Jasa Ekspedisi Mengeluh Tarif Surat Muatan Udara, Ongkir Bakal Naik

“Klimaks kenaikannya sampai sekitar 100 persen total kenaikan tersebut. Ini dilakukan oleh semua maskapai, jadi beda-beda naiknya. Tarifnya berubah-ub

Jasa Ekspedisi Mengeluh Tarif Surat Muatan Udara, Ongkir Bakal Naik
IST
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Pengusaha jasa ekspedisi di Provinsi Jambi menjerit. Biaya operasional mereka bengkak lantaran adanya kenaikan tarif Surat Muatan Udara atau SMU oleh maskapai penerbangan.

Kenaikan tersebut menurut Suratman, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) dilakukan secara bertahap. Sehingga, kata dia, biaya operasional untuk jasa kiriman dan logistik ikut membengkak.

"Kami UMKM sebagai pengguna jasa keberatan dengan kenaikan biaya SMU yang dilakukan oleh beberapa airlines,” katanya pada Tribun Jambi, Rabu (9/1) lalu.

Baca: Mahasiswi Alami Pelecehan Seksual oleh Dosen

Baca: Kasus IUP Batu Bara di Sarolangun, Sekda: Kasus Itu Tumpang Tindih

Kata dia, beberapa maskapai penerbangan telah menaikkan tarif SMU sejak Oktober 2018. Penaikan itu awalnya bertahap dari 20 persen sampai 30 persen.

“Klimaks kenaikannya sampai sekitar 100 persen total kenaikan tersebut. Ini dilakukan oleh semua maskapai, jadi beda-beda naiknya. Tarifnya berubah-ubah," ujar Suratman.

Ia berharap pemerintah pusat mengevaluasi kenaikan biaya SMU tersebut. Menurut dia, malah pihaknya tidak mengetahui adanya kebijakan kenaikan tarif tersebut. "Setelah tarif naik baru dikonfirmasi melalui WA grup atau melalui pihak airlines itu sendiri di bandaranya," katanya.

Ia mengatakan, sejauh ini belum ada pertemuan atau musyawarah untuk membahas masalah ini antara kedua belah pihak. Untuk operasional, ia mengatakan tentunya ada peningkatan biaya untuk SMU dan hal tersebut membuat omzet pengiriman menurun.

"Karena biaya naik, kami otomatis menaikkan biaya ongkos kirim pada pelanggan atau relasi kami. Mereka juga bingung kok tiba-tiba naik terus, secara logika kami sebagai jasa pengguna sangat dirugikan, bahkan di bulan November sampai Desember pengiriman barang dari Jakarta dan dari seluruh Indonesia ini menurun karena terkendala hal tersebut," jelasnya.

Ika, seorang yang sering berbelanja di toko online, belum mengetahui adanya kenaikan tarif tersebut. Namun ia khawatir itu bisa berimbas pada naiknya ongkos kirim (ongkir) bila ia berbelanja online.

“Bisa-bisa naik nanti ongkirnya. Selama ini kurang perhatian juga sih dengan ongkir. Tapi kalau dari maskapainya sudah naik, imbasnya ke ekspedisi terus ya ke kita juga sebagai konsumen,” sebutnya.

Halaman
123
Penulis: fitri
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved