Beginilah Cara Orang Rimba Mencoblos Pada Pemilu 2019, Ada 5.000-an Mata Pilih di Provinsi Jambi
Ketika sudah melakukan pemilihan, mereka kembali ke kediaman mereka di hutan. Namun, pada Pilpres 2009 dan 2014, mereka ...
Penulis: Hendri Dunan | Editor: Duanto AS
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Hendri Dunan
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Suku Anak Dalam (SAD) di Provinsi Jambi memiliki potensi besar dalam pemilihan umum 2019. KPU dan Dukcapil akan membantu perekaman data kependudukan warga SAD agar memiliki hak pilih.
Data dari KKI Warsi, ada lebih kurang 5.000 data warga SAD yang tersebar di beberapa kabupaten.
Sementara itu, KPU mengaku sudah mengakomodir sebagian dari warga SAD masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT). Akan tetapi masih ada sebagian besar yang belum terdata dalam DPT. Hal ini terkait dengan syarat masuk dalam DPT harus sudah melakukan perekaman data kependudukan.
Komisioner KPU Provinsi Jambi, Sri Hadiyenti, mengatakan bahwa mereka tetap mengakomodir hak pilih dari warga SAD. Bahkan sebagian dari warga SAD tersebut sudah masuk dalam DPT.
“Sudah ada 1.500 warga SAD yang masuk dalam DPT,” ungkap Sri Ahdiyenti, Jumat (12/10).
Sri Ahdiyenti menyadari masih banyak warga SAD yang belum bisa diakomodir dalam DPT. Hal ini terkait dengan persyaratan mereka untuk bisa masuk dalam DPT. Maka dari itu pihak KPU yang tengah menjalankan program perlindungan hak pemilih terus melakukan pengawasan terhadap hak pilih warga SAD.
“Sekarang proses dalam rangka melindungi hak pemilih. Mereka juga termasuk yang kita data,”ungkap Ahdiyenti.
Komisioner KPU Provinsi Jambi ini mengungkapkan bahwa mereka bekerjasama dengan pihak Dukcapil. Dimana, nanti pihak KPU dan Dukcapil akan melakukan pendataan pemilih dari warga SAD. Sedangkan pihak Dukcapil yang akan melakukan perekaman data warga SAD agar bisa dimasukan dalam DPT.
“Kita akan kerjasama dengan Dukcapil. Dan untuk data kependudukan SAD nanti ada kekhususan. Mereka akan direkam tanpa menggunakan syarat formil. Nanti KK dan KTPnya langsung di Cap Dukcapil,” ujarnya.

Sedangkan untuk TPS nantinya pihak KPU tidak memberikan kekhususnya. Warga SAD yang sudah masuk dalam DPT tetap akan diakomodir hak pilihnya dalam TPS terdekat dengan tempat tinggal mereka atau alamat mereka.
“TPS mereka dimana alamat KTP mereka. Gabung dengan masyarakat setempat. Kalau dulu memang ada yang dikhususkan. Tetapi pemilihan ini tidak ada pengkhususan,” kata Ahdiyenti.
Untuk diketahui, warga SAD terdapat di beberapa kabupaten. Seperti, Kabupaten Batanghari, Tebo, Merangin, Sarolangun, Bungo. Populasi terbanyak mereka terdapat di Kabupaten Sarolangun. Akan tetapi, sangat disayangkan KPU Sarolangun tidak bisa dikonfirmasi tentang DPT warga SAD ini. Hanya KPU Batanghari dan Tebo yang bersedia terbuka.
Baca: VIDEO: Ingin Menurunkan Berat Badan, Ternyata Senam ini Sangat Baik Untuk yang Lagi Diet Tubuh
Baca: Pemkot Jambi Siapkan Bonus Besar untuk Atlet Porprov, KONI Beri Bocoran
Baca: Nyesep Terkena Kanker di Mulut, 3 Orang Rimba Lakukan Perjalanan 5 Jam ke RSUD di Jambi
Ketua KPU Batanghari, Abdul Kadir, mengatakan memang tengah melakukan perbaikan elemen data. Selain itu, pihak KPU juga melakukan kerjasama dengan Dukcapil Batanghari. Bahkan dalam waktu dekat mereka akan melakukan rakor untuk membahas persoalan ini.
“Saat ini kami tengah melakukan perbaikan elemen data. Yang tidak memiliki KTP akan kita keluarkan dan yang baru memiliki KTP akan kita masukan,”ungkap A Kadir.
A Kadir sendiri mengungkapkan bahwa di Batanghari warga SAD tersebar di Kecamatan Batin XXIV, dan Maro Sebo Ulu. Data sementara yang bisa disampaikan bahwa di Sungai Lingkar ada 400 orang, di Tebing Tinggi lebih kurang 33 orang dan di Batin XXIV ada lebih kurang 200 orang.
“Kalau ditotal, jumlah warga SAD di Batanghari mencapai 1000 orang,” kata Kadir.
Hal serupa diakui Sri Asteti, Komisioner KPU Tebo. Di kabupaten mereka juga banyak warga SAD yang masuk dalam DPT. Dan saat ini mereka juga tengah melakukan perbaikan elemen data pemilih.
“Di KPU Tebo, DPT Warga SAD juga banyak yang diakomodir. Tetapi karena itu data real, nanti akan kita sampaikan. Saat ini tengah dilakukan perbaikan,” ungkap Sri Asteti.
Data lapangan KKI Warsi
Sementara itu, Sukma Reni Koordinator Komunikasi KKI Warsi ketika dikonfirmasi Tribun mengungkapkan bahwa jumlah warga SAD saat ini mencapai 5.000 jiwa lebih. Mereka tersebar di kabupaten Merangin, Sarolangun, Batanghari, Tebo dan Bungo.
“Sebaran warga SAD di Merangin 1.267 jiwa, Sarolangun 2.228 jiwa, Bungo 395 jiwa, Batanghari 629 jiwa, dan Tebo 707 jiwa. Total keseluruhan mencapai 5.235 jiwa,” kata Reni.
Selaku LSM yang concern terhadap pendampingan warga SAD di Provinsi Jambi, Reni mengungkapkan bahwa warga SAD ini tersebar dalam kelompok kelompok kecil. Dan mereka sudah beberapa kali ikut dalam pesta demokrasi yang sudah dilaksanakan. Baik itu Pileg, Pilpres dan Pilkada di kabupaten masing-masing. Meski ketika itu, sebagian kecil saja yang ikut.
Reni mengungkapkan pada saat itu mereka ditempatkan dalam TPS khusus. Dimana, sehari sebelum pemilihan mereka warga SAD keluar hutan dan sudah berkumpul di lokasi yang akan dijadikan tempat pemilihan.
Ketika sudah melakukan pemilihan, mereka kembali ke kediaman mereka di hutan. Namun, pada Pilpres 2009 dan 2014 mereka sudah mau membaur dengan warga setempat.
“Sebenarnya tidak susah mengajak mereka partisipasi. Hanya saja mereka memang tidak bisa membaca dan tidak mengenal kultur pemilihan kepada daerah atau presiden. Tetapi saat ini sebagian kecil mereka sudah mulai mengerti. Meski sebagian besar tidak mengerti sama sekali,” ungkap Reni.

Bagi warga SAD yang masih banyak muta aksara ini hanya mengenal lewat gambit. Sehingga bila KPU dan tim Sukses ingin melakukan sosialisasi harus melalui gambar. Dan bila warga SAD menyukainya maka akan mereka pilih. Dan komunikasi dengan warga SAD juga dikatan Reni sudah tidak sulit lagi. Sebab, mereka sudah mau membaur dengan masyarakat.
“Kalau pun Orang Rimba itu akan memilih. Kami punya radio. Bila KPU akan bekerjasama, nanti warga SAD akan dikumpulkan. Pihak KPU bisa bersosialisasi, meski sebenarnya mereka tidak cukup tau. Karena mereka tidak bisa baca tulis. Tetapi hanya melalui gambar saja,” terang Reni.
Reni mengatakan warga SAD memiliki budaya melangun, atau berpindah. Pada April 2019 nanti, tidak bisa dipastikan SAD akan berpindah kemana. Sebab, perpindahan warga SAD sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya keluarga mereka yang meninggal dunia.
Bila ada keluarga mereka yang meninggal dunia, maka mereka akan meninggalkan lokasi mereka saat ini.
Baca: Tarif Endorse Instagram 5 Selebritas Kelas Atas Indonesia, Jessica Iskandar Paling Murah
Baca: Kondisi Badan Veronica Tan setelah Enam Bulan Bercerai dengan Ahok, Penampakan Baju Hitam
Baca: Bangunan Pasar Angso Duo Modern 98 Persen, Pemprov Jambi dan PT EBN Teken Addendum