Lihat Video Girlband Red Velvet, Netizen Ini Emosi. Alasannya Ternyata Cuma Karena
Adanya terjemahan atau subtitles pada film atau musik luar negeri tentu membantu para penggemarnya.
Penulis: Efrem Limsan Siregar | Editor: rida
TRIBUNJAMBI.COM- Adanya terjemahan atau subtitles pada film atau musik luar negeri tentu membantu para penggemarnya.
Tujuannya jelas, agar pendengar mudah memahami arti atau maksud lirik lagu.
Penonton film pun akan mengerti dan paham percakapan antar tokoh.
Baca: Derita Talasemia, Bocah 4 Tahun Ini Minta Dikuburkan Saja. Alasannya Bikin Sang Ibu Terenyuh
Baca: Mengaku Sebagai Polisi, Anggota Ormas Ini Peras Warga Hingga Puluhan Juta Rupiah
Baca: Viral, Seekor Anjing Disekap Dalam Mobil Selama 8 Jam. Alasan Pemilik Bikin Netizen Emosi!
Nah, YouTube sudah menambahkan fitur subtitles tersebut.
Memang tak semua terjemahan bahasa tersedia pada video, tergantung pada pengunggahnya (uploader).
Meski begitu, apa yang dialami netizen berikut ini bisa jadi pengalaman dan pelajaran baru.
Baca: Di Payudara Anda Ada Benjolan? Jangan Cemas, Tak Melulu Itu Kanker! BIsa Jadi. . .
Baca: Katakan Perempuan yang Pakai Jins Robek Layak Diperkosa, Pria Ini Dipenjara 3 Tahun
Baca: Usai Berkelahi dengan Sepupu di Kedai Tuak, Lamhot Tewas Ditikam Relades
Hal itu diungkapkannya di Twitter, Sabtu (2/12/2017) ketika menyaksikan video konser girlband Korea Red Velvet.
Akun @cultjaehwan merasa jengkel dengan terjemahan di video Red Velvet - Peek-A-Boo.
Dalam postingannya, dia mengunggah gambar dari cuplikan video.
"Ci-ci-luk-ci-luk-ba," tulis dalam subtitles itu.
Jika merujuk pada kamus, kata "Ci-ci-luk-ci-luk-ba " memang tak dapat ditemukan di sana.
Tapi kata itu sebenarnya pengulangan dari bunyi "ci-luk-ba" yang sering diucapkan ke anak kecil.
Tapi, akun @cultjaehwan menuliskan kekesalannya.
"gue gapernah se emosi ini gara2 subtitel," tulis @cultjaehwan.
Nah itu baru satu, ternyata netizen punya contoh terjemahan yang tak kalah uniknya.
Bahasa terjemahan seperti bahasa percakapan sehari-hari, seperti yang diposting @lambejisung.
"CN: Org2 udah mulai pada tua."
"Ah elah."
"HY: Dasar Oon."
"Apah om om agi tuting pilem?"
Nah, sebenarnya, tidak ada yang salah pada bahasa subtitles tersbut.
Menurut akun @cultjaehwan, cara ini dipakai mengikuti budaya masyarakat pendengar.
"ini kalo teknik terjemahannya benny hoed namanya padanan budaya," tulis @cultjaehwan, .
"Wkwkwk bener penerjemahan bisa dilihat dari tujuan si penerjemah atau budaya bahasa target," tulis @akuluthfi.
Tapi tentu saja terjemahan seperti itu dianggap memancing orang untuk kesal.
"ANJIR KOK KESEL YA HAHAHAHHAH," tulis @eatenbykim.
"La la ci luk ba haha," tulis @borntobetytrack.
"Humor gwe..." tulis @wonpuh.
(Tribunnews.com/Efrem Limsan Siregar)