Senin, 8 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Dampak Dolar Naik ke Jambi

Dolar Rp18 Ribu, Nasib Perajin Tempe Kota Jambi Ditentukan 15 Hari ke Depan

“Seratus persen kedelai impor dari Amerika Latin. Tidak ada kedelai lokal. Belinya pakai dolar AS, jadi kalau dolar naik, perajin tempe pasti kena"

Tayang:
Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: asto s
Tribunjambi.com/Syrillus Krisdianto
TEMPE JAMBI - Produsen dan pedagang di kawasan Rajawali, Kota Jambi. Pelaku usaha tempe terkena dampak Dolar AS tembus Rp18.000. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Untuk kesekian kali, lonjakan nilai tukar Dolar Amerika Serikat yang menembus Rp18 ribu mulai mengguncang sektor usaha kecil di Jambi.

Tekanan paling terasa menghantam pelaku UMKM pangan rakyat, khususnya perajin tempe di kawasan Rajawali, Kecamatan Jambi, Timur, Kota Jambi, Kamis (4/6/2026).

Di Kota Jambi, para perajin tempe bersiap menghadapi lonjakan harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksi.

Ketergantungan penuh pada kedelai impor membuat usaha tempe berada di garis depan dampak fluktuasi dolar AS.

Fauzan Mahbub, perajin tempe di Jalan Fatahillah, RT 23, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur, menegaskan bahwa seluruh bahan baku tempe berasal dari kedelai impor.

“Seratus persen kedelai impor dari Amerika Latin. Tidak ada kedelai lokal. Belinya pakai dolar AS, jadi kalau dolar naik, perajin tempe pasti kena,” ujar Fauzan kepada Tribun Jambi.

Menurut pria yang akrab disapa Pakde Fauzan itu, produksi kedelai dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Upaya swasembada kedelai pernah dicoba pemerintah, namun hingga kini belum berhasil menopang industri tempe dan tahu rakyat.

Kenaikan dolar AS langsung memicu lonjakan harga kedelai.

ILUSTRASI mata uang rupiah pecahan seratus ribuan.
ILUSTRASI mata uang rupiah pecahan seratus ribuan. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp11 ribu per kilogram kini merangkak menjadi Rp12 ribu per kilogram, atau naik sekitar 10-20 persen.

“Sejak Agustus 2025 harga kedelai sudah terus naik. Dulu masih Rp9 ribuan per kilo, sekarang sudah Rp12 ribu. Kalau dihitung sampai Juni 2026, kenaikannya bisa mencapai 60 persen,” ungkapnya.

Efek 15 Hari Baru Terasa

Pakde Fauzan menjelaskan, dampak kenaikan dolar tidak langsung dirasakan saat nilai tukar melonjak.

Efeknya baru terasa sekitar 15 hari kemudian, seiring habisnya stok kedelai lama.

“Biasanya perajin masih punya stok untuk dua pekan. Dampak dolar naik baru benar-benar terasa saat harus beli bahan baku dengan harga baru,” katanya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved