Hakim Ampuni Ibu 83 Tahun yang Tega Cekik Anaknya Sampai Mati, Alasannya Bikin Berkaca-kaca
Nenek tersebut mengaku membunuh anak laki-lakinya yang cacat padahal selama ini Dia merawatnya hampir setengah abad.
Penulis: bandot | Editor: bandot
TRIBUNJAMBI.COM - Pengadilan di Guangzhou China ini membuat sebuah putusan yang menggegerkan publik.
Hakim pengadilan tersebut memberi pengampunan pada seorang nenek yang terlibat kasus pembunuhan.
Korban adalah anaknyaa sendiri yang cacat. Korban 50 tahun telah dirawatnya. Pengadilan memberi belas kasihan kepada nenek sang pelaku.
Nenek tersebut mengaku membunuh anak laki-lakinya yang cacat padahal selama ini Dia merawatnya hampir setengah abad.
Cara membunuhnya juga terbilang kejam, Dia mencekoki anaknya dengan obat tidur sebelum akhirnya mencekiknya.
Baca: Dipaksa Menikah, Wanita Ini Tuang Racun di Susu Suami dan 13 Orang Keluarganya, Selanjutnya Ngeri!
Wanita berusia 83 tahun itu, yang bermarga Huang, mengakui bahwa pada tanggal 9 Mei dia memberi makan anak laki-lakinya yang berusia 46 tahun sekitar 60 obat tidur.
Setelah itu Dia memasukkan kapas ke hidung anaknya lalu mencekiknya dengan syal sampai dia berhenti bernapas.
Baca: Beredar Hoax Ajakan Tak Perlu Registrasi Ulang Kartu Pra Bayar, Kominfo Jelaskan Hal ini

Keesokan harinya, dia menyerahkan diri ke polisi.
Dia menjelaskan mengapa dia membunuh anaknya itu.
"Saya semakin tua dan lemah dan saya takut bisa mati sebelum dia melakukannya dan dia tidak memiliki siapa pun untuk merawatnya," kata Huang.
"Saya berjuang dengan keputusan selama seminggu sebelum memutuskan untuk memberinya pil tidur."
Baca: Ya Ampun, Wajah Wanita Ini Nyaris Habis Digerogoti Penyakit Pemakan Daging Manusia
Ketika ditanya mengapa beberapa anggota keluarga lainnya tidak bisa mengurus anaknya, Huang menjawab bahwa dia tidak ingin menyampaikan beban berat itu kepada orang lain.
"Akulah yang melahirkannya dan membuatnya menderita," katanya.
"Saya lebih suka membunuhnya daripada membiarkan dia merawat orang lain."
"Mengakhiri hidupnya yang menyakitkan lebih baik daripada membiarkannya menderita lagi," lanjutnya.
"Dia adalah anak saya, saya tidak pernah membenci atau mengabaikannya, saya tidak pernah berpikir untuk menyerah pada dia sebelumnya, tapi selama dua tahun terakhir kesehatan saya semakin memburuk."
Anak Huang lahir prematur dengan cacat mental dan fisik yang parah sehingga membuatnya tidak bisa berbicara, berjalan atau hidup sendiri.
Selama bertahun-tahun, otot-ototnya atrophi dan kondisinya semakin memburuk, artinya ibunya harus meluangkan lebih banyak waktu merawatnya.
Sementara teman-teman Huang menyarankan agar dia memberikan anaknya ke fasilitas kesejahteraan, Huang berkeras agar tidak ada yang bisa merawat anaknya lebih baik dari yang dia bisa.
Baca: ASTAGA - Pasangan Lansia Dilarikan ke RS Setelah Dianiaya dengan Gergaji oleh Anaknya
Ketika usianya 47 tahun, dia melamar untuk pensiun sehingga dia bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk merawatnya.
Di pengadilan, keluarga Huang membela tindakannya, menjelaskan bahwa setelah pengabdian tanpa pamrih selama 46 tahun, dia telah dipaksa membuat keputusan mengerikan untuk mengakhiri kehidupan anaknya sendiri.
"Kejahatan ibu saya sama sekali tidak seperti pembunuhan," anak sulung Huang itu ke pengadilan.
"Dia hanya ingin mengakhiri penderitaannya. Di dalam hatinya, dia tidak ingin menyakiti adik laki-laki saya."
Pada akhirnya, pengadilan memberi Huang hukuman penjara tiga tahun yang ditangguhkan dengan hakim yang menjelaskan bahwa meskipun dia melanggar hukum, dia tetap berhak menerima belas kasihan.
"Alih-alih pembunuhan karena kebencian, ini adalah pembunuhan karena cinta, namun hak untuk hidup adalah hak seseorang yang paling penting. Tidak ada yang bisa mengambilnya, termasuk orang tua," kata hakim tersebut.