Presiden Soekarno Jengkel Terhadap Soeharto yang Membangkang, Namun Mengalah karena Alasan Ini
Ada suatu peristiwa yang membuat Soekarno jengkel terhadap Soeharto, namun terpaksa mengalah.
Ada suatu peristiwa yang membuat Soekarno jengkel terhadap Soeharto, namun terpaksa mengalah.
TRIBUNJAMBI.COM - Banyak orang mengira Soekarno dan Soeharto terlibat konflik. Itu terlihat pada akhir masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Ada suatu peristiwa yang membuat Soekarno jengkel terhadap Soeharto, namun terpaksa mengalah.
Friksi antara kedua tokoh Indonesia ini memang tercium sejak dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret ( Supersemar), dimana Presiden Soekarno memberikan mandat untuk memulihkan keamanan.
Saat itu, Presiden Soekarno mengetahui bahwa Mayjend Soeharto membangkang perintahnya.
Meski jengkel, ini yang bikin Soekarno terpaksa mengalah.
Tentang Umar Wirahadikusumah
- Lahir: 10 Oktober 1924
- Wafat: Jumat, 21 Maret 2003
- Pangkat: Jenderal TNI (Purn)
- Karier militer: Kodam III/Siliwangi, Kodam V/Jaya, Pangkostrad (1967), KSAD (1969)
- Karier pemerintahan: Ketua BPK (1973), Wakil Presiden (1983)
Pada 1 Oktober 1965, ketika di Jakarta sedang dalam kondisi mencekam terkait aksi G30S, sekira pukul 09.00 WIB, para pengawal membawa Bung Karno ke Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta Timur.
Para pengawal itu terdiri atas sejumlah personel Cakrabirawa berpakaian preman di bawah pimpinan Kolonel Malwi Saelan.
Baca Juga:
Jadwal Lengkap dan Materi Debat Capres-Cawapres 2019, Ada 6 Nama Calon Moderator
Mengapa Soeharto Selalu Mencari Kopassus Berkaki Satu Ini? Pertempuran Habis-habisan di Papua
Bukan STNK, Tapi Kendaraan Ditilang hingga Tahapan Penghapusan Data Jika Tak Bayar Pajak
Postingan Super Pedas untuk Opick dari Dian Rositaningrum, di Balik Harta Gono Gini dan Hak Asuh
Kodam XVII Cendrawasih Beberkan Ada KKB di Nduga Bersembunyi jadi Masyarakat Sipil Hingga PNS
Ada juga sejumlah polisi anggota Datasemen Kawal Pribadi (DKP) di bawah pimpinan Kompol Mangil.
Tujuan pergi ke Lanud Halim, selain demi keselamatan Bung Karno, juga merupakan prosedur penyelamatan standar.
Dari Lanud Halim, Bung Karno bisa terbang ke mana saja menggunakan pesawat kepresidenan Jet Star.
Bung Karno tiba di gedung markas Komando Operasi (Koops) tidak sendirian, ada Jaksa Agung Muda Sunario, Brigadir Polisi EW Lasut Zulkifli Ibrahim dan para staf lainnya.
Di dalam gedung Koops, Bung karno kemudian ditemui oleh KASAU Marsekal Oemar Dhani dan Komodor Leo Watimena.

Tujuan utama Bung Karno sebenarnya ingin mengetahui kejadian apa yang sedang berlangsung di Jakarta pada 1 Oktober 1965 dan melakukan koordinasi.