Tsunami Selat Sunda

Update Jumlah Korban Tsunami Selat Sunda, 281 Orang Tewas, 57 Orang Hilang, Ini Rinciannya

Data sementara jumlah korban tsunami Selat Sunda, yang berhasil dihimpun Posko BNPB hingga Senin (24/12/2018), pukul 07.00 WIB.

Editor: Duanto AS
Kolase/Tribun Jambi
Update jumlah korban tsunami Selat Sunda. 

Sutopo menambahkan, ribuan personel gabungan dari TNI, Polri, BNPB, Basarnas, Kementerian PU Pera, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian ESDM, BPBD, SKPD, NGO, relawan dan masyarakat dan lainnya terus melakukan penanganan darurat.

Kepala Daerah memimpin penanganan darurat di daerahnya.

Evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban terus dilakukan.

Diduga masih ada korban yang berada di bawah reruntuhan bangunan dan material yang dihanyutkan tsunami.

Pos kesehatan, dapur umum, dan pengungsian didirikan di beberapa tempat.

Bantuan logistik terus disalurkan.

Untuk evakuasi dikerahkan alat berat 7 unit excavator, 12 unit dump truck, 2 unit loader.

Dalam mobilisasi ke lokasi bencana 1 unit excavator, 1 dozer, 1 loader, 1 grader, 2 tronton, dan 4 dump truck.

"Panjang dan luasnya daerah terdampak masih diperlukan tambahan alat berat dan personil untuk membantu evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban," kata Sutopo.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Update Tsunami Banten dan Lampung, 281 Meninggal, 1.016 Luka-Luka, dan 57 Hilang" (Penulis : Ihsanuddin)

Dampak kerusakan terjangan tsunami Selat Sunda di kawasan Pantai Carita, Banten, Jawa Barat, Minggu (23/12/2018). Tsunami Selat Sunda menghantam wilayah Banten dan Lampung pada Sabtu, 22 Desember 2018.
Dampak kerusakan terjangan tsunami Selat Sunda di kawasan Pantai Carita, Banten, Jawa Barat, Minggu (23/12/2018). Tsunami Selat Sunda menghantam wilayah Banten dan Lampung pada Sabtu, 22 Desember 2018. (Tribunnews/Jeprima)

//

Kepala Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Tiar Prasetya menyatakan sebelum tsunami melanda kawasan Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau memang mengalami erupsi.

Tiar Prasetya mengatakan, erupsi itu diduga menyebabkan longsoran vulkanik yang menimbulkan tsunami.

"Aktivitas Anak Krakatau itu sudah aktif dari Juli dan memang pukul-pukul 21.00 itu ada letupan, tapi tidak besar," kata Tiar Prasetya di Kantor BMKG, Jakarta, Minggu (23/12/2018).

Tiar Prasetya mengaku longsoran vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau memang tidak secara langsung menimbulkan tsunami.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved