Mahasiswi Alami Pelecehan Seksual oleh Dosen

“Biasalah bapak itu memang genit dari dulu.” Demikian kutipan hasil wawancara Beranda Perempuan dengan seorang mahasiswi yang

Mahasiswi Alami Pelecehan Seksual oleh Dosen
TRIBUN JAMBI/NURLAILIS
Suasana pemaparan hasil studi Beranda Perempuan tentang pelecahan seksual di empat perguruan tinggi di Jambi, Rabu (9/1) 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Mahasiswi menjadi kelompok yang termasuk rawan menjadi korban pelecehan seksual. Ironisnya, perilaku itu dilakukan oleh teman hingga dosen.

Hasil studi yang dilakukan oleh  Beranda Perempuan pada 2018 di empat perguruan tinggi di Jambi memperlihatkan fenomena itu.

Beranda Perempuan Jambi merilis hasil studinya, bahwa teman laki-laki menjadi pelaku terbanyak yakni 73,21 persen. Selanjutnya disusul pacar 23,16 persen.

Adapun dosen sebagai pelaku hanya 3,6 persen.

Baca: Ratusan Personil Polresta Jambi, Diperiksa Bid Propam Polda, Ini Kata Kapolresta

Baca: Ditolak Istri Berhubungan Badan, Pria Ini Tunggu Istrinya Tidur Baru Aniaya, Tulis Surat Sudah Puas

Jenis tindakan pelecehan seksual tersebut mulai dari berupa chat gambar, pesan bernada seksual hingga tindakan verbal.

“Pelecehan dan kekerasan seksual dalam relasi pacaran biasanya terjadi karena tidak ada batas tegas antara laki-laki dan perempuan. Pelecehan dalam relasi pacaran tidak dihitung dan biasanya perempuan cenderung memaafkan jika terjadi pelecehan seksual terhadap pacar,” ungkap Kiboy  yang menangani Pengorganisasian dan Pendidikan Beranda Perempuan dalam pemaparan hasil studi tersebut kemarin (9/1) di sekretariat Himpunan Mahasiswa Pemerintahan STISIP NH.

Hasil studi ini dilakukan dengan menyebar 250 kuisioner di empat kampus di Jambi dan diperkuat dengan wawancara mendalam dengan korban juga pelaku. 

Selain Kiboy, turut menjadi pembicara Zarfina Yenti Ketua Pusat Studi UIN, Bernadeta Dian selaku staf Riset dan Kampanye Beranda Perempuan.

Faktor penyebab pelecehan seksual ini di antaranya adalah persepsi keliru tentang konsep pacaran yang menganggap tubuh perempuan milik laki-laki sepenuhnya, konsekuensi berpacaran, kemudahan mengakses konten negatif dan kebutuhan biologis.

Responden menjawab pelecehan terjadi karena ada faktor lain, adanya kekuasaan, kesenangan. Adapula yang tidak menjelaskan alasannya.

“Menurut catatan Komnas Perempuan belum semua perguruan tinggi di Indonesia memiliki aturan terhadap penanganan kasus oleh perguruan tinggi,” ungkap Bernadeta Dian.

Halaman
12
Penulis: Nurlailis
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved