Presiden Soekarno Jengkel Terhadap Soeharto yang Membangkang, Namun Mengalah karena Alasan Ini
Ada suatu peristiwa yang membuat Soekarno jengkel terhadap Soeharto, namun terpaksa mengalah.
Tapi dari sejumlah penjelasan yang diberikan Oemar Dani dan sejumlah komandan pasukan yang datang menyusul, termasuk para komandan pasukan TNI AD yang sedang mengepung Istana Negara, Bung Karno merasa belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan.
Demi mendapatkan informasi yang akurat, Bung Karno lalu memerintahkan Kombes Polisi Sumirat untuk memanggil semua Panglima Angkatan.

Kemudian Sumirat pergi keluar Halim dengan mengendarai jip yang dipinjamkan oleh Mangil.
Sekira pukul 11.30 WIB, sambil menunggu informasi, Bung Karno beristirahat di rumah Komodor Susanto yang merupakan pilot pesawat kepresidenan.
Ponsel Tersangka Penembak Perwira TNI Dibuka, Pelaku Terancam Dipecat dan 15 Tahun Penjara
UPDATE Jumlah Korban Tsunami Selat Sunda 430 Orang Meninggal, 1.495 Luka-luka dan 159 Hilang
Tidak berapa lama kemudian datang Sumirat yang melaporkan bahwa semua Panglima Angkatan sudah dihubungi dan menyatakan siap menghadap Bung Karno, kecuali Pangdam V Jaya Umar Wirahadikusuma.
Saat ditemui Sumirat, Umar Wirahadikusuma sedang di markas Kostrad Jalan Merdeka Timur bersama Pangkostrad Mayjen Soeharto.
Soeharto ternyata melarang Wirahadikusuma menghadap Bung Karno.
Waktu itu bilang, “Sampaikan kepada Bapak Presiden, mohon maaf Pangdam V Jaya tidak dapat menghadap dan karena saat ini Panglima AD (Achmad Yani) tidak ada di tempat, harap semua instruksi untuk AD disampaikan melalui saya, Panglima Kostrad.”
Ketika mendengar pelarangan Pangdam V Jaya tidak boleh menghadap Bung Karno karena atas perintah Soeharto, Bung Karno tampak tidak senang.
Meskipun secara garis komando, ketika KASAD tidak ada di tempat, Pangkostrad secara otomatis boleh mengambil alih garis komando tapi perintah Presiden sebagai Panglima Tertinggi tetap harus dipatuhi.
Para Panglima Angkatan yang hari itu hadir menghadap Bung Karno antara lain Marsekal Oemar Dhani, Laksamana Martadinata, Jenderal Sutjipto Judodihardjo, Jenderal Sutardhio, Leimena, dan Brigjen Sabur.
Ketika para Panglima Angkatan yang menghadap Bung Karno kemudian mulai membahas peristiwa yang sedang terjadi pada 1 Oktober 1945, para perwira menengah pengiring para Panglima Angkatan itu ada yang duduk-duduk di rerumputan sambil mengobrol.
Ada yang main catur dan ada juga yang sibuk mendengarkan siaran RRI lewat radio transistor.
Jika diamati suasana di sekitar rumah dinas Komodor Udara Susanto malah tampak santai dan sama sekali tidak mencerminkan suasana ketegangan.
Tapi suasana betul-betul berubah tegang ketika tepat pukul 12.00 WIB.