Kisah Militer

Mayor Umar Berdoa Lalu Minum Air 'Aneh', Perwira Kopassus Ambil Risiko karena Hormati Tuan Rumah

Mayor Umar kaget saat melihat air dalam gelas tersebut. Anggota Kopassus ini mengetahui air tersebut diambil dari wadah yang sama untuk memberi minum

Editor: Duanto AS
TNI
Komandan Tim dari Kopassus TNI AD yang ikut operasi pembebasan sandera di Desa Binti dan Desa Kimbley, Tembagapura, Mimika, Papua, memberikan jatah makan saingnya ke "Mama-Mama" Papua yang baru saja dibebaskan dari penyanderaan oleh Prajurit TNI, Jumat (17/11/2017). (Hak Cipta Foto Penerangan Kopassus TNI AD). 

Mayor Umar kaget saat melihat air dalam gelas tersebut. Anggota Kopassus ini mengetahui air tersebut diambil dari wadah yang sama untuk memberi minum kuda. Namun dia mampu menguasai diri, berdoa, lalu meminumnya sambil menahan napas.

TRIBUNJAMBI.COM - Satu strategi yang dilakukan Kopassus saat melaksanakan misi adalah melakukan pendekatan dengan penduduk setempat.

Mengambil hati masyarakat merupakan satu di antara strategi yang dipelajari dalam latihan pasukan elite TNI.

Meski dilatih untuk ganas di medan pertempuran, Kopassus dikenal jago mengambil hati masyarakat.

Cara itu dilakukan di mana saja Kopassus bertugas.

Satu di antaranya terbukti efektif saat menjadi pasukan perdamaian di negara konflik.

Cara ini sangat efektif. Satu di antaranya yang dikisahkan perwira Kopassus yang ditugaskan di Sudan pada 2006, Mayor Umar.

Nukilan dari Buku Kopassus untuk Indonesia karya Iwan Santosa dan EA Natanegara, mengisahkan saat itu Mayor Umar ditugaskan di Sudan.

Baca Juga

 Rahasia di Kopassus, Sersan Badri Menyamar hingga Diminta Sembunyikan Istri Panglima Musuh

 784 Suku Anak Dalam di Sarolangun Ikut Pemilu 2019, Lakukan Simulasi di Desa Suka Jadi

 (VIDEO) Terdengar Suara Seperti Pesawat Jatuh, Tiba-tiba Kafe di Jalan Ringroad Runtuh Rata Tanah

 Otak di Balik Kasus Mayat Tanpa Kepala di Koper Terungkap, Ini Sosok Sadis yang Bunuh Budi Hartanto

Sudan merupakan negara yang dilanda perang saudara berkepanjangan.

Negeri ini hancur karena perang saudara dan keamanan menjadi satu di antara permasalahan.

Hampir setiap hari terjadi kekerasan, pemerkosaan dan pembunuhan di sana.

Rakyat merasa khawatir dan terancam keselamatannya saat pergi keluar rumah.

Mereka memilih untuk berada di dalam rumah dan tak beraktivitas di luar karena ancaman kekerasan sewaktu-waktu bisa terjadi.

Akibatnya, sekedar butuh kayu bakar untuk memasak pun tak ada yang berani mencarinya ke pinggiran hutan.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved