Koperasi Lapas Jambi, Tempat Napi Membeli Kebutuhan Sehari-hari yang Dua Kali Lebih Mahal
“Orang di dalam sudah tidak ada pendapatan lagi. Keluarga susah semua, malah dibikin makin susah kayak gitu,”
Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Nani Rachmaini
Laporan wartawan Tribun Jambi, Jaka HB
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kantin lapas klas IIA sempat dijarah narapidana Jumat (20/1) lalu. Rusuh. Kaca jendela kantin pecah. Narapidana protes dengan kebijakan baru lapas yang dirasa mengada-ada.
Keluhan ini kemudian membesar hingga menjadi suara protes. Sebut saja Jingga, salah satu istri narapidana. Baru sekira dua minggu ini dirinya merasa risih dengan lapas yang menjual makanan instan mahal.
“Mi bae 4000 rupiah. Alfa yang mahal be cuma 2500,” katanya.
Dia mengatakan makanan itu dijual di koperasi milik lapas sendiri. Baru dua minggu ini buka dan tidak dibolehkan agi membawa barang belanja dalam bentuk mie, susu, rokok dan sejenisnya. “Karena katonyo ado koperasi di situ,” katanya.
Dia mengatakan peraturan itu ditulis di bagian luar karena sudah ada di dalam. “Biar pemeriksaan juga ngga lama dia bilang,” katanya.
Akan tetapi dia bingung dengan tulisan ‘dengan harga yang wajar’ yang tertempel. “Tulisannya, tapi ya itu, masa mi satu bungkus empat ribu dibilang wajar,” katanya.
“Orang di dalam sudah tidak ada pendapatan lagi. Keluarga susah semua, malah dibikin makin susah kayak gitu,” ungkapnya.
“Emangnya duit bisa dipetik dari pohon?” celetuknya.
Dia mengatakan bahwa suaminya tidak mendapatkan lauk yang tidak layak, jadi hanya mengandalkan dari luar. Itu pun katanya, dimakan ramai-ramai. Meski pun begitu kalau untuk lauk-lauk biasa masih boleh.
Dia awalnya berpikiran positif. “Mungkin karena ramai, bisa mempercepat waktu, mengurangi resiko juga mana tau diselipin apa gitu. Bagus sih, Cuma harganya tidak wajar aja menurutku,” kata Jingga.
Selain itu ada pula Biru, narapidana lapas klas IIA. Biru membenarkannya. Dia mengatakan bahwa kesehatan dirinya dan rekannya di lapas diabaikan. Dia menyebut ada yang sakit kritis dan saat mau berobat ke ruangan atas malah disuruh turun.
“Akhirnya meninggal. Periode kalapas yang ini sudah 8 orang meninggal karena sakit dibiarkan,” katanya.
Selanjutnya peraturan besuk dilarang beli makanan dan harus beli didalam lapas. “Sementara harga disini mahal,” katanya.
Selain itu kata Biru, pengurusan pembebasan bersyarat agak dipersulit dan terlalu banyak peraturan baru yang bikin mereka susah.