Wow, Kertas Tradisional Jepang Ini Bisa Untuk Hiasan di Rumah
"Satu set washi deco dengan motif seperti bintang salju dijual tiga buah dengan harga 864 yen," kata gadis Jepang ini.
Apa Itu Washi?
Washi atau wagami adalah kertas yang dibuat dengan metode tradisional di Jepang. Dibandingkan kertas produksi mesin, serat dalam washi lebih panjang sehingga washi bisa dibuat lebih tipis, namun tahan lama (tidak lekas lusuh atau robek). Oleh karena itu bisa dibuat kerajinan tangan juga seperti produk origami.
Produksi washi sering tidak dapat memenuhi permintaan konsumen sehingga berharga mahal. Di Jepang, washi digunakan dalam berbagai jenis benda kerajinan dan seni seperti origami, shodo dan ukiyo-e.
Washi juga digunakan sebagai hiasan dalam agama Shinto, bahan pembuatan patung Buddha, bahan mebel, alas sashimi dalam kemasan, bahan perlengkapan tidur, bahan pakaian seperti kimono, serta bahan interior rumah dan pelapis pintu dorong. Washi digunakan sebagai bahan uang kertas sehingga uang kertas yen terkenal kuat dan tidak mudah lusuh.
Menurut buku sejarah Jepang Nihon Shoki, biksu Doncho (Dokyo) datang ke Jepang dari Kerajaan Goguryeo pada tahun 610 (tahun ke-18 era Suiko). Donchō merupakan ahli dalam berbagai bidang, termasuk cara pembuatan kertas dan tinta. Di Jepang, Donchō membuat penggilingan kertas dari gilingan batu dengan tenaga penggerak kincir angin. Bahan baku kertas pada saat itu berupa bubur kertas dari serat rami yang dihaluskan dengan gilingan batu.
Pada zaman itu, teknik pembuatan kertas merupakan rahasia negara kekaisaran Tiongkok yang tidak boleh dibocorkan ke luar negeri. Penyebaran kertas ke Timur Tengah yang dibawa orang Arab yang menjadi bekas tawanan perang di Tiongkok baru terjadi 140 tahun sesudah dikenalnya teknik pembuatan kertas di Jepang.
Sebelum dikenal cara pembuatannya, kertas sudah digunakan di Jepang sebagai bahan pembuatan buku. Menurut Kojiki (buku sejarah Jepang yang tertua dan menurut kata pengantar yang ada di dalamnya dipersembahkan Oho no Asomiyasumaro (O no Yasumaro) pada tahun 712 (tahun ke-5 zaman Wadō), pertama kali buku dibawa masuk ke Jepang oleh sastrawan bernama Wani Kishi dari kerajaan Baekje pada tahun 285 (tahun ke-16 era Kaisar Ojin).
Wani membawa 10 jilid buku Analek Konfusius dan satu jilid buku Seribu Aksara Klasik (Qiānzìwén). Data Kojiki mengenai asal usul buku dianggap tidak akurat. Penulis buku "Seribu Aksara Klasik" lahir 100 tahun setelah era Kaisar Ojin. Buku Analek Konfusius dan Seribu Aksara Klasik dibawa masuk ke Jepang pada abad ke-4 atau abad ke-5.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/wakana-sugimoto-artis-kertas-tradisional-jepang-washi_20150905_110004.jpg)