Dinkes Batanghari Akui Penyakit Tak Menular Jadi Pembunuh Terbanyak di Batanghari, Salah Pola Hidup
dr Elfie Yennie, mengakui Penyakit Tidak Menular (PTM) yang diklaim penyebab kematian terbanyak di Indonesia juga banyak ditemukan di Batanghari.
Penulis: Rian Aidilfi Afriandi | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN - Kepala Dinas Kesehatan Batanghari, dr Elfie Yennie, mengakui Penyakit Tidak Menular (PTM) yang diklaim penyebab kematian terbanyak di Indonesia juga banyak ditemukan di Kabupaten Batanghari.
Bahkan, berdasarkan laporan dari tempat fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di Kabupaten Batanghari, PTM menduduki peringkat teratas dari sepuluh penyakit terbesar. Terutama seperti penyakit Hipertensi, Diabetes dan Kanker.
"Dan seperti data secara nasional penyebab kematian terbanyak itu saat ini masih PTM seperti penyakit jantung, stroke dan diabetes. Begitu juga yang terjadi di Batanghari," kata Kadinkes, dr Elfie Yennie ketika dikonfirmasi via ponsel, Rabu (3/4) kemarin.
Menurut dia, kenaikan prevalensi penyakit tidak menular ini berhubungan dengan pola hidup tidak sehat di tengah masyarakat. Misalnya kebiasan merokok, obesitas (kegemukan) dan pola makan yang berakibat akan tingginya kadar kolestrol.
Baca: Firasat Aneh Sebelum Imam Masjid di Jambi ini Dibunuh, Beli Selang Air dan Minta Keluarganya Kumpul
Baca: Didukung Astra Internasional, Bank Wakaf Mikro di Pondok Pesantren Asad Jambi Diresmikan
Baca: Penyerahan SK CPNS Kota Jambi Dijadwalkan Awal April, BKPSDM Pastikan Paling Lambat Minggu Depan
Baca: VIDEO: Pohon Tinggi di Kota Jambi Rawan Tumbang, Warga Diminta Waspada
dr Elfie Yennie sendiri menyebutkan, dalam mengendalikan peningkatan PTM di Kabupaten Batanghari, pihaknya telah berupaya melakukan langkah-langkah untuk menurunkan faktor resiko penyebab PTM.
"Kita di sini punya Pos Windu dan Pos Pembinaan Terpadu. Pos Windu ini kita punya sekitar 130 yang selalu aktif melakukan kegiatan setiap bulan dengan melakukan deteksi dini penyakit PTM. Begitu pula dengan Pos Terpadu," ungkapnya.
Diharapkan dr Elfie Yennie, dengan adanya upaya deteksi dini seperti pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, kolestrol dan sebagainya, dapat lebih memudahkan pihaknya dalam penanganan penyakit yang terjadi.
"Jadi, bila ditemukan kasus, pengobatan bisa dilakukan lebih cepat. Penderita itu bisa diarahkan pengobatan sesuai dengan standar. Tentunya, kita harapkan dengan demikian penyakit ini tidak banyak menimbulkan konflikasi," ujarnya.
Selain dengan melakukan deteksi dini, pihaknya juga melakukan beberapa langkah lain seperti melakukan program yang bekerja sama dengan BPJS dan JKN, di antaranya ada program rujuk balik dan program pengelolah penyakit kronis.
"Disamping itu, kita melakukan Gerakan Masyarakat Sehat (Germas). Jadi kita melakukan kampanye secara terus menerus dengan melibatkan stakeholder dan lintas sektor terkait. Di sini, kita membudayakan olah raga, tidak merokok dan menkonsumsi sayur dan buah. Kemudian kebiasaan mendeteksi dini penyakit-penyakit," tandasnya.
Baca: VIDEO: Viral! Detik-detik Pencurian dengan Modus Pecah Kaca Terekam CCTV
Baca: Pencairan Dana Desa 2019 Dipermudah, 39 Desa di Sarolangun Ajukan Pencairan Dana Desa Tahap Satu
Baca: Usai Bunuh Istrinya, Alex Sempat Servis Motor di Bengkel dan Ngobrol Soal Burung
Baca: Viral Video Luhut Binsar Beri Amplop ke Kyai Ponpes, GP Ansor Malang: Jangan Dipolitisir