Beginilah Cara Orang Rimba Mencoblos Pada Pemilu 2019, Ada 5.000-an Mata Pilih di Provinsi Jambi

Ketika sudah melakukan pemilihan, mereka kembali ke kediaman mereka di hutan. Namun, pada Pilpres 2009 dan 2014, mereka ...

Penulis: Hendri Dunan | Editor: Duanto AS
Tribun Jambi
Ilustrasi: Orang Rimba di Kabupaten Sarolangun. 

A Kadir sendiri mengungkapkan bahwa di Batanghari warga SAD tersebar di Kecamatan Batin XXIV, dan Maro Sebo Ulu. Data sementara yang bisa disampaikan bahwa di Sungai Lingkar ada 400 orang, di Tebing Tinggi lebih kurang 33 orang dan di Batin XXIV ada lebih kurang 200 orang.

“Kalau ditotal, jumlah warga SAD di Batanghari mencapai 1000 orang,” kata Kadir.

Hal serupa diakui Sri Asteti, Komisioner KPU Tebo. Di kabupaten mereka juga banyak warga SAD yang masuk dalam DPT. Dan saat ini mereka juga tengah melakukan perbaikan elemen data pemilih.

“Di KPU Tebo, DPT Warga SAD juga banyak yang diakomodir. Tetapi karena itu data real, nanti akan kita sampaikan. Saat ini tengah dilakukan perbaikan,” ungkap Sri Asteti.

Data lapangan KKI Warsi

Sementara itu, Sukma Reni Koordinator Komunikasi KKI Warsi ketika dikonfirmasi Tribun mengungkapkan bahwa jumlah warga SAD saat ini mencapai 5.000 jiwa lebih. Mereka tersebar di kabupaten Merangin, Sarolangun, Batanghari, Tebo dan Bungo.

“Sebaran warga SAD di Merangin 1.267 jiwa, Sarolangun 2.228 jiwa, Bungo 395 jiwa, Batanghari 629 jiwa, dan Tebo 707 jiwa. Total keseluruhan mencapai 5.235 jiwa,” kata Reni.

Selaku LSM yang concern terhadap pendampingan warga SAD di Provinsi Jambi, Reni mengungkapkan bahwa warga SAD ini tersebar dalam kelompok kelompok kecil. Dan mereka sudah beberapa kali ikut dalam pesta demokrasi yang sudah dilaksanakan. Baik itu Pileg, Pilpres dan Pilkada di kabupaten masing-masing. Meski ketika itu, sebagian kecil saja yang ikut.

Reni mengungkapkan pada saat itu mereka ditempatkan dalam TPS khusus. Dimana, sehari sebelum pemilihan mereka warga SAD keluar hutan dan sudah berkumpul di lokasi yang akan dijadikan tempat pemilihan.

Ketika sudah melakukan pemilihan, mereka kembali ke kediaman mereka di hutan. Namun, pada Pilpres 2009 dan 2014 mereka sudah mau membaur dengan warga setempat.

“Sebenarnya tidak susah mengajak mereka partisipasi. Hanya saja mereka memang tidak bisa membaca dan tidak mengenal kultur pemilihan kepada daerah atau presiden. Tetapi saat ini sebagian kecil mereka sudah mulai mengerti. Meski sebagian besar tidak mengerti sama sekali,” ungkap Reni.

Pertemuan antara pihak balai TNBD dengan orang rimba pada Senin (30/4/2018).
Pertemuan antara pihak balai TNBD dengan orang rimba pada Senin (30/4/2018). (tribunjambi/teguh suprayitno)

Bagi warga SAD yang masih banyak muta aksara ini hanya mengenal lewat gambit. Sehingga bila KPU dan tim Sukses ingin melakukan sosialisasi harus melalui gambar. Dan bila warga SAD menyukainya maka akan mereka pilih. Dan komunikasi dengan warga SAD juga dikatan Reni sudah tidak sulit lagi. Sebab, mereka sudah mau membaur dengan masyarakat.

“Kalau pun Orang Rimba itu akan memilih. Kami punya radio. Bila KPU akan bekerjasama, nanti warga SAD akan dikumpulkan. Pihak KPU bisa bersosialisasi, meski sebenarnya mereka tidak cukup tau. Karena mereka tidak bisa baca tulis. Tetapi hanya melalui gambar saja,” terang Reni.

Reni mengatakan warga SAD memiliki budaya melangun, atau berpindah. Pada April 2019 nanti, tidak bisa dipastikan SAD akan berpindah kemana. Sebab, perpindahan warga SAD sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya keluarga mereka yang meninggal dunia.

Bila ada keluarga mereka yang meninggal dunia, maka mereka akan meninggalkan lokasi mereka saat ini.

Baca: Tarif Endorse Instagram 5 Selebritas Kelas Atas Indonesia, Jessica Iskandar Paling Murah

Baca: Kondisi Badan Veronica Tan setelah Enam Bulan Bercerai dengan Ahok, Penampakan Baju Hitam

Baca: Bangunan Pasar Angso Duo Modern 98 Persen, Pemprov Jambi dan PT EBN Teken Addendum

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved