Aksi di Gedung Rektorat Unja, Puluhan Mahasiswa Menyoal Masalah Parkiran hingga Beasiswa Bidikmisi

Puluhan mahasiswa yang tergabung Aliansi Mahasiswa Unja melakukan aksi di depan Gedung Rektorat Unja, Kamis (11/4). Mereka menyoal masalah parkir.

Aksi di Gedung Rektorat Unja, Puluhan Mahasiswa Menyoal Masalah Parkiran hingga Beasiswa Bidikmisi
Tribunjambi/Samsul Bahri
Aliansi Mahasiswa Unja melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Rektorat Unja, Kamis (11/4). 

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI-Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Unja melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Rektorat Unja, Kamis (11/4). Mereka menyoal masalah parkir di Unja.

Pihak Rektorat Unja pun menanggapi dengan melakukan audiensi di Ruang Senat Gedung Rektorat Unja.

Perwakilan Aliansi Mahasiswa Unja, Nanda Herlambang mengatakan bahwa pelayanan dan fasilitas parkir tidak sesuai dengan surat keputusan pimpinan mengenai parkir tertanggal 19 Februari 2018.

"Di poin ke tujuh itu, mereka (red- Unja) mengangkangi poin tersebut di mana orang yang tidak mempunyai uang dan ingin keluar dari Unja hari ini kondisinya itu tidak diperbolehkan, mereka harus bayar. Padahal aturan sebelumnya di perbolehkan," katanya.

Mahasiswa juga menolak adanya KKN yang mengarah pada Beasiswa Bidikmisi yang dianggap tidak tepat sasaran.

Baca: Suami di Jambi Pukul Kepala Istrinya Pakai Palu Hingga Pingsan, Istri Mengaku Masih Sayang

Baca: Tahun 2019 Pemkot Sungai Penuh Tidak Akan Rekrut CPNS Meski Kekurangan Pegawai, Ini Alasannya

Baca: Banyak Jalur Tikus, Desa Pemusiran di Tanjab Timur Rawan Penyelundupan Barang Ilegal

Baca: Seminggu Pasar Keramat Tinggi Jambi Terbakar, Pedagang Bingung Mau Jualan Tak Punya Lapak

Baca: Dugaan Pelecehan Seksual UIN STS Jambi, Rektor Mengaku Telah Serahkan Hasil Investigasi ke Kemenag

"Itu lebih ke arah Bidikmisi di mana kurang tepat sasaran dalam artian penerapan UKT (uang kuliah tunggal) seorang anak petani itu UKT mencapai kurang lebih Rp 3 juta sedangkan pejabat ini hanya Rp 2 juta di situ kami melihat bahwa ada sedikit upaya yang dilakukan untuk melakukan korupsi," katanya.

Mereka juga menuntut agar biaya Juelt diturunkan. Namun, kata Nanda dalam pertemuan audiensi permasalahan tersebut sudah dibicarakan oleh pihak rektorat.

Sebelumnya pembayaran Juelt sebesar Rp 250 ribu sampai dengan mahasiswa tersebut lulus Juelt.

"Kami dapat informasi tadi berdasarkan hasil rapat pimpinan pihak rektorat dan ketetapan biayanya berubah dari yang sebelumnya," ucapnya.

"Tes yang pertama kali uangnya Rp 250 ribu, tidak lulus tes kedua bayarnya Rp 200 ribu dan ketiga Rp100.000. Nah tadi kami minta ketetapannya kapan berlaku, jadi itu tidak hanya angin segar, kami minta kepastian mengenai itu," pungkasnya.

Penulis: syamsul
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved