Yang Gede Siap, Bagaimana yang Kecil? Transaksi Tunai di Atas Rp 100 Juta akan Dilarang (Bag-2)

BERBEKAL semangat untuk menekan transaksi tunai di dalam negeri, pemerintah menyusun Rancangan Undang-Undang tentang Pembatasan

Yang Gede Siap, Bagaimana yang Kecil? Transaksi Tunai di Atas Rp 100 Juta akan Dilarang (Bag-2)
Ilustrasi transaksi non-tunai menggunakan smartphone.(Thinkstock) 

Sebelumnya: Amunisi Baru Berangus Korupsi - Transaksi Tunai di atas Rp 100 Juta akan Dilarang (Bagian-1)

Yang Gede Sih Siap, yang Kecil Nanti Dulu

BERBEKAL semangat untuk menekan transaksi tunai di dalam negeri, pemerintah menyusun Rancangan Undang-Undang tentang Pembatasan Transaksi Uang Kartal (RUU PTUK). Saat ini, calon beleid itu masih menunggu paraf dari para menteri terkait untuk kemudian dikirim dan dibahas bersama DPR.

Banyak terobosan pemerintah dalam bakal undang-undang tersebut. Misalnya, membatasi transaksi tunai maksimal Rp 100 juta. Aturan main ini berlaku bagi perorangan maupun korporasi. Kalau nekad melanggar, maka ada sanksi administrasi yang menanti. Yakni, denda dan pembatalan perjanjian transaksi itu demi hukum.

Baca: Sri Mulyani: Hampir Seluruh Dana THR Sudah Masuk Rekening PNS dan Pensiunan

“RUU ini sama sekali tidak melarang transaksi dalam jumlah berapa pun. Kelak, hanya meminta agar transaksi yang nilainya Rp 100 juta atau lebih dilakukan secara nontunai, dengan memanfaatkan layanan jasa keuangan,” kata Kiagus Ahmad Badaruddin, Kepala Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Pelaku usaha yang sering bertransaksi tunai dengan nilai di atas Rp 100 juta bakal terkena imbasnya. Danang Girindrawardana, Ketua Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) , menilai, RUU PTUK memberikan efek positif sekaligus negatif bagi kalangan pelaku usaha.

Dampak positifnya adalah, bisa meningkatkan keamanan dalam transaksi bisnis. “Transaksi nontunai di pasar akan memudahkan dan meminimalisir adanya tindak kejahatan di pasar,” sebut Danang.

Transaksi nontunai juga membuat pelaporan keuangan lebih transparan lantaran semua serba tercatat. Makanya, pengusaha sekarang lebih senang bertransaksi secara nontunai. Terlebih, saat ini perbankan pun sudah menyediakan infrastruktur yang memadai dalam mendukung transaksi tanpa uang kartal.

“Saat ini, sudah tidak ada pengusaha melakukan transaksi tunai di atas Rp 100 juta. Karena, sudah tidak efektif lagi memakai uang sebegitu banyaknya,” ungkap Danang.

Baca: Status Saham Indonesia Naik Jadi Equalweight, Geser Posisi Selandia Baru

Baca: Sidak Disperindag ke Sejumlah Pasar, Harga Bahan Pokok Cenderung Stabil

Hanya memang, Danang mengakui, masih ada beberapa transaksi yang harus pelaku usaha lakukan secara tunai. Misalnya, membayar tagihan ke beberapa pemasok barang informal. “Tapi kebanyakan, nilai transaksinya di bawah Rp 100 juta,” imbuh Danang.

Halaman
1234
Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved