Tahap Berat Untuk Bisa Dapatkan Baret Merah Kopassus, 3 Syarat Berat ini Mesti Mampu Dilakukan
Tahap Berat Untuk Bisa Dapatkan Baret Merah Kopassus, 3 Syarat Berat ini Mesti Mampu Dilakukan
Diadakan di Citatah, Bandung.
Di sini, para calon prajurit komando berlatih untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan, anti penjejakan, survival di tengah hutan.
Dalam Pelatihan Survival, calon Prajurit komando harus bisa hidup di hutan dengan makanan alami yang tersedia di hutan.
Dengan latihan ini Prajurit Komando harus bisa membedakan tumbuhan yang beracun dan dapat dimakan, dan juga mampu berburu binatang liar untuk mempertahankan hidup.

Tahap latihan hutan gunung diakhiri dengan long march dari Situ Lembang ke Cilacap dengan membawa amunisi, tambang peluncur, senjata dan perlengkapan perorangan.
Dalam buku yang berjudul Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan, yang diterbitkan QailQita Publishing, 2014, mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo membeberkan pengalamannya saat mengikuti latihan Kopassus.
Baca Juga:
Hasil Liga Inggris - Manchester City Langkahi Tottenham Hotspur & Kembali Dekati Liverpool ke Puncak
Makanan Terakhir yang Diinginkan Soeharto Sebelum Wafat, Anaknya Sampai Kelimpungan Mencarikannya
Keluarkan Surat Edaran, Bupati Bungo Larang Warganya Rayakan Tahun Baru
"Neraka" di Cilacap
Tahap Ketiga, Tahap Rawa Laut.
Latihan terberat sudah menanti saat sampai di Cilacap. Ini merupakan latihan tahap ketiga yang disebut latihan Tahap Rawa Laut.
Calon prajurit komando berinfliltrasi melalui rawa laut.
Di sini, materi Latihan meliputi navigasi Laut, Survival laut, Pelolosan, Renang ponco dan pendaratan menggunakan perahu karet.

Para calon prajurit komando harus mampu berenang melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.
“Latihan di Nusakambangan merupakan latihan tahap akhir, oleh karena itu ada yang menyebutnya sebagai hell week atau minggu neraka. Yang paling berat, materi latihan ‘pelolosan’ dan ‘kamp tawanan’,” kata Pramono.
Dalam latihan itu para calon prajurit komando dilepas pagi hari tanpa bekal, dan paling lambat pukul 10 malam sudah harus sampai di suatu titik tertentu.
Selama “pelolosan” si calon harus menghindari segala macam rintangan alam maupun tembakan dari musuh yang mengejar.
Baca Juga:
KPU Sarolangun Tetapkan Pemilih Disabilitas 196 Jiwa, Berikut Rinciannya
Jenderal Soeharto yang Sering Bantah dan Menentang Perintah, Tetapi Soekarno Tetap Luluh Padanya
Mendadak Nyali Soeharto Menciut Dengar Nama Hartinah, Sosok yang Selalu Meledek Sepupunya di Sekolah