Lihat Video Girlband Red Velvet, Netizen Ini Emosi. Alasannya Ternyata Cuma Karena
Adanya terjemahan atau subtitles pada film atau musik luar negeri tentu membantu para penggemarnya.
Penulis: Efrem Limsan Siregar | Editor: rida
"Ci-ci-luk-ci-luk-ba," tulis dalam subtitles itu.
Jika merujuk pada kamus, kata "Ci-ci-luk-ci-luk-ba " memang tak dapat ditemukan di sana.
Tapi kata itu sebenarnya pengulangan dari bunyi "ci-luk-ba" yang sering diucapkan ke anak kecil.
Tapi, akun @cultjaehwan menuliskan kekesalannya.
"gue gapernah se emosi ini gara2 subtitel," tulis @cultjaehwan.
Nah itu baru satu, ternyata netizen punya contoh terjemahan yang tak kalah uniknya.
Bahasa terjemahan seperti bahasa percakapan sehari-hari, seperti yang diposting @lambejisung.
"CN: Org2 udah mulai pada tua."
"Ah elah."
"HY: Dasar Oon."
"Apah om om agi tuting pilem?"
Nah, sebenarnya, tidak ada yang salah pada bahasa subtitles tersbut.
Menurut akun @cultjaehwan, cara ini dipakai mengikuti budaya masyarakat pendengar.
"ini kalo teknik terjemahannya benny hoed namanya padanan budaya," tulis @cultjaehwan, .
"Wkwkwk bener penerjemahan bisa dilihat dari tujuan si penerjemah atau budaya bahasa target," tulis @akuluthfi.
Tapi tentu saja terjemahan seperti itu dianggap memancing orang untuk kesal.
"ANJIR KOK KESEL YA HAHAHAHHAH," tulis @eatenbykim.
"La la ci luk ba haha," tulis @borntobetytrack.
"Humor gwe..." tulis @wonpuh.
(Tribunnews.com/Efrem Limsan Siregar)