Tim Pemenangan Capres Bayar Mahal Jasa Buzzer, Diberi Target Membuat Trending Topics
Baca: Menguak Buzzer Hoaks Pilpres, Donatur Bersedia Sumbang Hingga Milyaran, Bagaimana Cara Kerjanya?
Baca: Buzzer Hoaks Pilpres Bergaji Rp 100 Juta, Donatur Bersedia Sumbang Rp 2 Miliar - Berita Eksklusif
Bahkan, seorang buzzer mengaku menerima imbalan Rp 100 juta untuk proyekan sampai pilpres selesai.
Biasanya, yang menjadi sasaran tembak adalah forum-forum di media sosial.
Dengan melempar konten yang sensitif dan memacu emosional naik, akan membuat gejolak di sana.
Bagaimana kondisi di Jambi? Itu bisa dipantau di forum-forum media sosial yang menjamur.
Bisa jadi ada juga forum media sosial di Jambi yang turut disusupi. Anehnya, pengikut forum pun ikut serta membagikan postingan dari buzzer yang dibayar sangat mahal itu.
Perkembangan teknologi, hampir setiap orang memiliki ponsel dan mengakses internet serta media sosial.
Namun, terkadang kemampuan mengakses itu tidak seiring dengan pengetahuan dan kedewasaan etika penggunaan.
Momen jelang pemilu seperti ini, ada yang mudah terprovokasi, lalu ikut menyebarkan hoaks di media sosial. Ada juga yang sengaja membuat keruh, namun ada juga yang sudah dengan 'dewasa' bermedia sosial.
Kepolisian pun memiliki tim siber yang memantau media sosial.
Tim ini akan merespon cepat akun-akun pembuat onar menjelang Pemilu 2019. Pemerintah juga musti membuat imbauan supaya masyarakat bermedia sosial dengan cara sehat, terutama menjelang pesta demokrasi.
Namun pada akhirnya, kuncinya pada masing-masing pengguna.
Mengutip tulisan Haryatmoko, dalam Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi, kekerasan dalam komunikasi seperti ini satu di antara penyebabnya karena ketidakpedulian.
Baca: Ditaklukan TNI AL, Ini Sepak Terjang Kapal Pencuri Ikan Andrey Goldov yang 10 Tahun Buat Geger Dunia
Baca: Kronologi TNI AL Tangkap Andrey Dolgov, Kapal Pencuri Ikan Paling Dicari Dunia, Diburu Selama 72 Jam
Baca: Tangkap Andrey Dolgov Rampok Ikan, Menteri Susi Banjir Pujian & Dukungan Tenggelamkan Kapal
Dan yang menjadi korban adalah yang defisit pengetahuan.
Maka ada baiknya, setiap pengguna medsos berhati-hati menerima informasi, peduli dan mau mengingatkan kanan-kiri tentang cara mencari informasi yang benar.
Informasi yang kita belum yakini kebenarannya jangan sampai disebarkan. Lebih baik diam daripada jadi penyebar hoax. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20190222_buzzer_media-sosial.jpg)