Sejarah Kartu Kuning dan Merah dalam Sepak Bola. Dimulai dari Ide Ken Aston, Wasit Asal Inggris

Saat terjadi pelanggaran, wasit akan meniup peluit dan mengeluarkan salah satu dari dua kartu yang berada di kantongnya.

Sejarah Kartu Kuning dan Merah dalam Sepak Bola. Dimulai dari Ide Ken Aston, Wasit Asal Inggris
GIUSEPPE CACACE/AFP
Ilustrasi pemberian kartu merah oleh wasit pada pertandingan sepak bola. 

TRIBUNJAMBI.COM - Olahraga Sepak bola merupakan olahraga yang dikenal luas di seluruh dunia. Permainan yang beranggotakan 11 orang ini, pertama kali dimainkan pada pertengahan abad ke-19 di Inggris.

Bermain sepak bola, ada beberapa aturan yang harus ditaati oleh setiap pemain dari kedua tim. Jika dilanggar, maka wasit tidak segan memberi sebuah peringatan.

Ketika terjadi pelanggaran, wasit akan meniup peluit dan mengeluarkan salah satu dari dua kartu yang berada di kantongnya. Kartu berwarna merah dan kuning ini digunakan untuk memberi hukuman kepada pemain yang telah melakukan pelanggaran saat berada di lapangan.

Baca: Kenapa 12 November Dirayakan Sebagai Hari Ayah Nasional? Ini Sejarah dan Kontroversinya

Wasit Mark Clattenburg mengganjar Luke Shaw dengan kartu merah saat MU ditahan imbang 1-1 oleh West Ham United pada 8 Februari 2015.
Wasit Mark Clattenburg mengganjar Luke Shaw dengan kartu merah saat MU ditahan imbang 1-1 oleh West Ham United pada 8 Februari 2015. (Dok. Manchester Evening News)

Kartu merah digunakan apabila terjadi pelanggaran yang sangat fatal. Ketika kartu merah diangkat, maka pemain yang diberikan kartu merah harus berhenti bermain dan keluar dari lapangan.

Sedangkan kartu kuning digunakan untuk memberikan peringatan kepada pemain agar tidak mengulangi pelanggaran tersebut. Bila kartu kuning sudah dua kali ditujukan kepada seorang pemain, maka secara otomatis menjadi kartu merah, sehingga pemain tersebut harus keluar dari lapangan.

Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah munculnya dua kartu tersebut dalam pertandingan sepak bola?

Dikutip dari Kompas.com, kartu merah dan kartu kuning berasal dari ide Ken Aston, seorang wasit asal Inggris. Saat itu dirinya bingung untuk memberikan hukuman kepada pemain yang bahasanya berbeda dengan dirinya.

Baca: Ayahnya Diserang, Kapten Timnas Turki ini Rela Diganjar Kartu Merah Wasit Saat Mengamuk ke Penonton

Saat Piala Dunia Cile 1962, terjadi keributan hebat pada kedua tim dari Cile dan Italia. Aston berencana mengeluarkan Giorgino Ferrini, pemain Italia, sebagai bentuk hukuman atas pelanggaran yang dibuatnya.

Aston menyampaikan pelanggaran tersebut dalam bahasa Inggris dan tidak dipahami oleh Ferrini sehingga ia tetap berada di lapangan. Namun, Ferrini bermain semakin arogran hingga akhirnya ia harus dikeluarkan dari lapangan hijau dengan melibatkan polisi.

Setelah pertandingan tersebut, Aston pulang kembali ke rumahnya. Di tengah perjalanan ia terinspirasi dari warna lampu lalu lintas. Merah, hijau dan kuning yang ada pada lampu tersebut dipahami oleh semua orang dari berbagai bahasa.

Baca: Gojek dan Grab Diberi Peringatan Keras Oleh Menteri Perhubungan

Warna lampu tersebut dapat menyampaikan pesan kepada pengguna jalan untuk berhenti, siap-siap dan jalan, tanpa harus menggunakan instruksi verbal. Aston kemudian terpikir untuk menggunakan dua buah kartu sebagai tanda hukuman kepada pemain, yaitu warna merah dan kuning.

Jika warna kuning pada lampu lalu lintas dipahami sebagai tanda bahwa kendaraan harus berjalan pelan dan bersiap-siap, maka dalam pertandingan sepak bola, warna kuning digunakan sebagai tanda bagi pemain untuk berhati-hati dengan permainannya.

Baca: Video Cristiano Ronaldo Menangis Usai Diberi Kartu Merah Setelah Berduel dengan Jeison Murillo

Sama seperti lampu lalu lintas, warna merah merupakan instruksi agar para pemain berhenti dan keluar dari pertandingan.

Temuan ini berhasil dimengerti oleh pemain bola yang berasal dari berbagai dunia dengan bahasa yang berbeda. Ini karena makna ketiga warna tersebut telah dipahami secara universal.

Penggunaan kedua kartu ini pun mulai diterapkan pada Piala Dunia 1970 dan masih digunakan oleh wasit sampai saat ini. (*)

Editor: budi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved