Dampak Dolar Naik ke Jambi
Produsen Tempe Tahu di Jambi Ketar Ketir Dolar Menguat, Terungkap Bahan Bakunya
Selama ini, produsen tempe tahu di Jambi mengandalkan kedelai impor lantaran produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Penulis: Syrillus Krisdianto | Editor: asto s
Sementara harga tempe naik dari Rp7 ribu menjadi Rp8 ribu per potong.
"Karena harga bahan baku naik sekitar Rp2 ribu atau hampir 20 persen, mau tidak mau harga jual juga ikut naik," jelasnya.
Dalam sehari, rumah produksi milik Fauzan mampu mengolah sekitar 500 kilogram tahu.
Sedangkan produksi tempe mencapai rata-rata 350 kilogram per hari yang dikelola bersama anggota keluarganya.
“Kalau tempe itu usaha keluarga, dijalankan sama adik saya,” katanya.
Fauzan berharap pemerintah dapat mencari solusi jangka panjang melalui swasembada kedelai agar produsen tidak terus bergantung pada impor dan terpengaruh gejolak dolar AS.
“Kalau bisa, ya, swasembada kedelai. Tapi pemerintah sudah sering mencoba dan sampai sekarang belum berhasil,” imbuhnya.
120-an Produsen di Kota Jambi
Dia juga menyebut jumlah produsen tempe dan tahu di Kota Jambi cukup banyak.
Diperkirakan terdapat sekitar 120 kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari usaha tersebut.
Di kawasan Kelurahan Rajawali saja terdapat sekitar 40 kepala keluarga produsen tempe dan tahu. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)
Baca juga: Petani Sawit Jambi Waswas Dolar Menguat, Pupuk Bisa Naik Ratusan Ribu
Baca juga: Al Haris Ungkap Rencana Jalur Kereta Api Batu Bara Jambi Rute Bungo-Sarolangun-Kemingking
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Tahu-dan-tempe.jpg)