Pekerja Sortir dan Lipat Surat Suara di Jambi Tak Mau Kerja Jika Bayaran Tak Naik

Sebagian pekerja lepas yang mendaftar untuk melipat suara merasa kecewa dengan nilai upah yang diberikan KPU Kota Jambi.

Pekerja Sortir dan Lipat Surat Suara di Jambi Tak Mau Kerja Jika Bayaran Tak Naik
capture
pelipatan surat suara di Kota Jambi. 

Laporan wartawan Tribun Jambi Hendri Dunan Naris

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI- Sebagian pekerja lepas yang mendaftar untuk melipat suara merasa kecewa dengan nilai upah yang diberikan KPU Kota Jambi. Mereka mengancam meninggalkan pekerjaan tersebut dihari kedua bila tidak mendapatkan kenaikan upah yang layak.

Hari pertama proses pelipatan surat suara di gedung Astaka berjalan tidak maksimal. Beberapa kali mati lampu membuat pekerjaan melipat menjadi terganggu. Selain itu, informasi tentang upah lipat dan sortir itu juga yang menjadi latarbelakang peserta tidak semangat melipat surat suara.

Beberapa pekerja yang ditemui Tribun mengaku mereka sangat kecewa dengan upah yang diberikan pihak KPU. Dalam hitung-hitungan mereka, upah Rp110/lembar jauh dibawah perkiraan mereka.

"Ini benar benar jauh di bawah standar upah buruh. Satu box hanya Rp 55 ribu," ungkapnya.

Baca: VIDEO: Tutorial Lengkap Cara Pengisian SPT Wajib Pajak Orang Pribadi Secara Online Via Handphone

Baca: Lelang Jabatan Eselon II, Tunggu Fasha-Maulana Genap Enam Bulan

Baca: 10 Tower Berdiri di Tanjabbar Tanpa Retribusi, Diskominfo Terganjal‎ Jawaban Kementerian

Baca: Komisi II DPRRI Cecar KPU dan Bawaslu Kemendagri Dicecar soal KTP-el WNA, Begini Reaksi KPU

Satu box berisi 500 lembar surat suara. Sehingga upah yang mereka terima hanya Rp 55 ribu. Nilai itu diakui beberapa peserta lebih kecil dari buruh.

"Kuli bangunan aja sehari Rp100 ribu. Ini jam kerjanya sama, hasilnya tidak ada," ungkapnya.

Peserta pria yang dimintai tanggapan oleh Tribun pun mengaku kecewa. Bahwa dirinya memiliki kerjaan lain. Namun karena berharap bisa mendapatkan Rp250 ribu untuk hari ini dari melipat surat suara, pekerjaan itu pun ditinggalkan. Namun, apa yang diharapkan jauh dari perkiraannya.

"Dulu pada tahun 2014 kami bisa dapat Rp250 per hari. Jadi kerja bisa semangat dengan nilai yang diharapkan," ungkapnya.

Bahkan, dirinya mengaku sudah mengatur strategi untuk bisa melipat dengan cepat. Namun, karena nilai yang diharapkan tidak seperti keinginannya maka dirinya mengaku tidak semangat.

"Kalau mau capek, dak harus di sini. Cari pekerjaan lain capek juga tapi hasilnya lebih baik," ungkapnya.

Peserta ibu-ibu yang ikut melipat juga mengaku kecewa. Sebab, biaya makan siang dan ongkos yang harus mereka keluarkan membuat mereka berpikir untuk datang kembali.

"Makan siang dengan kawan-kawan saja sudah habis Rp80 ribu. Ini hasilnya satu box hanya Rp55 ribu. Jadi untuk hari ini hitungannya tekor," tegasnya.

Dirinya bahwa mengaku tidak akan datang kembali. Sebab, untuk bisa ikut melipat, dirinya harus meninggalkan rumah dan anak-anaknya dengan harapan ada nilai lebih. Ternyata itu jauh di luar harapannya.

Baca: Kabar Gembira, Rp 7,4 Miliar Dana Kelurahan Siap Disalurkan ke Tanjab Barat

Baca: Dugaan Korupsi PDAM Batanghari, Musdar Dituntut 3,5 Tahun dan Uang Pengganti Rp 2,043 Miliar

Baca: Tak Terima Calegnya Dicoret dari DCT, Demokrat Lakukan Kajian Mendetail

Baca: Cair, Bupati Masnah Serahkan Bonus untuk Atlet Muarojambi

Penulis: dunan
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved