Harga Sawit Terus Turun, Sekda Muarojambi Rencanakan Ganti dengan Kopi
Penurunan harga kelapa sawit di Kabupaten Muarojambi membuat masyarakat resah dan mengeluh.
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Teguh Suprayitno
Laporan Wartawan Tribun Jambi Samsul Bahri
TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI- Penurunan harga kelapa sawit di Kabupaten Muarojambi membuat masyarakat resah dan mengeluh. Pasalnya harga kelapa sawit kian menurun dari harga normal yang biasanya bisa di atas seribu rupiah.
Hal ini pun mendapat tanggapan dari Sekda Kabupaten Muarojambi, M Fadhil Arief. Ia menghimbau kepada masyarakat untuk bisa mengalihkan paradigma untuk menanam kelapa sawit.
“Kebanyakan masyarakat itu malas untuk melakukan replanting sawit, sedangkan buah tandan sawit tentu kualitasnya semakin menurun. Jadi mindset paradigma masyarakat ini yang harus diubah,” jelasnya.
Lebih lanjut Ia juga mengatakan bahwa perlu ada pola untuk mengangti komoditas di lahan gambut, seperti di daerah Sungai Bahar. Dikatakan sekda bahwa hal itu tengah dikoordinasikan agar masyarakat bisa menanam tanaman lain seperti padi atau kopi.
"Restorasi gambut, itu yang masih kita koordinasikan. Pola untuk mengganti komoditas di lahan gambut, itu masih kita koordnasikan, misalnya padi atau kopi," jelasnya.
Baca: Ditinggal Temannya Kabur, Sopir Diciduk Polisi Gara-gara Sabu
Baca: 5.000 Warga Kota Jambi Belum Rekam e-KTP, Dukcapil Kota Jambi Minta Lurah dan RT Aktif
Baca: Belum Sempat Cicipi, Dua Pemuda Tanjab Timur Ditangkap Polisi Duluan
Baca: Kontrak Kerja Telah Habis, Pembangunan Jembatan Air Hitam Laut Senilai Rp 33 Miliar Tak Rampung
Baca: 26 Ribuan Warga Tanjab Timur Hidup Miskin, Susenas BPS Klaim Angka Kemiskinan Turun
Sekda mengatakan, pemerintah Kabupaten Muarojambi sudah memiliki program bantuan baik bibit ataupun alat untuk pertanian. Sehingga masyarakat tidak lagi memikirkan hal-hal tersebut, karena sifatnya adalah bantun.
"Kenapa pertanian seperti itu kita sudah ada program bantuan. Jadi masyarakat mudah dan bisa manfaatkan itu, kita ada bantuan bibit, kemudian pupuk juga ada, alat kita juga ada, jadi semuanya sudah tercover," katanya.
"Regulasi jangka pendek itu ya kita dorong kemasyarakat untuk replanting sawit, dan itu sudah berjalan. Kita koordinasikan ke camat, kita minta pabrik terdekat untuk mengambil buah sawit," pungkasnya.