Penjelasan Psikolog Terkait Kekerasan Terhadap Anak, untuk Pengetahuan Orang Tua
Sama seperti perilaku, ada faktor lingkungan maupun faktor di dalam diri yang mendorong pelaku melakukan hal tersebut
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Duanto AS
Laporan Wartawan Tribun Jambi Heri Prihartono
TRIBUNJAMBI.COM, TRIBUN - Psikolog klinis Jambi, Siti Raudhah, mengatakan sebenarnya ada banyak faktor penyebab kasus kekerasan terhadap anak, terutama kasus pelecehan seksual.
Sama seperti perilaku, ada faktor lingkungan maupun faktor di dalam diri yang mendorong pelaku melakukan hal tersebut. Dari sisi lingkungan, bisa jadi karena adanya pengaruh pengalaman menonton video porno ataupun meniru isu yang sedang marak.
"Faktor lingkungan tentunya tidak lepas dari pengaruh faktor di dalam dirinya. Misalnya dorongan libido yang tinggi, masalah dalam relasi yang membuatnya tidak mampu menjalin relasi yang sehat dengan orang dewasa, trauma masa kecil sebagai korban pelecehan, dan banyak faktor lainnya. Faktor internal dan eksternal berkolaborasi sehingga memunculkan perilaku yang kekerasan tersebut," ujarnya kepada tribunjambi.com, Sabtu (24/3) malam.
Dari sejumlah kasus pelaku adalah orang dekat korban, berupa kekasih atau ayah tiri, bagaimana hal ini bisa terjadi ?
Memang benar, pelaku justru biasanya adalah orang terdekat. Jarang sekali pelaku yang merupakan orang tidak dikenal. Untuk bisa menjerat korban, pelaku biasanya membutuhkan waktu karena harus membangun kepercayaan korban terlebih dahulu. Jarang ada tindakan pencabulan yang dilakukan langsung ketika pertama kali bertemu dengan korban.
Baca: Kekerasan Terhadap Anak di Jambi Meningkat, 98 Persen Pelaku Orang Terdekat
Baca: Selamat pagi, yang Populer Semalam, Kabar dari Umi Pipik sampai Cucu Temenggung SAD Meninggal
Biasanya, itu diawali dengan merayu korban terlebih dahulu. Oleh karenanya, orang terdekat seringkali yang menjadi pelaku karena sudah kenal dan biasanya dipercaya oleh korban.
Untuk orang asing, biasanya orang tua sudah mengajarkan bagaimana menjaga diri terhadap mereka. Berbeda dengan orang terdekat yang pastinya lebih dipercaya oleh keluarga.
Cara pencegahan yang paling baik saat ini adalah mengedukasi anak mengenai batasan-batasan tubuh yang boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain serta apa yang harus dilakukan ketika ada orang yang melewati batasan tersebut.
Batasan ini tentunya didiskusikan dan disepakati terlebih dahulu oleh orang tua, misalnya ayah hanya boleh membantu anak ‘cebok’ sampai pada usia 3 tahun, selebihnya hanya boleh dilakukan ibu.
Orang tua juga perlu membangun pola komunikasi yang terbuka dengan anak sehingga ia berani dan mau bercerita mengenai apa saja yang ia alami, termasuk ketika ada orang yang mencoba untuk melihat dan menyentuh area terlarang pada dirinya.
Tentunya kekerasan pada anak sebisa mungkin dihindari sebab bisa memberikan dampak trauma pada anak terutama bisa sampai menyakiti secara fisik ataupun mendapatkan ancaman.
Anak yang trauma bisa jadi mengembangkan pola perilaku yang salah dalam lingkungan sosialnya, berpengaruh pada perkembangan akademiknya, atau bahkan memengaruhi pola relasinya ketika ia dewasa.