Kisah Militer

Mayor Umar Berdoa Lalu Minum Air 'Aneh', Perwira Kopassus Ambil Risiko karena Hormati Tuan Rumah

Mayor Umar kaget saat melihat air dalam gelas tersebut. Anggota Kopassus ini mengetahui air tersebut diambil dari wadah yang sama untuk memberi minum

Mayor Umar Berdoa Lalu Minum Air 'Aneh', Perwira Kopassus Ambil Risiko karena Hormati Tuan Rumah
TNI
Komandan Tim dari Kopassus TNI AD yang ikut operasi pembebasan sandera di Desa Binti dan Desa Kimbley, Tembagapura, Mimika, Papua, memberikan jatah makan saingnya ke "Mama-Mama" Papua yang baru saja dibebaskan dari penyanderaan oleh Prajurit TNI, Jumat (17/11/2017). (Hak Cipta Foto Penerangan Kopassus TNI AD). 

Konga III berangkat dengan pesawat pada bulan Desember 1962 dan akan bertugas di Albertville, Kongo selama delapan bulan di bawah naungan UNOC (United Nations Operation in the Congo).

Kisah Operasi Kopassus di Papua, Misi Bebaskan 5 Anggota Koramil yang Seminggu Dikepung Pemberontak
Kisah Operasi Kopassus di Papua, Misi Bebaskan 5 Anggota Koramil yang Seminggu Dikepung Pemberontak (IST)

Daerah yang menjadi medan operasi pasukan Garuda terkenal sangat berbahaya.

Di situ terdapat kelompok-kelompok milisi atau pemberontak pimpinan Moises Tsommbe yang berusaha untuk merebut daerah tersebut karena kaya akan sumber daya mineral.

Heroik 1961 

Kopassus Garuda 3 di tahun 1961 sebelumnya melakukan aksi heroik di Kongo. Hubungan interaksi antara pasukan Konga III dengan pasukan perdamaian negara lain terjalin sangat erat.

Mereka terdiri dari pasukan perdamaian Filipina, India dan bahkan dari Malaysia yang pada tahun 1962 Indonesia sedang gencar-gencarnya menyerukan konfrontasi Ganyang Malaysia dikobarkan, tapi di bawah bendera PBB sikap tersebut hilang karena profesionalitas personel Konga III.

Kontingen pasukan perdamaian India merupakan yang terbesar dan terbanyak jumlahnya di UNOC dan terorganisir dengan baik, sedangkan pasukan Garuda hanya berkekuatan kecil akan tetapi mampu melakukan taktik perang gerilya dengan baik.

Bukan hanya soal perang melulu, Konga III juga mengajarkan masyarakat setempat untuk mengolah berbagai macam tumbuhan yang berada di sekitar mereka untuk dijadikan makanan, seperti cara mengolah daun singkong sehingga enak dimakan.

Suatu hari, terjadi serangan mendadak di markas Konga III yang dilakukan oleh pemberontak yang diperkirakan berkekuatan 3.000 orang.

Markas Konga III dikepung oleh para pemberontak tersebut.

Tembak menembak terjadi dari jam 24.00 malam hingga dini hari,.

Tidak ada pasukan Garuda yang meninggal pada kejadian itu, hanya beberapa luka ringan dan segera ditangani oleh tim medis.

Sedangkan para pemberontak setelah melakukan serangan itu langsung mundur ke wilayah gurun pasir yang gersang.

Tak mau berdiam diri saja, seluruh pasukan perdamaian di Kongo dari semua negara peserta langsung melakukan rapat koordinasi untuk melakukan pengejaran terhadap gerombolan pemberontak.

Hasilnya, dibentuk tim berkekuatan 30 orang yang berasal dari RPKAD/Koppasus untuk melakukan pengejaran hingga ke markas pemberontak sekalipun.

Raut wajah bersemangat tinggi berkobar di tiap-tiap personel prajurit RPKAD yang terpilih untuk melakukan pengejaran itu.

Iringan doa dari semua pasukan perdamaian menyertai ke 30 prajurit itu karena mereka akan berada di wilayah yang disebut "no man’s land" alias wilayah tak bertuan.

Itu merupakan daerah terlarang bagi pasukan PBB, karena di kawasan itu pasukan dari india pernah ditembaki sampai habis tak bersisa.

Tiga puluh pasukan RPKAD yang menyusup ke sarang pemberontak itu dipimpin seorang kapten dan 5 orang letnan.

Mereka menyamar layaknya penduduk setempat. Badan dan wajah digosok arang sehingga hitam menyerupai kulit penduduk setempat, ada juga personel yang berpakaian layaknya wanita membawa bakul sayuran.

Menurut informasi, pemberontak berkekuatan 3.000 orang bersenjata lengkap termasuk kendaraan lapis baja.

Personel RPKAD yang menyusup itu juga mendengar informasi bahwa penduduk setempat termasuk pemberontak sangat takut dengan apa yang dinamakan Hantu Putih.

Hantu Putih yaitu sosok berpakaian putih berbau bawang putih.

Ilustrasi Kontingen Pasukan Garuda yang bertugas di Lebanon
Ilustrasi Kontingen Pasukan Garuda yang bertugas di Lebanon (tniad.mil.id)

Hal ini dimanfaatkan personel RPKAD, dengan mengubah penampilan penyamaran. Mereka menggunakan jubah putih yang mengembang apabila ditiup angin.

Isyarat serangan diberikan oleh komandan pada saat waktu menunjukkan jam 24.00 malam.

Dengan sangat cepat para personel RPKAD yang menyerang menggunakan kapal yang dicat hitam-hitam menyerang melintasi danau Tanganyika yang tidak berada jauh dari "no man’s land".

Personel RPKAD yang sudah menyamar menjadi "Hantu Putih" ini atau yang dikenal oleh masyarakat setempat Spiritesses berhamburan keluar dari kapal. Mereka langsung menyerang para pemberontak.

Pemberontak yang kaget dan memercayai yang dihadapi adalah hantu, langsung hilang semangat dan ketakutan kocar-kacir.

Bahkan ada seorang pemberontak yang sedang membakar ayam, karena kaget, langsung melempar ayam dan mengenai seorang anggota RPKAD.

Selang 30 menit, pemberontak sekaligus keluarganya menyerah dan markasnya dapat dikuasai.

Puluhan anggota pemberontak tewas. Di RPKAD hanya satu orang yang cedera terkena pecahan proyektil granat.

Hasil ini langsung diinformasikan yang selanjutnya kontingen pasukan perdamaian yang lain datang untuk mengamankan daerah tersebut.

Sejak saat itu, anggota Kontingen Garuda III dikenal oleh orang-orang Kongo dengan julukan Les Spiritesses/Hantu Putih,.

Bisa dibayangkan, hanya dengan 30 orang RPKAD berhasil menawan 3.000 orang pemberontak bersenjata lengkap.

Hasil gilang gemilang ini bahkan mendapat pujian dari komandan UNOC letnan Kadebe Ngeso dari Ethopia, ia mengatakan bangga dengan dan takjub atas keberhasilan ke 30 anggota RPKAD Kontingen Garuda III dalam misi yang dianggap mustahil itu.

Sampai sekarang misi yang dilakukan oleh ke 30 anggota RPKAD itu masih menjadi legenda di Misi Pasukan Perdamaian PBB seluruh dunia.

Tentang Kopassus:

Pendirian aktif: 16 April-sekarang

  • TNI: Angkatan Darat
  • Tipe: Pasukan Khusus
  • Kemampuan spesialisasi: Anti-gerilya, operasi pengintaian khusus, peperangan unkonvensional, intelijen sabotase, anti-teror
  • Jumlah personel: dirahasiakan
  • Grup: terbagi 5 grup dengan spesialisasi masing-masing

Baca kisah militer pasukan elite TNI di Tribunjambi.com.

Subscribe Youtube

 Untung Pranoto Preman Terminal Insaf jadi Kopassus, Akhirnya Bisa Jadi Perwira Pasukan Elite TNI

 (VIDEO) Terdengar Suara Seperti Pesawat Jatuh, Tiba-tiba Kafe di Jalan Ringroad Runtuh Rata Tanah

 Bibir Atas Ranty Maria Mendadak Perot, Terciduk Dinner Bareng Mischa Chandrawinata

 Otak di Balik Kasus Mayat Tanpa Kepala di Koper Terungkap, Ini Sosok Sadis yang Bunuh Budi Hartanto

Editor: duanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved