Rabu, 20 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Dampak Dolar Naik ke Jambi

Produsen Tempe Tahu di Jambi Ketar Ketir Dolar Menguat, Terungkap Bahan Bakunya

Selama ini, produsen tempe tahu di Jambi mengandalkan kedelai impor lantaran produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Tayang:
Penulis: Syrillus Krisdianto | Editor: asto s
Tribunjambi.com/Syrillus Krisdianto
TERIMBAS DOLAR - Produsen dan pedagang tempe tahu di kawasan Rajawali, Kota Jambi mulai waswas nilai tukar dolar naik. Pasalnya, bahan baku kedelai berasal dari kawasan Amerika Selatan. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus Rp17 ribu membuat para produsen tempe dan tahu di Kota Jambi mulai ketar-ketir. Pasalnya, bahan baku utama berupa kacang kedelai masih bergantung pada pasokan impor dari kawasan Amerika Selatan.

Salah satu produsen tempe dan tahu di Jalan Fatahillah, RT 23, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur, Fauzan Mahbub, menuturkan hingga kini stok bahan baku masih tersedia dan distribusi kedelai belum mengalami gangguan.

Namun, ia belum bisa memastikan kondisi harga dalam beberapa hari ke depan setelah nilai tukar dolar AS terus mengalami kenaikan.

"Untuk stok masih aman. Tapi kita belum tahu dua sampai tiga hari ke depan bagaimana harga bahan bakunya," kata Fauzan saat ditemui Tribun Jambi di rumah produksinya.

Biaya Produksi Naik

Menurut Fauzan, kenaikan dolar AS sangat mempengaruhi biaya produksi tempe dan tahu, karena kedelai yang digunakan berasal dari luar negeri.

Selama ini, kata dia, produsen di Jambi mengandalkan kedelai impor lantaran produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.

“Pokoknya daerah Amerika dan sekitarnya lah. Tidak pure (murni) dari Amerika Serikat,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kedelai yang digunakan berasal dari sejumlah negara di Amerika Selatan seperti Argentina dan Brasil.

Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat para pengrajin tempe dan tahu sulit menghindari dampak fluktuasi kurs dolar terhadap harga produksi.

Menaikkan Harga Jual

Dalam empat bulan terakhir saja, harga kedelai terus mengalami kenaikan.

Fauzan menyebut pada Desember 2025 harga kedelai masih berada di angka Rp9 ribu per kilogram. 

Namun, pada April 2026, harga melonjak menjadi sekitar Rp10.900 hingga Rp11 ribu per kilogram.

Kenaikan harga bahan baku itu akhirnya memaksa produsen menaikkan harga jual. Untuk tahu, harga yang sebelumnya Rp650 per potong kini naik menjadi Rp700 per potong.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved